Empati di Era Digital: Antara Koneksi Virtual dan Sentuhan Nyata
Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 10:15 AM


Empati di Era Digital: Seolah‑seolah Kita Lagi Bersuara di Dunia Nyata
Di zaman sekarang, setiap orang hampir "ikut kabar" lewat ponsel, media sosial, dan aplikasi chatting. Kita kan terbiasa menekan tombol like, share, dan komentar tanpa sadar, bahkan sebelum membaca isi lengkapnya. Itu bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal cara kita mengekspresikan perasaan dan empati. Jadi, apakah gadget membuat kita lebih peka atau malah menurunkan rasa empati? Mari kita kupas secara santai, seperti nonton drama di ruang tamu sambil ngopi.
Teknologi: Sahabat atau Musuh Empati?
Jujur aja, teknologi udah jadi bagian penting kehidupan. Kalau kamu belum pakai Instagram, bisa jadi kamu belum pernah belajar ngebaca "stories" dengan "emoji heart". Teknologi memberi kemudahan, tapi juga bikin kita "gak ada lagi yang langsung berbicara" – semua lewat teks. Apalagi, ketika orang ketemu secara langsung, ada unsur non-verbal: mata, suara, nada, gerakan tubuh. Semua itu hilang ketika komunikasi cuma lewat emoji.
Menurut beberapa studi, penggunaan media sosial yang intensif dapat menurunkan kemampuan membaca ekspresi wajah. Kalau dulu, anak muda sering berlatih membaca senyum atau kesedihan lewat teman sekelas, sekarang lebih sering berlatih menebak maksud lewat caption. Nah, di situ terletak dilema: teknologi memberi jarak, tapi juga menghubungkan banyak orang sekaligus.
Empati Positif: Ketika Teknologi Menjadi Alat Penghubung
- Berbagi cerita secara real time – Dengan live streaming, orang bisa "merasakan" momen bersama meski terpisah jarak. Misalnya, video streaming konser atau event amal, yang menumbuhkan rasa solidaritas.
- Grup diskusi tematik – Di aplikasi seperti Telegram atau WhatsApp, ada ruang khusus untuk berbagi pengalaman dan dukungan emosional. Kadang, orang yang tak pernah bertemu langsung bisa saling "tengok mata" lewat cerita.
- Fitur "Stories" yang menyampaikan momen kecil – Ketika seseorang posting foto senja atau kopi, teman-temannya bisa merespon dengan pesan singkat yang memberi dampak positif.
Jadi, teknologi punya potensi besar untuk memperkuat empati, asalkan kita gunakan secara bijak.
Empati Negatif: "Nol Sentuh" di Antara Digital dan Emosi
Di sisi lain, ada pula sisi gelap. Banyak orang yang terlalu fokus ke "feed" sehingga lupa melihat dunia nyata. Misalnya, di sekolah, ketika guru mengajarkan soal matematika, siswanya malah membuka game di ponsel. Itu contoh "attention spill" – perhatian terbagi dan menurunkan empati terhadap situasi sekitar.
Juga, ada fenomena "compare and envy" – kita terus menilai kehidupan orang lain melalui filter dan caption. Hal ini bisa membuat kita "tak tersentuh" dengan kesulitan orang lain karena kita terlalu fokus pada highlight life yang dipresentasikan.
Di akhir pekan, kalau kamu lihat teman yang lagi scrolling panjang, mungkin mereka kehilangan momen kebersamaan. Dan ketika ada situasi darurat, reaksi "membalas pesan" lebih dulu daripada memanggil telepon atau datang langsung. Keterbatasan ini menimbulkan pergeseran nilai empati.
Kasus Nyata: Seorang Pemberi Donasi yang Jadi Viral
Suatu waktu, seorang pemuda bernama Rafi di Jakarta menaruh video tentang donasi darah. Video itu viral berkat komentar dan repost dari influencer. Rafi sendiri tidak pernah bertemu dengan siapa pun yang terinspirasi oleh videonya, tapi secara virtual, ratusan orang tergerak untuk berdonasi. Begitu, teknologi membawa empati ke level baru.
Namun, kalau dibandingkan dengan situasi di mana donasi darah dilakukan secara langsung, keduanya punya nuansa berbeda. Video menambah kedalaman emosional karena bisa menunjukkan ekspresi wajah Rafi. Tetapi, jika hanya lewat foto statis, rasa empati bisa lebih minim.
Bagaimana Sabar Menyerap Empati di Era Digital?
- Gunakan "screen time" yang seimbang – Sisihkan waktu khusus tanpa ponsel untuk berbicara dengan keluarga atau teman.
- Berlatih "mindful scrolling" – Sebelum menekan tombol scroll, tanyakan pada diri sendiri, "Apa yang ingin aku dapatkan dari konten ini?"
- Berbagi cerita nyata, bukan hanya highlight – Saat mengupload, sertakan cerita di balik pengalaman, bukan hanya foto.
- Jangan lupa check‑in secara langsung – Terkadang, "kalo udah cukup scrolling, ayo jumpa."
Kesimpulan: Empati Itu Seperti Bawang, Kalau Potong Terlalu Banyak, Bisa Menguatkan, tapi Kadang Menyakitkan
Teknologi memang membawa tantangan bagi empati, namun bukan berarti tak ada solusi. Yang penting adalah kesadaran diri: kita tetap harus bisa "merasakan" orang lain di balik layar. Ketika kita belajar menghargai konten yang memberi nilai emosional, empati akan terjaga. Dan, di akhir hari, manusia masih butuh sentuhan, baik itu tatapan mata, senyum, atau sekadar "kamu penting bagi aku." Jadi, tetap stay connected, tapi jangan lupa bersambung satu persatu. Setelah semua, teknologi hanyalah alat; manusia masih yang membuatnya berarti.
Next News

Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain
in 6 hours

Krisis Kepercayaan Publik: Ketika Transparansi Kalah oleh Kepentingan
in 6 hours

Mengapa Kita Takut Gagal? Antara Budaya Prestasi dan Pola Pikir Negatif
in 6 hours

Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita
in 6 hours

Overthinking: Apa Itu dan Kenapa Kita Terjebak?
in 6 hours

Budaya Kerja Keras vs Work-Life Balance: Siapa yang Beruntung?
in 6 hours

Perubahan Nilai Moral: Dari Tradisi ke Era Digital
in 6 hours

Melihat dengan Cara yang Berbeda: Tentang Disabilitas dan Kemanusiaan
in 5 hours

Kenapa Sahabat Itu Penting? Karena Hidup Tidak Bisa Dijalani Sendirian
in 5 hours

Toxic Relationship pada Remaja dan Dewasa Muda: Perspektif Psikologis dan Sosial
in 5 hours





