Selasa, 13 Januari 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Cuaca Buruk, Kapal Rute dari Pelabuhan Kalianget Sumenep Tetap Berlayar

Redaksi - Monday, 12 January 2026 | 08:09 AM

Background
Cuaca Buruk, Kapal Rute dari Pelabuhan Kalianget Sumenep Tetap Berlayar
Kapal perintis bersandar di pelabuhan Kalianget, Sumenep. (Istimewa/)


salsabilafm.com  - Meski cuaca buruk disertai gelombang tinggi melanda perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sejumlah kapal penumpang tetap berlayar dari Pelabuhan Kalianget. 


Dilansir dari Kompas, ada empat kapal yang masih melayani pelayaran, meski Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalianget telah mengeluarkan kebijakan penundaan sementara. Sebelumnya, KSOP Kalianget menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor AL.201/4/19/KSOP.Klg/2026 sebagai dasar penghentian sementara seluruh aktivitas pelayaran sejak 10 hingga 13 Januari 2026.


Kebijakan ini merujuk pada prakiraan cuaca maritim dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, yang memprediksi potensi kenaikan tinggi gelombang dan angin kencang di sejumlah perairan sekitar Sumenep.


Kepala Kantor KSOP Kelas IV Kalianget, Azwar Anas, mengakui ada beberapa kapal yang tetap melayani rute pelayaran dari Pelabuhan Kalianget. Kapal-kapal tersebut di antaranya; Sabuk Nusantara 91, Sabuk Nusantara 92, Sabuk Nusantara 74, dan kapal Hulalo. Seluruh kapal itu memiliki kapasitas besar, dengan gross tonnage (GT) di atas 2.000.


“Tidak semuanya diberangkatkan, jadi dilihat, kalau gelombangnya mencukupi untuk kapal dengan GT tertentu bisa berangkat. Kalau yang agak kecil, tidak. Tapi untuk yang GT 2.000 ke atas, masih memungkinkan, seperti itu,” kata Anas, Senin,(12/1/2026).


Izin berlayar dari KSOP Sumenep, ucap Anas, juga mempertimbangkan jalur pelayaran yang ditempuh kapal.


“Jadi dilihat sama-sama, apa namanya, rute yang notabenenya tidak mengikuti rute yang BMKG. Contoh yang BMKG, selat utaranya Sumenep, utaranya Sapudi, bagian itulah yang tidak dilewati oleh kapal-kapal kecil lainnya seperti (Dharma) Kartika, yang notabene ke Sapudi, jadi tidak memungkinkan,” tambahnya. 


Anas menyebut kapal dengan ukuran kecil tidak diizinkan berlayar. Kapal seperti Dharma Kartika dan Ekspress Bahari yang memiliki GT di bawah 1.000 dilarang melayani rute pelayaran selama kondisi cuaca masih buruk.


Sedangkan kapal besar dinilai lebih mampu menghadapi gelombang tinggi di rute tertentu.


“Kalau mengarahnya tidak pada gelombang itu, sesuai BMKG, diperbolehkan. Contoh ke Masalembu, Kangean, Sapeken, Jangkar, itu kapal yang gede-gede semua. Tapi yang kecil-kecil tidak sanggup dengan kondisi itu,” katanya.


Pihaknya juga menegaskan, larangan berlayar tidak diberlakukan secara menyeluruh tanpa mempertimbangkan kondisi masyarakat kepulauan. “Kalau kita larang semua seperti apa yang ada di BMKG, berarti kita nanti kita tidak bisa melihat kondisi ekonomi yang di sana dan kekurangan bahan makanan, habis semua. Makanya dikondisikan dengan melihat kondisi kapal,” ujarnya.


Dijelaskan, beberapa pekan ke depan, potensi cuaca buruk masih berlanjut. “Apalagi, minggu depan dimungkinkan seperti itu lagi, seperti itu lagi (ada larangan berlayar), ada gelombang yang tinggi lagi,” pungkas Anas. (*)