Kamis, 9 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Budaya lokal dan teknologi

Redaksi - Thursday, 09 April 2026 | 08:00 AM

Background
Budaya lokal dan teknologi
Budaya lokal dan teknologi ( Istimewa/)

Ketika Janur Kuning Bertemu Algoritma: Gimana Budaya Lokal Bertahan di Era Scroll-Scroll

Bayangkan sebuah pemandangan yang mungkin sepuluh tahun lalu bakal bikin kening kita berkerut heran. Ada seorang nenek di pelosok desa, masih pakai kebaya lengkap dengan sanggulnya, tapi tangan kanannya lincah banget nge-scroll TikTok buat cari resep masakan tradisional yang hampir punah. Atau, coba tengok acara pernikahan di gedung mewah Jakarta yang dekorasinya kental adat Jawa, tapi di sebelah kotak sumbangan ada barcode QRIS buat tamu yang lupa bawa amplop atau emang udah nggak pernah pegang cash. Lucu? Mungkin. Tapi inilah realitas kita sekarang: ketika budaya lokal dan teknologi mutakhir mutusin buat jadian, meski hubungannya kadang rada toxic tapi seringnya malah bikin gemas.

Ada anggapan kolot yang bilang kalau teknologi itu musuh bebuyutan budaya. Katanya, internet bakal bikin anak muda lupa sama silsilah keluarga atau bikin seni tradisional jadi berdebu di museum. Tapi kalau kita lihat pake kacamata yang lebih jernih, kenyataannya nggak sesuram itu. Teknologi justru jadi "nyawa tambahan" buat budaya yang hampir sekarat. Dulu, kalau mau nonton wayang kulit, kita harus nunggu ada hajatan besar atau datang ke alun-alun semalam suntuk. Sekarang? Tinggal buka YouTube, ketik nama dalang favorit, dan kita bisa nonton Ki Seno (Alm) sambil rebahan dan makan seblak. Esensinya berubah? Mungkin. Tapi jangkauannya? Jelas jauh melampaui batas geografis.

Budaya Bukan Lagi Barang Museum, Tapi Konten yang Estetik

Mari kita jujur, anak muda zaman sekarang itu makhluk yang sangat visual. Sesuatu nggak dianggap eksis kalau nggak ada buktinya di Instagram atau masuk FYP. Nah, di sinilah teknologi berperan jadi "make-up" buat budaya lokal. Dulu, pakai kain batik atau tenun dianggap tua, formal, dan kaku banget. Sekarang? Muncul gerakan "Berkain" di media sosial yang bikin pakai wastra nusantara jadi kelihatan skena dan keren abis. Lewat filter-filter estetik dan transisi video yang ciamik, kain tradisional yang proses pembuatannya berbulan-bulan itu dapet panggung yang lebih luas.

Nggak cuma soal fashion, musik tradisional juga dapet panggung baru. Inget lagu "Lathi" dari Weird Genius? Itu adalah contoh paling epik gimana gamelan dan sinden Jawa bisa kawin lari sama musik EDM yang jedag-jedug. Hasilnya? Meledak sampai ke luar negeri. Orang luar jadi penasaran sama unsur mistis dan eksotisme budaya kita. Tanpa teknologi rekaman yang canggih dan algoritma media sosial, mungkin lagu itu cuma bakal diputar di radio komunitas tertentu aja. Teknologi bikin budaya kita nggak cuma jago kandang, tapi punya daya tawar di pasar global tanpa harus kehilangan jati diri.

Digitalisasi Ritual: Antara Praktis dan Hilangnya Kesakralan

Tapi, nggak semua orang setuju sama kemesraan ini. Ada perdebatan menarik soal "kesakralan". Misalnya, sekarang banyak upacara adat yang disiarkan langsung via Zoom atau Live Instagram karena keluarga besarnya mencar-mencar di luar negeri. Pertanyaannya: apakah doanya tetap sampai? Apakah aura magis dari sebuah ritual tetap terasa lewat layar smartphone yang retak-retak dikit? Ini masalah rasa, dan tiap orang punya opininya masing-masing.



Beberapa tetua mungkin merasa kalau budaya itu harus dirasakan langsung, dihirup bau kemenyan atau melatinya, dan disentuh fisiknya. Namun, buat generasi Gen Z yang serba sat-set, efisiensi itu nomor satu. Mereka lebih milih pesan sesajen atau perlengkapan ibadah lewat marketplace daripada harus ribet ke pasar tradisional yang becek. Di satu sisi, ini membantu UMKM pengrajin lokal buat tetap laku di tengah gempuran produk impor. Di sisi lain, ada proses "human touch" yang hilang. Tapi ya mau gimana lagi, dunia terus berputar, dan budaya yang nggak mau beradaptasi biasanya bakal ditinggalin sama zamannya.

AI dan Masa Depan Warisan Nenek Moyang

Yang lebih gila lagi, sekarang kita sudah masuk ke era Artificial Intelligence (AI). Ada banyak eksperimen di mana AI diajarin buat mengenali pola batik dari berbagai daerah, atau bahkan menciptakan motif batik baru yang belum pernah ada sebelumnya berdasarkan data ribuan motif lama. Ada juga aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa daerah yang hampir punah ke dalam bahasa Indonesia atau Inggris secara real-time. Ini adalah bentuk penyelamatan yang nggak pernah terpikirkan oleh nenek moyang kita dulu.

Teknologi bukan lagi sekadar alat, tapi sudah jadi arsip raksasa. Kalau dulu sejarah budaya kita cuma diturunin lewat lisan yang berisiko "distorsi" atau lupa, sekarang semua bisa disimpan di cloud. Data-data soal gerakan tari, tangga nada alat musik tradisional, sampai filosofi di balik ukiran rumah adat bisa diakses siapa saja, kapan saja. Ini semacam jaminan kalau identitas kita nggak bakal hilang ditelan bumi, selama server internetnya masih nyala.

Kesimpulan: Jangan Alergi Sama Perubahan

Pada akhirnya, budaya itu sifatnya dinamis, bukan benda mati yang nggak boleh berubah. Budaya yang kuat adalah budaya yang bisa "numpang" di atas kemajuan zaman tanpa harus jadi hamba teknologi itu sendiri. Kita nggak perlu parno kalau anak cucu kita nanti belajar silat lewat VR (Virtual Reality) atau dengerin musik keroncong versi lo-fi buat nemenin belajar. Itu cuma cara mereka mencintai warisannya dengan bahasa yang mereka mengerti.

Jadi, buat kalian yang masih suka ngerasa "ih, kok budaya dijadiin konten sih?", coba deh ubah sudut pandangnya. Konten adalah bahasa universal zaman sekarang. Kalau kita nggak masuk ke sana, jangan kaget kalau suatu saat budaya kita diklaim atau malah beneran hilang karena nggak ada yang tahu. Selama kita masih punya rasa memiliki, teknologi justru bakal jadi pengeras suara yang bikin dentum budaya lokal kita terdengar sampai ke ujung dunia. Yuk, tetap bangga sama kearifan lokal, tapi jangan gaptek-gaptek amat lah ya!