Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Fenomena Childfree

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:55 AM

Background
Fenomena Childfree
Fenomena Childfree ( Istimewa/)

Childfree: Fenomena yang Sedang Menyusul Waktu

Suatu hari di kafe kopi di Sudirman, saya bertemu dengan Rina, teman lama dari SMA. Ia duduk di pojok meja, menatap layar laptopnya sambil menyuarakan "kita tidak mau punya anak, kita mau bebas." Saya pun langsung tertawa. "Lha, Rina, kalau nggak punya anak, hidupmu nanti seperti apa?" dia menantang. Dan inilah titik awal diskusi tentang fenomena yang kini sering terdengar di kalangan muda, yaitu Childfree.

Istilah "childfree" sendiri berasal dari bahasa Inggris, artinya memilih hidup tanpa anak. Bukan karena mereka menolak konsep keluarga, melainkan mereka menolak "kewajiban" menjadi orang tua. Dari sini, beberapa pertanyaan penting muncul: Mengapa semakin banyak orang memilih childfree? Apa dampaknya bagi masyarakat? Dan, bagaimana persepsi sosial terhadap pilihan ini?

Seberapa Besar Fenomena Childfree di Indonesia?

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan survei swadaya, proporsi orang dewasa yang mengidentifikasi diri sebagai childfree di Indonesia masih terbilang kecil, namun menunjukkan tren kenaikan. Di Jakarta, survei yang dilakukan pada tahun 2023 menemukan bahwa sekitar 5% responden (dari 1.200 peserta) mengaku memilih hidup tanpa anak.

  • Berusia 25-35 tahun: 12% mengaku childfree.
  • Berusia 35-45 tahun: 3% mengaku childfree.
  • Perempuan lebih cenderung memilih childfree dibanding laki-laki (8% vs 4%).

Data ini menunjukkan bahwa, meski masih minoritas, fenomena childfree mulai "berinjak di depan mata" bagi generasi muda yang lebih terbuka terhadap pilihan hidup beragam.

Aneka Alasan di Balik Keputusan Childfree

Setiap orang memiliki alasan yang unik. Berikut beberapa alasan umum yang sering muncul dalam percakapan dengan teman-teman saya:

  • Kesibukan Karier: "Aku takut kalau punya anak, bisa membuat karierku terhambat."
  • Pengaruh Lingkungan: "Teman-teman seumuran lebih suka kerja global, bukan jadi orang tua."
  • Keinginan Kebebasan: "Aku ingin tetap bisa bepergian, belajar bahasa, menulis novel tanpa hambatan."
  • Keprihatinan Lingkungan: "Populasi terlalu tinggi, saya ingin menahan diri demi bumi."
  • Pengalaman Pribadi: "Aku pernah mengalami trauma keluarga, jadi lebih memilih hidup tanpa beban."

Alasan-alasan ini tidak bersifat satu‑dimensi; biasanya, seseorang memadukan lebih dari satu motivasi, menciptakan pola pikir yang kompleks dan pribadi.

Bagaimana Masyarakat Menerima Keputusan Childfree?

Di Indonesia, nilai keluarga masih menjadi pilar penting. Banyak orang tua yang menilai memiliki anak adalah "kewajiban" yang harus dipenuhi. Maka, ketika seseorang mengaku childfree, seringkali ia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tak terhitung: "Kapan nanti akan menikah?" "Apakah kamu akan merasa kesepian?" "Bagaimana dengan warisan?"

Namun, seiring dengan perkembangan sosial media, muncul komunitas yang memberi ruang bagi orang-orang childfree. Ada grup Facebook, Discord, bahkan podcast yang membahas topik ini secara terbuka. Di sana, orang-orang merasa lebih aman untuk berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi.

Stigma dan Kesalahpahaman

Stigma masih ada. Beberapa perasaan negatif sering muncul, seperti:

  • "Kamu terlalu egois."
  • "Kamu akan kehilangan makna hidup."
  • "Kamu tidak punya tujuan."

Bagaimanapun, penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang yang memilih childfree tidak secara otomatis kurang bahagia. Bahkan, mereka sering melaporkan tingkat stres lebih rendah, karena tidak perlu mengatur jadwal bayi, atau mengelola konflik antara pekerjaan dan keluarga.

Perspektif Generasi Muda

Generasi Y dan Z, yang tumbuh di era digital, cenderung lebih terbuka terhadap pilihan hidup yang tidak konvensional. Mereka menganggap "kewajiban" menjadi orang tua bukan suatu keharusan, melainkan pilihan yang harus disesuaikan dengan nilai dan tujuan pribadi. Menurut salah satu blog populer, "childfree bukanlah penolakan terhadap keluarga, tapi justru kebebasan untuk menentukan apa yang membuat kita bahagia."

Konsep ini sejalan dengan pergeseran nilai budaya, di mana individu tidak lagi menilai kesuksesan hanya melalui status pernikahan dan kepemilikan anak. Sebaliknya, mereka menilai pencapaian pribadi, kebebasan finansial, serta kontribusi sosial.

Bagaimana Jika Kamu Mempertimbangkan Childfree?

Berikut beberapa tips bagi yang sedang merenungkan pilihan ini:

  • **Buka diskusi**: Coba bicarakan dengan pasangan, teman dekat, atau mentor. Dengar perspektif mereka.
  • **Analisis keuangan**: Tanpa anak, kamu mungkin memiliki lebih banyak dana untuk investasi, liburan, atau hobi.
  • **Pikirkan warisan**: Bagaimana cara kamu menyimpan atau mentransfer nilai kepada generasi berikutnya?
  • **Jangan takut dihakimi**: Setiap pilihan punya risiko dan peluang. Hanya kamu yang tahu apa yang terbaik.
  • **Berbagi cerita**: Menulis blog atau video tentang pengalamanmu bisa membuka ruang bagi orang lain yang bertanya-tanya.

Kesimpulan: Childfree Sebagai Pilihan yang Valid

Fenomena childfree bukan sekadar tren, melainkan manifestasi perubahan nilai dan ekspektasi hidup. Saat kita menyaksikan lebih banyak orang berani memilih kebebasan tanpa anak, kita diingatkan bahwa kebahagiaan bukan satu ukuran. Jika kamu memutuskan untuk menjadi childfree, atau malah memilih untuk memiliki anak, yang penting adalah kesadaran dan kebijaksanaan. Kita semua punya hak untuk menentukan jalur hidup sendiri, tanpa harus takut atau merasa tertekan oleh norma sosial.

Jadi, saat kamu menikmati kopi di sudut kafe, jangan takut untuk bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya sudah memilih apa yang benar-benar membuat saya bahagia?" Tanpa menunggu, jawabannya ada di dalam hati dan perasaanmu. Selamat mencoba, dan tetap semangat untuk menulis cerita hidupmu sendiri—childfree atau tidak, yang terpenting adalah kisah yang kamu pilih untuk diceritakan kepada dunia.