Budaya Malu Bertanya: Mengapa Kita Terlalu Takut Bertanya?
Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:45 PM


Budaya Malu Bertanya: Mengapa Kita Terlalu Takut Tanyakan?
"Aku nanya, ya?" – sapaan ini biasanya saja dibungkus dengan tatapan malu, seolah setiap kata yang keluar dari mulut bisa menciptakan kerusuhan. Di Indonesia, "malu bertanya" sudah menjadi budaya yang melekat, baik di rumah, sekolah, maupun kantor. Tetapi, apa sebenarnya penyebabnya? Dan bagaimana kita bisa mengubahnya menjadi kebiasaan yang lebih sehat?
Asal Usul Budaya Malu Bertanya
Alasan paling sederhana, kita dibesarkan dengan prinsip "tidak boleh memaksa orang lain" dan "jaga muka". Dalam budaya Jawa, misalnya, ada ungkapan "makan taksi, pakai taksi, taksi, taksi" yang mengingatkan kita untuk tetap sopan dan tidak memaksakan diri. Namun, di balik keindahan bahasa ini, tersembunyi tekanan agar orang dewasa dan guru menjadi sumber pengetahuan tanpa pernah dipertanyakan.
Di era masa lalu, ketika akses ke buku atau internet sangat terbatas, pertanyaan dianggap sebagai tanda ketidakpahaman. Jadi, yang bertanya dianggap kurang pintar atau terlalu ribet. Kebiasaan ini tertanam, sehingga masih terlihat sampai hari ini, meskipun kini teknologi membuat segala informasi mudah dijangkau.
Mereka yang Terkena: Sekolah, Keluarga, dan Tempat Kerja
- Di Sekolah: Siapa yang tidak pernah mengalami kejadian "saya tidak paham, tapi takut tanya" di ruang kelas? Guru sering kali menganggap semua siswa sudah bisa mengikuti materi tanpa bantuan. Hasilnya, banyak siswa yang menunda pertanyaan hingga terlambat memahami konsep yang penting.
- Di Rumah: Ibu yang selalu menyatakan, "Aku tahu apa yang harus kau lakukan." Terkadang, hal sederhana seperti meminta klarifikasi tentang pekerjaan rumah bisa menimbulkan rasa tidak nyaman.
- Di Tempat Kerja: Di kantor, "malu bertanya" sering kali diartikan sebagai "tidak cukup mandiri". Akibatnya, karyawan junior merasa takut menanyakan hal-hal dasar, sehingga menurunkan produktivitas dan menimbulkan kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.
Konsekuensi Nyata dari "Malu Bertanya"
Jadi, apa yang terjadi ketika kita menunda atau menghindari pertanyaan? Berikut beberapa dampak negatifnya:
- Ketidaktahuan yang menumpuk – hal sederhana yang salah dipahami bisa berkembang menjadi kebiasaan yang sulit diubah.
- Meningkatnya stres – menunggu sampai akhir pekan atau hari libur untuk mengecek jawaban bisa menambah beban mental.
- Penurunan kreativitas – ketika kita tidak bertanya, kita kehilangan kesempatan untuk melihat masalah dari perspektif baru.
- Hubungan interpersonal yang rapuh – orang yang sering menunda pertanyaan dapat membuat rekan kerja atau guru merasa bahwa mereka tidak cukup menghargai kerja keras orang lain.
Solusi: Menumbuhkan Budaya "Berbagi Pengetahuan"
Bagaimana kita bisa mengatasi budaya malu bertanya? Berikut beberapa ide yang mungkin bisa dicoba, baik di rumah, sekolah, maupun kantor:
1. "Tanya Selama" – Waktu Khusus untuk Pertanyaan
Di sekolah, guru dapat menambahkan sesi "tanya jawab" selama 10 menit setiap akhir pelajaran. Di kantor, atasan dapat mengadakan "open mic" mingguan, di mana karyawan dapat mengajukan pertanyaan tanpa takut dihakimi.
2. "Saling Mengajari" – Buddy System
Dengan membentuk "buddy" yang saling mengajari, seorang siswa atau karyawan bisa merasa lebih nyaman karena tidak ada satu orang yang harus menyelesaikan semua tugas. Ini juga membantu menciptakan rasa kebersamaan.
3. "Tanya Tanpa Penilaian" – Media Diskusi Online
Platform seperti Slack, Discord, atau WhatsApp group dapat diatur sebagai ruang aman. Di sinilah orang bisa menanyakan apa saja tanpa takut diikuti komentar negatif. Pastikan moderasi yang sopan dan penuh pengertian.
4. "Berbagi Cerita" – Menerima Kesalahan sebagai Bagian dari Pembelajaran
Guru dan atasan dapat memulai sesi cerita kesalahan yang pernah mereka buat. Ini akan membuat orang lain merasa lebih aman untuk bertanya karena mereka tahu bahwa semua orang pernah mengalami kegagalan.
5. "Penghargaan" – Memuji Pertanyaan
Berikan reward kecil, seperti stiker atau kudos, bagi orang yang berani bertanya. Ini akan memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Opini Pribadi: Mengapa Aku Percaya Budaya Malu Bertanya Harus Diubah
Saat ini, saya masih menemukan teman-teman yang menunggu sampai akhir semester untuk bertanya, walaupun mereka sudah tidak sekecil lagi. Saya rasa ini bukan tentang kurangnya rasa percaya diri, melainkan ketakutan akan dihakimi. Saya yakin jika kita mulai mengubah perspektif dari "menyalahkan" menjadi "menerima", maka setiap pertanyaan akan menjadi batu loncatan, bukan beban.
Lebih jauh lagi, ketika generasi muda tumbuh dalam era di mana informasi bertebaran, kemampuan untuk menanyakan pertanyaan akan menjadi senjata utama. Tanpa pertanyaan, pengetahuan itu hanyalah sekadar data. Pertanyaan menambah kedalaman, membuat kita benar-benar memahami.
Kesimpulan
Budaya malu bertanya memang ada dalam setiap lapisan masyarakat Indonesia. Namun, dengan langkah kecil seperti menyiapkan ruang bertanya, mempromosikan kebiasaan "saling mengajari", dan mengubah persepsi tentang kesalahan, kita dapat memperkuat jaringan pengetahuan dan menciptakan komunitas yang lebih terbuka. Jadi, selanjutnya kalau ada hal yang belum paham, jangan takut tanya. Ingat, "tidak bertanya" hanyalah cara bagi dunia untuk menutup pintunya sementara, sedangkan bertanya membuka peluang tak terhingga.
Next News

Bahagia Hari Ini: Dari Ambisi Besar ke Hal-Hal Sehari-hari
in 4 hours

Mengapa Kita Suka Drama? Daya Tarik Cerita yang Tak Pernah Habis
in 4 hours

Hustle Culture: Antara Produktivitas dan Kehilangan Makna Hidup
in 4 hours

Peran Relawan Sosial: Lebih dari Sekadar Tindakan Amal
in 4 hours

Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain
5 hours ago

Krisis Kepercayaan Publik: Ketika Transparansi Kalah oleh Kepentingan
5 hours ago

Mengapa Kita Takut Gagal? Antara Budaya Prestasi dan Pola Pikir Negatif
5 hours ago

Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita
5 hours ago

Overthinking: Apa Itu dan Kenapa Kita Terjebak?
5 hours ago

Budaya Kerja Keras vs Work-Life Balance: Siapa yang Beruntung?
5 hours ago





