Kamis, 9 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Kisah inspiratif tokoh lokal

Redaksi - Thursday, 09 April 2026 | 08:00 AM

Background
Kisah inspiratif tokoh lokal
Kisah inspiratif tokoh lokal ( Istimewa/)

Menunggangi Harapan: Kisah Ridwan Sururi dan Perpustakaan Berjalan di Atas Punggung Kuda

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau dunia sekarang itu isinya cuma soal scrolling tanpa henti di layar smartphone? Bangun tidur cek notifikasi, mau makan difoto dulu, sampai mau tidur pun jempol masih sibuk geser-geser TikTok atau Instagram. Di tengah hiruk-pikuk digital yang bikin otak sering burnout ini, ternyata di sebuah sudut tersembunyi di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah, ada seorang pria yang milih jalan yang benar-benar "analog" tapi dampaknya luar biasa gokil. Namanya Ridwan Sururi.

Jujurly, kalau kita bicara soal pahlawan literasi, mungkin yang kebayang adalah orang-orang berdasi di perpustakaan nasional atau aktivis yang sering masuk podcast ternama. Tapi Mas Ridwan ini beda. Dia bukan tech-entrepreneur, bukan juga influencer dengan jutaan follower. Dia cuma seorang pria sederhana dari Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, yang punya ide "gila": membawa buku-buku bacaan ke anak-anak desa dengan menunggangi seekor kuda. Iya, kalian nggak salah baca. Pakai kuda, kawan!

Bukan Sekadar Gaya-gayaan, Ini Soal Akses

Gerakan yang dia kasih nama "Kuda Pustaka" ini bermula sekitar tahun 2015. Bayangin aja, di saat anak-anak kota udah sibuk main iPad, anak-anak di lereng gunung masih sering kesulitan buat dapetin akses bacaan yang bermutu. Mas Ridwan yang sehari-harinya memang bekerja merawat kuda milik orang lain, merasa ada yang kurang kalau kuda-kuda itu cuma dipakai buat keliling-keliling tanpa tujuan yang jelas. Akhirnya, muncul ide buat naruh boks kayu berisi buku di punggung kuda kesayangannya, Luna.

Setiap Selasa, Rabu, dan Kamis, Mas Ridwan bakal nuntun Luna keliling desa, masuk ke sekolah-sekolah, atau sekadar mangkal di pinggir jalan yang banyak anak-anaknya. Reaksi anak-anak? Wah, jangan ditanya. Ngelihat kuda aja udah seneng, apalagi kudanya bawa "harta karun" berupa buku cerita bergambar yang seru-seru. Inilah yang namanya jemput bola dalam artian yang sebenarnya. Mas Ridwan nggak nunggu anak-anak datang ke perpustakaan, tapi dia yang nyamperin mereka ke tempat mereka bermain.

Melawan Arus di Tengah Gempuran Gadget

Banyak yang bilang kalau minat baca orang Indonesia itu rendah banget. Tapi kalau kita lihat apa yang terjadi di Purbalingga, mungkin masalahnya bukan di "minat", tapi di "akses". Pas Mas Ridwan datang, anak-anak itu berebut buku kayak lagi dapet giveaway saldo e-wallet. Ada yang baca sambil duduk di rumput, ada yang serius banget ngelihatin gambar hewan, sampai ada yang nggak mau pulang kalau belum kelar satu judul.



Bagi Mas Ridwan, ngelihat anak-anak itu lepas dari layar HP sejenak adalah kebahagiaan yang nggak bisa dibayar pakai uang. Memang sih, tantangannya nggak main-main. Cuaca di lereng gunung itu sering nggak tertebak. Kadang lagi asyik jalan, eh hujan turun deras. Dia harus buru-buru nutupin buku-bukunya pakai plastik biar nggak rusak. Belum lagi kalau kudanya lagi nggak fit atau "moody". Namanya juga makhluk hidup, bukan mesin motor yang tinggal gas pol.

Mendidik dengan Hati, Bukan Gengsi

Satu hal yang bikin salut adalah Mas Ridwan ini nggak narik biaya sepeser pun. Gratis tis! Dia murni pengen berbagi. Bahkan buku-buku yang dia bawa awalnya cuma koleksi pribadi atau sumbangan dari teman-temannya. Lambat laun, karena ceritanya viral (nah, ini fungsi medsos yang bener), banyak orang dari luar kota bahkan luar negeri yang ngirim buku buat nambah koleksi Kuda Pustaka.

Gue mikir, di zaman yang serba transaksional kayak sekarang, orang kayak Mas Ridwan ini langka banget. Dia ngajarin kita kalau buat bikin perubahan itu nggak perlu nunggu punya modal miliaran atau nunggu instruksi dari pemerintah. Modal utamanya cuma satu: peduli. Dia nggak butuh panggung mewah buat disebut inspiratif. Cukup suara derap langkah kaki kuda di jalanan desa udah jadi musik yang paling indah buat masa depan literasi anak-anak di sana.

Pelajaran Buat Kita yang "Anak Kota"

Kisah Mas Ridwan Sururi ini seolah-olah jadi tamparan lembut buat kita semua. Kita sering banget ngeluh soal fasilitas yang kurang, sinyal yang lemot, atau buku yang mahal. Padahal di luar sana, ada orang yang konsisten berjuang cuma berbekal seekor kuda dan tumpukan buku bekas demi nyelamatin imajinasi anak bangsa. Dia membuktikan kalau kreativitas itu nggak ada batasnya. Kalau nggak ada gedung perpustakaan, ya punggung kuda pun jadi.

Ke depannya, kita butuh lebih banyak "orang gila" kayak Mas Ridwan ini di berbagai bidang lain. Tokoh lokal yang punya inisiatif nyata tanpa banyak drama. Karena sejujurnya, pahlawan yang beneran itu seringkali nggak pakai jubah atau punya kekuatan super. Mereka cuma orang biasa yang mutusin buat melakukan hal kecil secara terus-menerus sampai akhirnya jadi besar.



Jadi, kalau besok kalian merasa malas atau ngerasa hidup kalian nggak bermakna, coba deh ingat sosok Mas Ridwan dan Luna. Kalau mereka aja bisa jalan berkilo-kilometer naik turun bukit demi selembar pengetahuan, masa kita yang jalannya di aspal mulus masih mau kalah semangat? Mari kita dukung gerakan-gerakan lokal kayak gini, entah itu dengan nyumbang buku atau sekadar nyebarin ceritanya supaya makin banyak orang yang tergerak buat berbuat baik dengan cara yang paling sederhana sekalipun.

Singkat kata, Mas Ridwan Sururi bukan cuma lagi nganterin buku. Dia lagi nganterin harapan, imajinasi, dan mimpi-mimpi anak desa ke tempat yang lebih tinggi. Dan itu, teman-teman, jauh lebih berharga daripada trending topic mana pun hari ini.