Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Mengapa Kita Suka Drama? Daya Tarik Cerita yang Tak Pernah Habis

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:55 PM

Background
Mengapa Kita Suka Drama? Daya Tarik Cerita yang Tak Pernah Habis
Mengapa Kita Suka Drama? Daya Tarik Cerita yang Tak Pernah Habis ( Istimewa/)

Mengapa Orang Suka Drama: Kisah dan Kebohongan yang Mengikat Selera Kita

Siapa yang tidak pernah menonton drama favoritnya sambil memegang jendela kaca, memancing mata air, atau menjerit sambil menebak siapa yang akan diexclude? Drama – baik yang tayang di TV, streaming, maupun film, punya daya tarik yang bikin kita betah terjebak dalam alur cerita. Tapi kenapa sih, drama bisa membuat kita terbuai sampai mata kita kering? Di balik set drama, ada beberapa faktor yang melingkar dan menumbuhkan ketertarikan yang tak terhentikan.

1. Emosi yang Disajikan

Drama memang tak lengkap tanpa emosi. Dari cinta, persahabatan, konflik, hingga pencarian identitas, semua diolah dalam satu kisah. Emosi ini mirip seperti roller coaster: naik turun, menegang, kemudian keluar dalam gelak tawa atau air mata. Siapa yang tidak suka naik-nya? Kita, manusia, pun memiliki kebutuhan untuk memproses perasaan lewat cerita. Menonton drama memungkinkan kita untuk merasakan apa yang tidak kita rasakan langsung, tapi masih dalam batasan safe zone.

2. Identifikasi dan Empati

Kisah drama seringkali menghadirkan karakter-karakter yang mengalami situasi mirip dengan kehidupan kita. "Biar saya jadi orang tua?" "Buat siapa saya punya rindu?" Tadi kali lagi nonton drama, karakter yang suka melamar pasangan lewat pesan teks mirip cara kita memikat hati di era digital. Kita jadi merasa, "Ya ampun, ini memang hidupku."

3. Alasan Sosial dan Budaya

Di zaman sekarang, drama bukan sekadar hiburan. Drama menjadi fenomena budaya pop. Kumpulan meme, klip, dan "reaction" sosial media tentang plot twist menambah hype. Kita suka berbagi rekomendasi drama dengan temen: "Lo tau belum? Drama ini super gokil!" Sehingga, nonton drama menjadi kegiatan sosial yang mengikat kelompok.

4. Kesempatan Escape

Gak hanya hiburan, drama juga menjadi alat escape. Dalam drama, kita bisa terjun ke dunia yang berbeda, tempat yang penuh drama, drama, dan lagi drama. Saat stres atau lelah, nonton drama bisa jadi "therapy" non resmi. "Akhirnya gue bisa santai, ngerasa kaya ngelawan drama itu, gue merasa lebih baik."

5. Plot Twists & Ketidakpastian

Drama biasanya punya banyak twist. Kita nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. "Eh, ini yang belum gue duga!" Ketidakpastian ini memicu rasa penasaran, membuat kita terus menonton. Seperti bermain game: setiap level, ada clue baru. Drama memuaskan rasa ingin tahu manusia.

6. Studi Kasus – Kualitas Produksi & Visual

Dengan teknologi yang semakin maju, kualitas produksi drama pun naik. Visual yang menawan, musik yang memukau, dan sinematografi yang memanjakan mata memberi nilai estetika. "Ini visualnya keren banget, seperti film Hollywood!" Jadi, drama bukan cuma cerita, tapi juga pengalaman visual.

7. Faktor Generasi

Generasi milenial dan Z (Gen Z) cenderung lebih terbuka pada format naratif yang kompleks. Mereka menghargai karakter multi-dimensional, plot non-linear, dan dialog yang 'ngena'. Drama menyesuaikan diri dengan tren generasi ini. "Gaya bercerita ini beda banget dari drama lama, lebih realistis dan 'real'."

8. Konten yang Mudah Diserap

Drama biasanya terdiri dari episode pendek (sekitar 30–45 menit). Kita bisa menyusunnya di sela-sela jadwal kerja atau belajar. Ini memudahkan konsumsi konten. "Meskipun padat, satu episode cukup buat ngisi waktu luang."

9. Pengaruh Media Sosial

Setiap kali ada drama baru, media sosial jadi arena perdebatan. Kita berbagi prediksi, meme, dan fanart. Hal ini meningkatkan rasa kepemilikan dan partisipasi dalam komunitas. "Ini saya, ini saya, ini saya. Drama ini memang milik kita!"

10. Self-Identity & Aspirasi

Drama memberikan contoh karakter yang berjuang, berusaha, dan berhasil. Ini memotivasi pemirsa untuk berpikir tentang hidup mereka sendiri. "Saya ingin seperti karakter ini, lebih sukses, lebih mandiri." Jadi drama menjadi sumber inspirasi.

Kesimpulannya, drama memiliki "magnet" yang tak terelakkan. Dari emosi, identifikasi, sampai kebahagiaan escape, semua berperan. Jika kita menilai secara logis, drama menawarkan kombinasi kompleksitas emosional, visual, dan sosial. Dan bila kita menyadari itu, kita mungkin akan lebih memahami kenapa drama bisa mencuri hati, bahkan hidup kita.

Maka, ketika lagi pengen nonton drama, jangan takut buat terjun ke alur cerita. Di sana, kamu akan menemukan bahwa drama bukan sekadar hiburan – ia adalah jembatan yang menghubungkan antara dunia nyata dan fantasi, antara dirimu dan karakter-karakter yang diisi penuh warna. Jadi, semoga kamu menemukan drama yang membuat hati berseri-seri, dan tetap ingat: drama juga tentang belajar dan bersenang-senang. Selamat menonton!