Minggu, 12 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Cara Keluar dari Jebakan Scrolling yang Bikin Nagih

Redaksi - Friday, 10 April 2026 | 09:00 PM

Background
Cara Keluar dari Jebakan Scrolling yang Bikin Nagih
Cara Keluar dari Jebakan Scrolling yang Bikin Nagih (istimewa/)

Seni Mengatur Waktu: Antara Produktivitas Sat-Set dan Jebakan Rebahan

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau jam di dinding itu kayaknya lari maraton, sementara kita sendiri masih merangkak di garis start? Baru aja buka mata, niatnya mau produktif biar kayak influencer LinkedIn yang jam lima pagi udah meditasi dan minum jus kale, eh tau-tau matahari udah di atas kepala. Begitu cek handphone, waktu kita justru habis buat scrolling video kucing yang sebenernya nggak penting-penting amat tapi entah kenapa bikin nagih.

Fenomena ngerasa "kurang waktu" ini udah jadi penyakit kronis anak muda zaman sekarang. Kita sering bilang nggak punya waktu buat olahraga atau belajar skill baru, tapi kita punya stok waktu yang melimpah buat maraton serial drama yang jumlah episodenya belasan. Ironis banget, kan? Padahal, semua orang di dunia ini—dari Elon Musk sampai abang gorengan di depan gang—sama-sama dikasih jatah 24 jam sehari. Bedanya cuma di cara kita "menggoreng" waktu itu biar nggak gosong sia-sia.

Kenapa Kita Sering Banget "Boncos" Waktu?

Masalah utama dari manajemen waktu itu sebenernya bukan soal kita nggak punya jam tangan yang mahal atau aplikasi to-do list yang paling mutakhir. Masalahnya ada di kepala kita sendiri. Ada istilah namanya procrastination alias nunda-nunda. Kita sering terjebak dalam pikiran "ah, ntar aja, masih banyak waktu," sampai akhirnya deadline datang menyapa dengan wajah seremnya. Di saat itulah, jurus "The Power of Kepepet" keluar, dan hasilnya biasanya cuma sekadar gugur kewajiban, bukan hasil yang maksimal.

Selain itu, gangguan atau distraksi di era digital ini bener-bener gila. Notifikasi WhatsApp, diskon di e-commerce, sampai drama di Twitter (X) itu ibarat magnet yang narik perhatian kita keluar dari jalur. Kita niatnya cuma mau ngecek email kerjaan, tapi lima menit kemudian kita malah lagi baca komentar netizen soal perselisihan selebgram yang kita bahkan nggak kenal siapa. Inilah yang bikin energi kita habis sebelum perang yang sebenernya dimulai.

Penting vs Mendesak: Jangan Ketuker!

Ada satu trik lama yang sebenernya masih relevan banget, namanya Matriks Eisenhower. Kedengarannya emang berat kayak nama jenderal perang, tapi sebenernya simpel. Intinya, kita harus bisa bedain mana yang "penting" dan mana yang "mendesak". Seringkali kita terjebak ngerjain hal-hal yang mendesak tapi nggak penting, kayak balesin chat grup yang isinya cuma stiker lucu, sementara tugas skripsi atau project kantor yang penting malah dicuekin.



Coba deh, mulai sekarang bagi kegiatan kalian jadi empat kotak. Kotak pertama buat yang penting dan mendesak (hajar sekarang juga!). Kotak kedua buat yang penting tapi nggak mendesak (ini yang biasanya bikin kita sukses di masa depan, kayak belajar bahasa asing atau investasi). Kotak ketiga buat yang nggak penting tapi mendesak (bisa didelegasikan atau dikurangin). Dan kotak terakhir? Buat yang nggak penting dan nggak mendesak. Nah, di kotak terakhir inilah biasanya "rebahan tanpa tujuan" bersarang. Kurang-kurangin deh nongkrong di kotak ini kalau nggak mau masa depan suram.

Teknik Pomodoro: Kerja Rasa Main

Kalau kalian tipe orang yang susah fokus lama-lama, coba deh teknik Pomodoro. Ini bukan nama saus pasta, tapi metode manajemen waktu yang nemuin orang Italia. Caranya: kerja fokus selama 25 menit, terus istirahat 5 menit. Ulangi terus sampai empat kali, baru deh ambil istirahat yang agak panjang, sekitar 15-30 menit.

Kenapa ini efektif? Karena otak kita itu sebenernya nggak didesain buat fokus gila-gilaan selama berjam-jam tanpa jeda. Dengan adanya jeda 5 menit, otak kita dapet "reward" kecil buat sekadar stretching atau ambil minum. Rasanya jadi kayak main game, ada level-levelnya. Nggak kerasa, kerjaan yang tadinya numpuk jadi selesai satu per satu tanpa bikin kita stres sampai pengen resign dari kehidupan.

Jangan Mau Jadi Budak To-Do List

Tapi ya, ada satu hal yang perlu diingat: jangan sampai obsesi kita sama manajemen waktu malah bikin kita jadi robot. Banyak orang yang saking pengennya produktif, jadwalnya padat banget dari bangun tidur sampai merem lagi. Nggak ada ruang buat bernapas. Akhirnya apa? Burnout. Capek mental. Terus ujung-ujungnya malah jadi nggak ngapa-ngapain sama sekali karena saking stresnya liat list yang panjangnya kayak kereta api.

Manajemen waktu yang sehat itu bukan tentang seberapa banyak tugas yang bisa kita selesaikan dalam sehari, tapi tentang seberapa berkualitas waktu yang kita gunakan. Nggak apa-apa kok kalau hari ini cuma bisa ngerjain dua hal besar daripada sepuluh hal kecil yang nggak ada dampaknya. Kasih ruang buat diri sendiri buat ngerasain bosan, karena dari rasa bosan itu biasanya ide-ide kreatif muncul.



Self-Management Adalah Kunci

Pada akhirnya, manajemen waktu itu sebenernya adalah manajemen diri (self-management). Kita nggak bisa ngatur waktu karena waktu bakal terus jalan terlepas dari apa yang kita lakuin. Yang bisa kita atur adalah prioritas, fokus, dan energi kita. Mulailah dari hal kecil. Misalnya, taruh handphone di ruangan lain pas lagi kerja, atau belajar bilang "nggak" buat ajakan nongkrong yang sebenernya kita lagi nggak pengen banget ikut.

Jadi, gimana? Masih mau nyalahin waktu yang cepet habis, atau mulai coba buat jadi nahkoda buat jadwal kalian sendiri? Ingat gaes, waktu itu satu-satunya sumber daya yang kalau udah abis, nggak bisa di-top up pakai saldo dompet digital manapun. Gunakan dengan bijak, tapi jangan lupa buat tetep waras dan bahagia. Selamat mencoba jadi kaum sat-set yang tetep punya waktu buat santai!