Jumat, 31 Juli 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Jurnalis Sampang Pakai Topeng Prabowo-Teddy hingga Baju Terbalik dalam Aksi Protes 'Londo Ireng'

Ach. Mukrim - Friday, 31 July 2026 | 05:50 AM

Background
Jurnalis Sampang  Pakai Topeng Prabowo-Teddy hingga Baju Terbalik dalam Aksi Protes 'Londo Ireng'
Prabowo KW saat mengaca (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Aksi unjuk rasa yang digelar puluhan jurnalis di Sampang, Jawa Timur, tak hanya diisi dengan orasi dan penyampaian tuntutan. Para peserta juga menampilkan sejumlah aksi teatrikal sebagai simbol penolakan terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaitkan profesi jurnalis dengan istilah 'Londo Ireng'. 


Salah satu aksi yang menarik perhatian adalah pertunjukan kolosal yang menampilkan dua peserta aksi memakai topeng wajah Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. 


Dalam adegan tersebut, sosok yang memerankan Presiden Prabowo bergaya layaknya sedang berpidato di hadapan publik. Kemudian peserta aksi menghadirkan sebuah cermin dan meminta pemeran tersebut bercermin sebagai simbol introspeksi sebelum menyampaikan pernyataan di ruang publik.




Koordinator aksi, Kamaluddin Harun,  mengatakan, aksi teatrikal yang ditampilkan dalam demonstrasi tersebut merupakan bentuk penyampaian pesan moral kepada para pemimpin agar lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan di ruang publik.


Menurutnya, sosok yang diperankan menyerupai Presiden Prabowo Subianto sengaja diarahkan untuk melihat cermin besar sebagai simbol ajakan untuk melakukan introspeksi sebelum menyampaikan ucapan yang dapat berdampak terhadap kelompok atau profesi tertentu.




"Kami menghadirkan simbol cermin ini bukan tanpa alasan. Pesannya adalah sebelum menyampaikan sebuah pernyataan, seorang pemimpin harus melihat kembali, apakah ucapan tersebut sudah tepat dan tidak melukai pihak lain," ujar Jurnalis detik.com ini. 


Dia menjelaskan, profesi jurnalis memiliki peran penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, wartawan bekerja berdasarkan fakta, kode etik jurnalistik, serta aturan hukum yang berlaku.


"Kami para jurnalis bukan musuh pemerintah. Kami adalah bagian dari demokrasi yang menjalankan fungsi kontrol sosial. Kritik yang disampaikan pers bukan untuk menjatuhkan, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap jalannya pemerintahan," katanya.




Kamaluddin menegaskan, penyebutan istilah 'Londo Ireng' terhadap insan pers dinilai dapat menimbulkan persepsi negatif dan mencederai kehormatan profesi wartawan.


"Kami merasa perlu menyampaikan sikap. Bukan karena ingin mencari perhatian, tetapi karena ada nilai dan martabat profesi yang harus kami jaga bersama," tegasnya.




Dia juga menyampaikan, aksi jalan mundur yang dilakukan para wartawan memiliki makna simbolis sebagai bentuk penolakan terhadap pernyataan yang dianggap tidak mencerminkan penghargaan terhadap kebebasan pers


Aksi itu dimaknai sebagai bentuk penolakan terhadap pernyataan Presiden yang dinilai mencederai profesi wartawan sekaligus menggambarkan kemunduran nilai-nilai kebebasan pers apabila stigma terhadap jurnalis terus berkembang.


"Jalan mundur ini menggambarkan bahwa kami menolak langkah atau pandangan yang dapat membawa kemunduran terhadap demokrasi dan kebebasan pers," jelasnya.




Sementara aksi membalik baju, lanjut Kamaluddin, merupakan simbol bahwa para jurnalis tidak menerima label negatif yang diarahkan kepada profesi mereka.


"Kami membalik baju sebagai pesan bahwa identitas kami sebagai wartawan tidak boleh dipandang sebelah mata. Kami bekerja dengan aturan, kami bekerja untuk masyarakat," pungkasnya. (Mukrim)