Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Tekanan Sosial untuk Sukses

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:55 AM

Background
Tekanan Sosial untuk Sukses
Tekanan Sosial untuk Sukses

Tekanan Sosial untuk Sukses: Antara Impian dan Realitas

Bayangkan saja, setiap hari kita membuka mata, menatap cermin, dan menanyakan satu pertanyaan yang sama: "Apakah saya sudah sukses?" Gak cuma buat diri sendiri, tapi juga buat orang di sekitar kita. Di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda, istilah "sukses" seringkali diartikan sebagai milik rumah mewah, gaji tinggi, atau punya akun media sosial dengan followers ribuan. Akibatnya, tekanan sosial menempel di setiap langkah kita, bahkan sebelum kita menyadari keberadaannya.

Tekanan sosial itu nggak datang dari satu sumber. Ada guru, ada orang tua, teman sebaya, dan tentu saja media sosial yang selalu menayangkan kisah "success story" paling glamor. "Kamu belum punya mobil, kamu belum punya rekening bank besar, kamu belum punya pacar yang "sesuai"", itu semua menjadi sinyal yang tak terbantahkan: "Cuma kamu belum berhasil". Ternyata, kalau nggak hati-hati, sinyal ini bisa memicu rasa takut gagal yang lebih besar daripada rasa takut jatuh.

Sejarah Singkat: Dari Mimpi Menjadi Beban

Di masa kini, generasi Z dan milenial tumbuh dengan internet 24/7. Dari video TikTok yang berpotongan 15 detik, sampai blog influencer yang selalu menampilkan lifestyle mewah, semua itu memberi gambaran tentang apa yang dianggap "sukses". Namun, apa yang terlihat sebagai pencapaian sebenarnya hanyalah cermin yang memantulkan nilai pribadi yang ditetapkan oleh masyarakat.

Seorang psikolog bernama Dr. Rini Suharto, dalam sebuah podcast, pernah mengatakan, "Sukses bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan." Namun, kalau orang tua atau guru terus mengingatkan, "Sukses itu penting, kamu harus memperjuangkannya!" maka perjalanan itu malah terasa seperti jalan setapak yang kaku.

Efeknya: Ketika Sukses Menjadi Beban

Menurut data yang dipublikasikan oleh Asosiasi Psikologi Indonesia, sekitar 42% mahasiswa melaporkan mengalami stres karena tekanan prestasi. Dan ini bukan cuma tentang nilai ujian. Banyak yang merasakan tekanan ini saat memilih jurusan kuliah, saat memutuskan karier, atau bahkan saat memilih pasangan. "Aku harus punya rumah, harus punya karier, harus punya semua itu bersamaan." Itu bukan sekadar kata, tapi juga beban yang menekan napas.

Masalahnya, tekanan ini seringkali tak terdeteksi. Banyak yang menutupi rasa takut mereka dengan senyuman, menutupi kekecewaan dengan caption Instagram. Dan ketika gagal, lebih sering dirasa sebagai kegagalan pribadi, bukan sebagai proses belajar. "Aku gagal, berarti aku kurang baik." Itu bukan cuma menurunkan harga diri, tapi juga menurunkan semangat untuk mencoba lagi.

Bagaimana Menghadapi Tekanan Sosial?

  • Definisikan Ulang Sukses: Mulai dari sekarang, ciptakan definisi pribadi. Bukan hanya uang atau status, tapi juga kebahagiaan, kepuasan batin, atau kemampuan untuk belajar terus. Catat di buku atau aplikasi note supaya selalu ingat.
  • Kurangi Konsumsi Media Sosial: Coba alihkan waktu satu jam sehari. Saat menonton feed, tanyakan pada diri sendiri, "Apakah ini membantu saya, atau hanya mengisi waktu luang?"
  • Berbagi Beban: Temukan teman sejiwa yang juga mengalami tekanan. Kadang-kadang, sekadar "saya merasa tertekan" sudah cukup untuk meredakan beban. Ada yang berpendapat, "Semakin banyak orang yang terbuka, semakin sedikit beban yang dipegang."
  • Fokus pada Proses: Setiap langkah kecil penting. Bukan hanya akhir, tapi prosesnya yang membangun karakter. Pikirkan hal ini sebagai "sukses dalam proses" bukan "sukses akhir".
  • Dapatkan Dukungan Profesional: Bila perasaan stres mulai terasa berat, jangan ragu untuk berkonsultasi. Terapis atau konselor bisa memberikan perspektif yang lebih objektif.

Case Study: Dari Kelemahan ke Kekuatan

Ayo dengerin kisah Rina, 24 tahun, mahasiswa jurusan ekonomi. Ketika kuliah, ia merasa tertekan karena selalu dibandingkan dengan temannya yang punya gaji tinggi setelah lulus. "Aku tidak punya apa-apa, jadi...". Setelah menyadari tekanan ini, Rina memutuskan untuk fokus pada hobi menulis. Ia mulai menulis blog tentang tips keuangan pribadi untuk mahasiswa. Hasilnya? Ia tidak hanya menemukan passion, tapi juga mulai mendapatkan penghasilan tambahan dari sponsor.

Rina sekarang sering bilang, "Sukses itu bukan tentang berapa banyak uang yang dimiliki. Sukses itu ketika kamu bisa membuat orang lain merasa lebih baik." Sungguh, dia membuktikan kalau kadang tekanan sosial yang berat bisa menjadi katalisator untuk menemukan potensi diri.

Pesan Akhir: Jangan Biarkan Sukses Menjadi Bumerang

Di balik semua keinginan untuk berprestasi, ingatlah bahwa hidup bukan kompetisi seumur hidup. Tekanan sosial memang tak terhindarkan, tapi kita punya kekuatan untuk mengelola. Saat kamu mulai menulis definisi pribadi, membatasi konsumsi media, dan berbagi beban, maka tekanan sosial itu akan menjadi lebih ringan. Bahkan, kamu akan melihat "sukses" sebagai perjalanan, bukan target akhir yang menunggu di garis finish.

Jadi, tetaplah bersikap jujur pada diri sendiri. Jadikan setiap kegagalan sebagai batu loncatan. Dan yang terpenting, hargai setiap langkah kecil. Karena pada akhirnya, kebahagiaan dan kepuasan diri adalah ukuran sejati dari sukses, bukan sekadar seberapa banyak "milik" yang kamu punya.