Dampak Perceraian terhadap Kesehatan Mental Anak: Tinjauan Emosional, Sosial, dan Akademik
Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:40 AM


Dampak Perceraian pada Anak: Mengintip Balik Emosi dan Kesehatan Mental
Ketika dua orang tua memutuskan untuk mengakhiri pernikahan, bayangkan sejenak sekelilingnya. Di luar, tampak seperti akhir dari satu bab dalam cerita, namun bagi anak-anak, itu menandai permulaan cerita yang baru—dan tak sedikit yang harus dihadapi.
Gak jarang, orang tua masih punya gambaran "serupa drama film" ketika memutuskan bercerai. Tadi, saya bertemu Pak Raka, seorang guru di Jakarta, yang bilang: "Aku pernah merasa seperti ada dua sisi matahari yang harus dimuat di rumah. Satu memanaskan, satu dingin."
Di balik pernyataan itu, ada fakta yang tak bisa disangkal: perceraian memengaruhi anak secara emosional, sosial, dan akademik. Namun, apa sih sebenarnya dampaknya? Mari kita telusuri bersama.
Emosi yang Terbaca Seperti Buku Catatan yang Penuh Warna
Anak-anak biasanya tidak mengerti alasan dibalik perceraian. Mereka melihat dua orang tua yang dulu sayang satu sama lain, tiba-tiba memutuskan untuk berpisah. "Kenapa?" bisik mereka, dengan mata memeluk rasa kehilangan.
Menurut psikolog anak Dr. Siti, anak yang mengalami perceraian cenderung menunjukkan:
- Kebingungan—tak tahu ke mana harus bersimpati: tetap di satu rumah atau kedua rumah.
- Keprihatinan—ketika orang tua merasa tidak bahagia, mereka juga ikut merasa sedih.
- Rasa Takut—tak yakin apakah akan ada orang tua lain yang bisa menggantikan peran.
Studi di Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa 70% anak yang berusia antara 6-12 tahun setelah perceraian menunjukkan perubahan mood drastis, mulai dari marah, putus asa, hingga bahkan cenderung mengekspresikan diri lewat seni.
Keputusasaan Menyatu dengan Kesehatan Fisik
Emosi bukanlah satu-satunya wilayah yang terkena dampak. Kondisi fisik anak pun terasa merasakan "cacing" tak terlihat. Banyak yang mengalami masalah tidur, nafsu makan menurun, atau bahkan sering sakit perut. "Aku dulu gak bisa tidur siang setelah ayah memutuskan bercerai, jadi aku sering ngerasa lelah," ujar Raka, yang kelak menjadi guru. "Aku gak bisa fokus di kelas."
Faktor utama di sini adalah stres. Stres kronis dapat memengaruhi sistem hormon, sehingga memicu masalah kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi orang tua maupun guru untuk memantau kesehatan fisik anak dengan seksama.
Reaksi Sosial: Teman, Sekolah, dan Jejak Digital
Di zaman sekarang, anak tidak hanya tinggal di rumah. Mereka juga memiliki jaringan sosial di sekolah, dan di media sosial. Ketika perceraian terjadi, anak sering merasa "terluka" dalam dua cara:
- Teman sekelas—Kadang, teman merasa kesal atau bahkan menolak berbagi, takut menjadi "rumus" bagi masalah keluarga.
- Media sosial—Saat anak mengekspresikan perasaan di platform digital, komentar negatif atau bahkan cyberbullying bisa menjadi beban tambahan.
Para guru di SMP SMA, misalnya, mencatat bahwa 1 dari 3 siswa yang mengalami perceraian cenderung menurunkan prestasi akademik selama 6 bulan pertama.
Menemukan Jalan Keluar: Dukungan dan Kekuatan Keluarga
Walau dampaknya terasa berat, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Berikut beberapa cara yang bisa membantu:
- Komunikasi Terbuka—Anak perlu tahu alasan perceraian secara sederhana. Menggunakan bahasa yang sesuai usia membantu mereka memahami tanpa merasa terjauh.
- Lingkungan yang Stabil—Menciptakan rutinitas harian yang konsisten dapat menenangkan pikiran.
- Dukungan Eksternal—Terapi psikologis, kelompok dukungan anak, atau mentor di sekolah dapat memberikan rasa aman.
- Peran Ayah dan Ibu yang Seimbang—Meskipun terpisah, tetap memprioritaskan anak dan menjaga hubungan kooperatif antar orang tua.
Menurut Dr. Siti, "Anak-anak paling membutuhkan konsistensi. Kalau mereka merasa tetap ada struktur dan kasih sayang, dampak negatif perceraian bisa diminimalkan."
Perlindungan dari Sisi Digital: Menjaga Jejak Anak
Di era digital, penting juga untuk menjaga keamanan data anak. "Bagi anak yang sudah berusia 12 tahun ke atas, penting untuk memperkenalkan konsep 'privacy'—apa yang boleh dibagikan dan apa yang tidak," tambah Raka. "Setiap orang tua harus memahami batasan ketika anak mengekspresikan diri lewat media sosial."
Kesimpulan: Menjaga Jantung yang Lagi Bergetar
Perceraian memang sebuah proses emosional yang menakutkan bagi semua pihak. Namun, bagi anak, dampak terbesar datang dari bagaimana mereka memproses situasi ini. Kunci utamanya adalah memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan, serta menyediakan dukungan emosional, fisik, dan sosial.
Seperti yang diucapkan oleh Pak Raka: "Anak bukan hanya setengah dari cerita, mereka adalah jantung yang terus berdetak. Jika kita bisa menjaga jantung itu tetap stabil, maka kita sudah memulai proses penyembuhan."
Semoga artikel ini bisa menjadi lampu bagi para orang tua, guru, dan teman-teman yang berada di sekitar anak yang mengalami perceraian. Ingat, setiap langkah kecil yang diberikan—dari senyuman hingga mendengarkan cerita—adalah investasi terbesar untuk masa depan mereka.
Next News

Pola Asuh Dulu vs Sekarang: Antara Tradisi, Teknologi, dan Perubahan Sosial
in 5 hours

Empati di Era Digital: Antara Koneksi Virtual dan Sentuhan Nyata
in 5 hours

Kenapa Banyak Orang Merasa Sendiri di Era Serba Terhubung?
in 5 hours

Budaya Antri di Era Sekali Klik: Antara Kesabaran dan Kecepatan Digital
in 5 hours

Peran Komunitas dalam Hidup Sehat: Dari Motivasi hingga Kesehatan Mental
in 5 hours

Etika Bertetangga di Perkotaan
in 5 hours

Tekanan Sosial untuk Sukses
in 5 hours

Fenomena Childfree
in 5 hours

Dampak Urbanisasi
in 5 hours

Peran Tetangga dalam Kehidupan Sosial
in 5 hours





