Kenapa Banyak Orang Merasa Sendiri di Era Serba Terhubung?
Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 10:10 AM


Kenapa Banyak Orang Merasa Sendiri
Hari ini, jika kamu scrolling di Instagram, pasti nemu foto-foto yang nampak ceria, lengkap sama caption "selalu happy". Tapi di balik filter, banyak orang yang sebenarnya merasa sendirian. Jadi, apa sih yang bikin orang merasa sendiri di zaman serba terhubung ini? Yuk, kita kulik bareng-bareng.
1. Kerja Tanpa Tertawa: Kelelahan Sosial
Pernah nggak sih, kamu ngerasa semua orang di kantor atau sekolah udah punya "circle" yang solid, sementara kamu masih duduk di pojok tanpa teman? Hal itu sering terjadi karena "kerja" yang memaksa kita mengekspresikan diri lewat tugas, deadline, dan KPI, bukan lewat tawa dan canda. Saat otak terfokus pada angka, kita terlepas dari perasaan emosional. Jadi, meskipun ada banyak orang di sekitar, rasa kebosanan dan kesepian masih tetap ada.
2. Teknologi: Mempertemukan Tapi Jauh
Sejak munculnya smartphone, "online" jadi satu kata penting. Kamu bisa chat, tiktok, dan Instagram live tanpa harus keluar rumah. Tapi, tahukah kamu? Ketika seseorang mengirim emoji senyum, itu bukan senyum asli. Banyak komunikasi digital yang bersifat dangkal—kontak hanya lewat teks, emoji, dan filter. Manusia, secara alami, butuh kontak tatap muka, aroma, suara yang sama. Jadi, meskipun jaringan sosial digital semakin lebar, rasa kebersamaan yang sebenarnya tetap terasa tipis.
Contoh sederhananya:
- Ngobrol lewat WhatsApp: 5 menit = 100 kata
- Meeting Zoom: 30 menit = 2.000 kata
- Berada di taman: 30 menit = 1,000 kata + 20.000 suara
Berarti, meski online lebih banyak kata, offline masih punya keunggulan "audio" dan "taktik" yang bikin lebih erat.
3. Ekspektasi Sosial: Tekanan yang Mengintai
Budaya "berprestasi" menekan kita buat menjadi "sempurna". Kalau kamu tidak punya pencapaian yang sesuai standar—baik di akademik, karir, atau penampilan—kamu mungkin merasa tidak cukup. Ini memicu rasa terasing dari orang lain yang terlihat lebih sukses. Bahkan, media sosial memperkuat perasaan ini karena setiap orang justru memamerkan puncak kebahagiaan mereka.
Dalam semangat "self‑care", banyak orang berusaha untuk tidak membandingkan diri. Tapi, perbandingan memang manusia. Jadi, penting untuk mengingat: "Tiap orang punya cerita yang tidak terlihat."
4. Makna Sehari‑hari: Saat Kita Saling Melihat
Rasa sendiri tidak selalu karena tidak ada orang di sekitar, tapi karena kita belum menemukan "teman" yang bisa mengerti kita. Seperti, "Kakak, kamu tahu nggak kenapa aku nggak mau bawa kucing di rumah?" – "Biar tidak takut." Kalau orang di sekitar tidak meresapi cerita itu, rasa sendiri akan bertambah. Makanya, kunci utama untuk mengurangi kesepian adalah mengisi ruang komunikasi dengan cerita-cerita yang berarti.
5. Cara Hadapi Kesepian: Langkah‑langkah Sepele
Berikut beberapa tips yang bisa kamu praktikkan buat ngurangin rasa sendiri, tanpa harus berusaha terlalu keras.
- Jangan lupa jari-jari: Nulis jurnal atau catatan singkat. Kadang, menulis memang lebih bermanfaat daripada menulis "caption" panjang.
- Temukan hobi baru: Ikut kelas masak, fotografi, atau kursus bahasa. Kamu akan bertemu orang yang punya minat sama.
- Atur waktu offline: Nggak ada salahnya paksa diri 30 menit setiap hari tidak memeriksa media sosial. Kamu akan merasa lebih terhubung dengan dunia nyata.
- Berbagi sesederhana apa pun: Minta bantuan, atau bantu seseorang. Tindakan kecil ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan.
- Ngobrol dengan diri sendiri: Cobalah berbicara dengan dirimu sendiri, terutama saat sedang merasa terasing. Hal sederhana ini membantu kita memahami emosi sendiri.
Contoh singkat: "Bersedia Berbagi
Misalnya, kamu lagi ngerasa stres karena deadline. Coba panggil teman di kantor atau temen kuliah lewat telepon. Kamu tidak perlu mengutarakan semua detail. Cukup bilang, "Aku lagi agak pusing, butuh sedikit waktu untuk nge-relax." Dengan begitu, temanmu bisa mengerti dan mungkin menambah rasa kedekatan.
Kesimpulan
Intinya, banyak orang merasa sendiri bukan karena kurangnya orang di sekitar, melainkan karena kurangnya hubungan yang bermakna, tekanan sosial, dan kelebihan digital yang membuat interaksi terasa dangkal. Rasa sendiri bisa diatasi dengan mencari makna, berbagi, dan mengurangi ketergantungan pada teknologi. Jangan lupa, hidup bukan lomba, jadi tetap nikmatin perjalanan—terutama saat kamu menyadari bahwa "sendiri" itu bukanlah akhir dari segalanya.
Menurutku, setiap orang punya kekuatan untuk membuat diri mereka lebih terhubung. Jadi, kalau kamu lagi merasa sendirian, coba salah satu langkah di atas dan lihat perubahan apa yang muncul. Siapa tahu, kamu akan menemukan teman sejati yang tidak pernah kamu duga sebelumnya.
Next News

Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain
in 6 hours

Krisis Kepercayaan Publik: Ketika Transparansi Kalah oleh Kepentingan
in 6 hours

Mengapa Kita Takut Gagal? Antara Budaya Prestasi dan Pola Pikir Negatif
in 6 hours

Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita
in 6 hours

Overthinking: Apa Itu dan Kenapa Kita Terjebak?
in 6 hours

Budaya Kerja Keras vs Work-Life Balance: Siapa yang Beruntung?
in 6 hours

Perubahan Nilai Moral: Dari Tradisi ke Era Digital
in 6 hours

Melihat dengan Cara yang Berbeda: Tentang Disabilitas dan Kemanusiaan
in 5 hours

Kenapa Sahabat Itu Penting? Karena Hidup Tidak Bisa Dijalani Sendirian
in 5 hours

Toxic Relationship pada Remaja dan Dewasa Muda: Perspektif Psikologis dan Sosial
in 5 hours





