Pernyataan Trump AS Akan 'Menjalankan' Pemerintahan Venezuela Tuai Kecaman Dunia
Redaksi - Sunday, 04 January 2026 | 12:38 PM


salsabilafm.om – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS akan “menjalankan” pemerintahan Venezuela hingga terjadi transisi politik. Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah pasukan AS melancarkan serangan ke Caracas dan mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Dalam konferensi pers pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat, Trump mengatakan pemerintah AS akan mengelola Venezuela hingga proses transisi yang dinilai aman dapat dilakukan.
“Kami akan menjalankan negara itu sampai tiba saatnya kami bisa melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” kata Trump, dikutip Al Jazeera.
Trump menegaskan, AS tidak ingin mengulangi dinamika politik yang selama ini terjadi di Venezuela.
“Kami tidak ingin terlibat dengan menunjuk orang lain untuk berkuasa, dan kami tidak ingin kembali ke situasi yang sama seperti yang telah berlangsung selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Pemerintahan Trump sebelumnya melancarkan serangan ke Caracas pada Sabtu dini hari waktu setempat, setelah berbulan-bulan meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Maduro.
Tekanan tersebut mencakup penyitaan kapal tanker minyak Venezuela di lepas pantai serta serangan terhadap kapal yang dituding terlibat penyelundupan narkoba di kawasan Karibia, yang menuai kecaman luas karena dinilai sebagai tindakan di luar proses hukum.
Washington menuduh Maduro, yang berkuasa sejak 2013, memiliki kaitan dengan kartel narkoba. Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Maduro, yang menilai AS berupaya menggulingkannya demi menguasai cadangan minyak Venezuela.
Trump mengklaim Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah dibawa ke AS dan akan dipindahkan ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait narkoba.
Perusahaan Minyak AS Disebut Akan Masuk Venezuela
Dalam konferensi pers yang sama, Trump juga menyatakan perusahaan minyak besar AS akan segera masuk ke Venezuela untuk memulihkan sektor energi negara tersebut.
“Perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar akan masuk ke Venezuela untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” kata Trump.
Dia mengklaim langkah tersebut akan membawa kesejahteraan bagi rakyat Venezuela. “Apa yang kami lakukan akan membuat rakyat Venezuela menjadi kaya, mandiri, dan aman,” ujarnya.
Dikecam Internasional
Langkah AS tersebut memicu kecaman dari berbagai pihak, mulai dari pakar hukum internasional, pemimpin dunia, hingga politisi di dalam negeri AS.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
“Menyerang negara lain dengan melanggar hukum internasional secara nyata adalah langkah pertama menuju dunia yang penuh kekerasan, kekacauan, dan ketidakstabilan, di mana hukum yang berlaku hanyalah hukum pihak terkuat,” tulis Lula di platform X.
Sementara itu, Ben Saul, Pelapor Khusus PBB untuk HAM dan kontra-terorisme, mengecam tindakan AS sebagai penculikan ilegal.
“Saya mengutuk agresi ilegal Amerika Serikat terhadap Venezuela,” tulis Saul, sembari menyebut penangkapan Maduro sebagai tindakan penculikan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyampaikan keprihatinan mendalam. Melalui juru bicaranya, PBB menilai langkah AS sebagai preseden berbahaya.
“Sekretaris Jenderal menegaskan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Dia sangat prihatin karena aturan hukum internasional tidak dihormati,” bunyi pernyataan tersebut.
Venezuela Tegas Menolak
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez merespons serangan AS dengan pernyataan tegas.
“Kami tidak akan bernegosiasi; kami tidak akan menyerah. Kemerdekaan Venezuela tidak untuk dinegosiasikan,” ujarnya, seraya menyerukan rakyat untuk tetap tenang dan bersatu.
Trump juga mengklaim Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berbicara dengan Delcy Rodriguez, Wakil Presiden Venezuela, yang menurut Trump telah dilantik sebagai presiden sementara.
“Dia baru saja dilantik sebagai presiden. Dia berbicara lama dengan Rubio dan berkata, ‘Kami akan melakukan apa pun yang kalian perlukan’,” kata Trump.
Namun klaim tersebut dibantah Rodriguez dalam konferensi pers di Caracas. “Kami menuntut pembebasan segera Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Satu-satunya presiden Venezuela adalah Nicolas Maduro,” tegasnya.
Dinilai Berisiko Tinggi
Hingga kini, belum jelas bagaimana dan berapa lama AS berencana “menjalankan” Venezuela. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut berisiko tinggi.
Harlan Ullman, mantan perwira Angkatan Laut AS, memperingatkan bahwa rencana tersebut dapat berbalik merugikan Washington.
“Gagasan Amerika mengambil alih Venezuela akan meledak di wajah kita,” ujarnya.
“Kalau Trump mengatakan ‘kami akan menjalankan negara itu’, kita bahkan belum mampu menjalankan Amerika dengan baik. Bagaimana bisa menjalankan Venezuela?” tambahnya.
Ullman menilai AS tidak memiliki rencana matang. “Sebuah negara sangat kompleks. Kita tidak memiliki pengetahuan, pemahaman, maupun logistik untuk melakukan ini,” pungkasnya. (*)
Next News

Truk Fuso Terperosok di Pertigaan Tangkel Bangkalan, Lalu Lintas Terganggu
6 hours ago

Kemendikdasmen Terbitkan SE Pembelajaran bagi Satuan Pendidikan Terdampak Bencana
6 hours ago

Gegara Hand Traktor Hilang, Puluhan Alsintan di Disperta KP Sampang Tak Tersalurkan
8 hours ago

Instruksi Wabup Sampang di Lokasi Banjir: Percepat Distribusi Logistik, Keselamatan Rakyat yang Utama!
in 17 minutes

Napak Tilas Restu Pendirian NU: Longmarch dari Bangkalan, Penyerahan Simbol di Tebuireng
a day ago

Peringati 1 Abad NU, Komite Dzurriyah Gelar Napak Tilas Isyarat Pendirian NU
a day ago

Kawanan Monyet Serang Ladang Jagung, Petani di Sumenep Merugi
a day ago

PDIP Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, Guntur Romli: Pengebirian Hak Politik Rakyat
a day ago

Banjir Luapan Kali Kamoning Rendam 3 Desa di Sampang, 348 KK Terdampak
21 hours ago

Indonesia Serukan Perdamaian Usai Serangan AS ke Venezuela dan Penangkapan Presiden Maduro
21 hours ago





