Kamis, 9 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Budaya gotong royong modern

Redaksi - Thursday, 09 April 2026 | 09:00 AM

Background
Budaya gotong royong modern
Budaya gotong royong modern ( Istimewa/)

Gotong Royong 2.0: Saat Jempol Lebih Sakti daripada Cangkul

Coba deh ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu ikut kerja bakti di lingkungan rumah? Kalau jawabannya adalah waktu masih SD karena disuruh guru atau pas lagi ada lomba tujuh belasan, tenang saja, kamu nggak sendirian. Di tengah hiruk-pikuk kota besar yang isinya manusia-manusia sibuk bin individualis, narasi gotong royong seringkali terdengar seperti dongeng lama yang cuma muncul di buku teks Pendidikan Kewarganegaraan. Bayangan kita tentang gotong royong biasanya mentok di bapak-bapak pakai kaos oblong yang lagi bersihin selokan atau ibu-ibu yang sibuk masak di dapur umum pas ada hajatan warga.

Tapi, jujur saja, dunia sudah berubah drastis. Kalau kita masih pakai kacamata lama buat melihat gotong royong, ya jelas kita bakal merasa budaya ini sudah punah ditelan bumi. Padahal, kalau mau sedikit jeli, gotong royong itu nggak mati. Dia cuma lagi "ganti baju" atau istilah kerennya, lagi bertransformasi mengikuti zaman. Gotong royong modern itu nggak selalu soal angkut cangkul atau mindahin rumah kayu panggung bareng-bareng. Hari ini, gotong royong bisa terjadi lewat layar smartphone sambil rebahan di kamar kosan.

Transformasi ke Dunia Digital

Pernah dengar istilah "The Power of Netizen"? Nah, menurut saya, itu adalah bentuk paling mutakhir dari gotong royong modern. Ingat kasus-kasus viral di mana ada orang yang kesusahan, lalu dalam hitungan jam, donasi terkumpul ratusan juta lewat platform crowdfunding? Itu adalah gotong royong tanpa batas wilayah. Kita nggak kenal siapa yang dibantu, kita nggak pernah ketemu sama pemberi donasi lainnya, tapi ada satu perasaan kolektif yang bikin kita mau patungan buat satu tujuan. Ini keren banget, karena empati ternyata bisa menembus algoritma media sosial yang biasanya cuma isinya pamer outfit of the day.

Selain donasi, gotong royong modern juga muncul dalam bentuk penyebaran informasi. Pas ada bencana alam, Twitter—atau yang sekarang namanya X—langsung penuh dengan info bantuan, rute evakuasi, sampai daftar kontak darurat yang dibuat secara kolaboratif oleh netizen. Nggak ada yang bayar mereka buat bikin itu, semuanya gerak karena rasa kepedulian. Inilah wajah baru kerja bakti kita: bukan lagi nyapu jalanan, tapi "nyapu" hoaks dan menyebarkan kebermanfaatan secara kolektif.

Komunitas dan Budaya Sharing

Beralih sedikit dari dunia maya, gotong royong modern juga terasa kental di lingkaran komunitas hobi atau profesional. Anak-anak muda sekarang hobi banget bikin komunitas, mulai dari komunitas lari, pecinta kopi, sampai kelompok belajar coding gratis. Di sini, semangat "sharing is caring" jadi bahan bakarnya. Mereka nggak pelit ilmu. Yang sudah jago bakal ngajarin yang baru belajar tanpa minta bayaran profesional. Semangat kolaborasi ini jauh lebih kental daripada kompetisi.



Bahkan, coba perhatikan ekosistem open-source di dunia teknologi. Ribuan orang di seluruh dunia bekerja sama memperbaiki baris kode tanpa pernah bertatap muka. Mereka punya satu tujuan: bikin sesuatu yang bisa dipakai bareng-bareng. Kalau ini bukan gotong royong, terus apa lagi? Jadi, kalau ada orang tua yang bilang anak zaman sekarang itu individualis banget, mungkin mereka cuma belum masuk ke grup-grup Discord atau Telegram yang isinya orang-orang saling bantu memecahkan masalah teknis atau sekadar kasih info lowongan kerja.

Individualisme atau Efisiensi?

Memang sih, ada kritik yang bilang kalau gotong royong modern itu kurang "berjiwa" karena nggak ada interaksi fisik. Kita jadi jarang ngobrol sama tetangga sebelah rumah karena semuanya sudah bisa dipesan lewat ojek online atau diselesaikan lewat chat grup WhatsApp RT. Ada benarnya juga. Kedekatan emosional yang dibangun lewat keringat bareng-bareng saat benerin atap rumah tetangga itu beda rasanya sama sekadar kirim saldo lewat e-wallet.

Namun, kita juga harus realistis. Gaya hidup masyarakat urban yang mobilitasnya tinggi bikin pertemuan fisik jadi barang mewah. Gotong royong modern menawarkan efisiensi. Kita tetap bisa berkontribusi bagi masyarakat tanpa harus mengorbankan waktu kerja atau istirahat yang memang sudah sangat tipis. Gotong royong versi baru ini sifatnya lebih fleksibel dan inklusif. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja bisa ikutan.

Menjaga Roh yang Sama

Pada akhirnya, gotong royong itu soal nilai, bukan soal caranya. Caranya boleh berubah, dari fisik ke digital, dari cangkul ke jempol, tapi rohnya harus tetap sama: kepedulian terhadap sesama. Kita nggak boleh lupa kalau kita ini makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri. Budaya gotong royong modern ini justru jadi bukti kalau di tengah kemajuan teknologi yang sering dianggap bikin manusia jadi dingin, kita masih punya sisi hangat untuk saling bantu.

Beberapa poin yang menandai betapa asyiknya gotong royong versi sekarang antara lain:



  • Kecepatan: Masalah bisa selesai dalam hitungan menit lewat kekuatan viralitas.
  • Jangkauan: Kita bisa bantu saudara kita di pelosok Papua tanpa harus terbang ke sana.
  • Inklusivitas: Semua orang punya panggung yang sama buat berkontribusi, nggak peduli apa status sosialnya.
  • Transparansi: Lewat sistem digital, kita bisa memantau bantuan kita sampai ke mana dengan lebih jelas.

Jadi, buat kalian yang merasa nggak "Indonesia banget" karena jarang ikut kerja bakti di komplek, coba cek lagi aktivitas digital kalian. Apakah kalian pernah bantu share info orang hilang? Pernah ikut donasi seribu dua ribu buat kampanye lingkungan? Atau pernah bantu teman di grup chat yang lagi bingung ngerjain tugas? Kalau iya, selamat! Kamu sudah mempraktikkan gotong royong modern. Jangan biarkan semangat ini padam cuma karena kita merasa cara kita beda sama orang tua kita dulu. Zaman boleh makin canggih, tapi rasa mau saling bantu harus tetap jadi core value kita sebagai bangsa. Yuk, teruskan semangat gotong royongnya, entah itu di dunia nyata maupun di dunia maya!