Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Hustle Culture: Antara Produktivitas dan Kehilangan Makna Hidup

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:40 PM

Background
Hustle Culture: Antara Produktivitas dan Kehilangan Makna Hidup
Hustle Culture: Antara Produktivitas dan Kehilangan Makna Hidup ( Istimewa/)

Hustle Culture: Dari Pekerjaan hingga Kehidupan Sehari‑hari

Bayangkan pagi yang masih sunyi, kamu masih mengangguk pada alarm yang tiba-tiba berbunyi. Sambil masih berbaring, kamu sudah memikirkan rencana hari itu: meeting di kantor, menulis email, update media sosial, dan tentu saja, "nambahin" jam kerja demi hasil yang lebih maksimal. Inilah dunia hustle culture – suatu pola kerja yang memfokuskan diri pada produktivitas tanpa henti. Tak jarang, istilah ini dipakai untuk menggambarkan orang-orang yang rela menaruh segala tenaga, waktu, dan emosi untuk mencapai tujuan tertentu, baik itu karier, bisnis, atau bahkan status sosial.

Hustle culture sudah lama hadir di berbagai industri. Di dunia startup, misalnya, "burnout" dan "grind" menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan menuju sukses. Di media sosial, kamu dapat menemukan foto orang yang sedang bekerja sambil minum kopi di kafe, captionnya "rise and grind", atau "work hard, play harder." Semua itu menandakan semangat untuk terus melangkah, meski kadang terasa melelahkan. Namun, apa sebenarnya makna di balik istilah tersebut? Dan bagaimana dampaknya bagi generasi muda di Indonesia?

Asal Usul dan Penyebaran

Konsep hustle sendiri berakar pada budaya kerja keras yang sudah ada sejak lama. Di Jepang, misalnya, budaya salaryman memperlihatkan komitmen tinggi terhadap pekerjaan. Namun, istilah "hustle" yang kini banyak digunakan, berasal dari budaya Amerika, khususnya komunitas Black American yang mengadopsi kata tersebut untuk menggambarkan usaha keras demi memperoleh kemakmuran. Seiring berjalannya waktu, hustle culture menyebar ke seluruh dunia melalui internet, influencer, dan cerita sukses personal yang diangkat sebagai motivasi.

Di Indonesia, media digital seperti Vice, Mojok, dan Kumparan sering menulis artikel tentang fenomena ini. Mereka menyoroti bagaimana hustle culture memengaruhi perilaku kerja, pola konsumsi, dan keseimbangan hidup. Gaya bahasa yang ringan dan cerita yang bersahabat membuat pembaca muda merasa lebih dekat dengan topik ini.

Manfaat dan Risiko

Manfaatnya memang terasa jelas: lebih banyak waktu untuk belajar, lebih banyak peluang, dan kadang, lebih banyak uang. Untuk banyak orang, hustle menjadi cara mempercepat naiknya karier atau menutup celah keuangan. Mereka belajar multitasking, mengatur prioritas, dan memanfaatkan teknologi untuk efisiensi. "Jangan biarkan waktu menyesal" menjadi motto yang sering diingat. Tetapi, bukan berarti semuanya positif.

Dari sisi kesehatan mental, hustle culture bisa menimbulkan stres kronis. Ketika kamu terus menekan batasan fisik dan mental, risiko burnout meningkat. Ada pula risiko bahwa "produktivitas" menjadi penilai utama diri seseorang, mengaburkan nilai-nilai lain seperti kebahagiaan dan hubungan sosial. "If you're not working, you're not living" menjadi narasi yang mengikis artinya hidup bukan sekadar mengejar uang.

Selain itu, di dunia digital, tekanan untuk selalu "on" bisa membuat kamu terjebak dalam lingkaran feedback loop. Kamu mengupdate profil media sosial, menanggapi komentar, dan berusaha tampil lebih baik. Semua itu menambah beban emosional yang tidak selalu terlihat.

Bagaimana Memilih Cara Berhitung

Hustle culture tidak berarti "kerja tanpa henti". Lebih tepatnya, ini tentang menemukan keseimbangan. Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba:

  • Prioritaskan waktu: Bukan hanya jam kerja, tapi juga waktu luang yang sehat. Pastikan kamu tidur cukup, makan dengan baik, dan tetap punya waktu untuk keluarga atau teman.
  • Berpikir jangka panjang: Jangan hanya menumpuk jam kerja semata. Tinjau kembali tujuan hidupmu: apa yang ingin dicapai? Bagaimana hustle culture membantu atau menghalangi pencapaian itu?
  • Mindful usage teknologi: Batasi notifikasi media sosial, hindari scrolling yang tidak produktif. Gunakan timer atau teknik Pomodoro untuk tetap fokus.
  • Mendefinisikan kesuksesan sendiri: Jangan terjebak dalam standar sosial. Kesuksesan bisa berarti kebahagiaan pribadi, hubungan baik, atau pencapaian kecil.
  • Berbagi cerita: Mengungkapkan tantangan dan kemenangan kepada teman atau mentor dapat memberi perspektif baru.

Contoh Nyata: Hidup Di Tengah Hustle

Contoh nyata hustle culture di Indonesia dapat dilihat pada para digital nomad yang bekerja dari kafe atau ruang coworking. Mereka memanfaatkan fleksibilitas jadwal untuk mengejar peluang baru. Ada juga karyawan startup yang memegang dua pekerjaan: pekerjaan utama dan proyek sampingan, dengan harapan akhirnya bisa mengembangkan usaha sendiri. Sementara, mahasiswa seringkali mengerjakan tugas kuliah sambil mengerjakan proyek freelance.

Namun, cerita bukan hanya tentang kemenangan. Ada kisah-kisah dimana seseorang harus mengakui kelelahan mentalnya, berhenti dari hustle yang terlalu keras, dan belajar kembali bagaimana menikmati hidup di luar pekerjaan. Cerita-cerita ini menjadi pengingat bahwa hustle culture bisa menjadi pelajaran berharga, bukan akhir dari segalanya.

Kesimpulan: Hustle Culture, Bukan Sekadar Tren

Hustle culture memang memikat karena menawarkan janji kesuksesan cepat. Tapi, di balik kemewahan dan tekanan itu, ada realitas yang harus dihadapi. Bagaimana kamu menyeimbangkan antara kerja keras dan kebahagiaan? Apakah kamu masih merasa tertekan oleh "tugas" yang tak pernah selesai? Sebenarnya, hustle lebih baik bila dijadikan alat, bukan penghalang. Dengan cara itu, kamu bisa tetap kreatif, produktif, dan tetap hidup dengan penuh arti.

Jadi, kalau kamu merasa terdorong oleh hustle culture, coba lakukan evaluasi jujur. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah ini sesuai dengan nilai dan tujuan saya?" Dan ingat, hidup itu bukan hanya tentang berapa jam kerja, melainkan tentang bagaimana kita mengisi waktu itu. Selamat mencoba!