Cuaca Buruk, Kapal Rute dari Pelabuhan Kalianget Sumenep Tetap Berlayar
Redaksi - Monday, 12 January 2026 | 08:09 AM


salsabilafm.com - Meski cuaca buruk disertai gelombang tinggi melanda perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sejumlah kapal penumpang tetap berlayar dari Pelabuhan Kalianget.
Dilansir dari Kompas, ada empat kapal yang masih melayani pelayaran, meski Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kalianget telah mengeluarkan kebijakan penundaan sementara. Sebelumnya, KSOP Kalianget menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor AL.201/4/19/KSOP.Klg/2026 sebagai dasar penghentian sementara seluruh aktivitas pelayaran sejak 10 hingga 13 Januari 2026.
Kebijakan ini merujuk pada prakiraan cuaca maritim dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, yang memprediksi potensi kenaikan tinggi gelombang dan angin kencang di sejumlah perairan sekitar Sumenep.
Kepala Kantor KSOP Kelas IV Kalianget, Azwar Anas, mengakui ada beberapa kapal yang tetap melayani rute pelayaran dari Pelabuhan Kalianget. Kapal-kapal tersebut di antaranya; Sabuk Nusantara 91, Sabuk Nusantara 92, Sabuk Nusantara 74, dan kapal Hulalo. Seluruh kapal itu memiliki kapasitas besar, dengan gross tonnage (GT) di atas 2.000.
"Tidak semuanya diberangkatkan, jadi dilihat, kalau gelombangnya mencukupi untuk kapal dengan GT tertentu bisa berangkat. Kalau yang agak kecil, tidak. Tapi untuk yang GT 2.000 ke atas, masih memungkinkan, seperti itu," kata Anas, Senin,(12/1/2026).
Izin berlayar dari KSOP Sumenep, ucap Anas, juga mempertimbangkan jalur pelayaran yang ditempuh kapal.
"Jadi dilihat sama-sama, apa namanya, rute yang notabenenya tidak mengikuti rute yang BMKG. Contoh yang BMKG, selat utaranya Sumenep, utaranya Sapudi, bagian itulah yang tidak dilewati oleh kapal-kapal kecil lainnya seperti (Dharma) Kartika, yang notabene ke Sapudi, jadi tidak memungkinkan," tambahnya.
Anas menyebut kapal dengan ukuran kecil tidak diizinkan berlayar. Kapal seperti Dharma Kartika dan Ekspress Bahari yang memiliki GT di bawah 1.000 dilarang melayani rute pelayaran selama kondisi cuaca masih buruk.
Sedangkan kapal besar dinilai lebih mampu menghadapi gelombang tinggi di rute tertentu.
"Kalau mengarahnya tidak pada gelombang itu, sesuai BMKG, diperbolehkan. Contoh ke Masalembu, Kangean, Sapeken, Jangkar, itu kapal yang gede-gede semua. Tapi yang kecil-kecil tidak sanggup dengan kondisi itu," katanya.
Pihaknya juga menegaskan, larangan berlayar tidak diberlakukan secara menyeluruh tanpa mempertimbangkan kondisi masyarakat kepulauan. "Kalau kita larang semua seperti apa yang ada di BMKG, berarti kita nanti kita tidak bisa melihat kondisi ekonomi yang di sana dan kekurangan bahan makanan, habis semua. Makanya dikondisikan dengan melihat kondisi kapal," ujarnya.
Dijelaskan, beberapa pekan ke depan, potensi cuaca buruk masih berlanjut. "Apalagi, minggu depan dimungkinkan seperti itu lagi, seperti itu lagi (ada larangan berlayar), ada gelombang yang tinggi lagi," pungkas Anas. (*)
Next News

Harumkan Sumenep, Gita Nada Idaman Al-Munawarah Raih Juara 2 WBL Marching Competition Season 5
19 hours ago

Balap Liar di JLS Sampang, 36 Sepeda Motor Diamankan Polisi
19 hours ago

Melihat Sampang dari Seberang Jalan: Menggugat Pendidikan dan Ruang Perempuan Lewat Diskusi Literasi
21 hours ago

MUI dan HMI Bangkalan Gelar Bedah Buku Etika Pengolahan Air Limbah
21 hours ago

Penginjak Alquran di Pamekasan Terancam 5 Tahun Penjara
21 hours ago

600 Ton Beras SPHP Diduga Dioplos, Kerugian Negara Capai Rp3,3 Miliar
a day ago

Pengurus Ranting dan Lembaga MWC NU Pulau Mandangin 2026-2031 Resmi Dilantik
a day ago

Warga Bangkalan Temukan Bayi Perempuan Menangis di Teras Toko
3 days ago

Pura-pura Tanya Alamat, Pria Tak Dikenal di Bangkalan Diduga Lecehkan Siswi
3 days ago

HCML Tuan Rumah GCM ke-336, Perkuat Koordinasi Pasokan Gas Jawa Timur–Jawa Tengah
3 days ago




