Banjir Rob Rendam Kepulauan di Sumenep
Redaksi - Friday, 19 June 2026 | 06:58 AM


salsabilafm.com - Banjir rob kembali merendam Pulau Sadulang Kecil, Desa Sadulang, Kecamatan Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Jumat (19/6/2026). Fenomena ini tidak hanya membuat air laut masuk ke permukiman, tetapi juga menyebabkan air muncul dari dalam tanah di sekitar rumah warga.
Sekretaris Desa Sadulang, Bustamil Arifin, mengatakan, banjir rob telah terjadi sekitar sepekan terakhir. Genangan tidak hanya terjadi di Pulau Sadulang Kecil, tetapi juga melanda Pulau Sadulang Besar dan sebagian wilayah Kepulauan Sapeken.
"Sudah sekitar satu minggu (banjir rob). Tidak hanya di Sadulang Kecil, tetapi juga di Sadulang Besar dan sebagian wilayah Sapeken," kata Bustami.
Menurut Bustamil, di Pulau Sadulang Besar, umumnya banjir rob datang pada malam hari. Air tersebut masuk ke rumah-rumah warga sehingga mengganggu waktu istirahat. Sejumlah warga bahkan melaporkan kasur mereka ikut terendam.
Sementara di Pulau Sadulang Kecil, genangan tidak seluruhnya berasal dari limpasan air laut. Sebagian air justru muncul dari dalam tanah di sekitar rumah warga. Kondisi itu terjadi karena posisi Pulau Sadulang Kecil lebih rendah dibandingkan permukaan laut.
"Air tidak hanya masuk dari laut, tetapi juga keluar dari dalam tanah di sekitar rumah warga. Itu yang terjadi di Sadulang Kecil," kata Bustamil.
Bustamil mengatakan, banjir rob di wilayah tersebut sulit diatasi. Pembangunan tanggul laut tidak akan sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena sumber genangan juga berasal dari rembesan air bawah tanah.
"Kalaupun dibangun tanggul laut, banjir rob tetap akan terjadi karena airnya muncul dari dalam tanah. Jadi masalahnya bukan hanya air laut yang meluap," ungkapnya.
Dia menambahkan, banjir rob paling berbahaya saat disertai angin kencang. Sebab, air pasang akan membawa sampah ke permukiman dan memperparah kondisi lingkungan.
"Kalau rob disertai angin kencang, sampah ikut terbawa ke permukiman. Kondisi itu membuat aktivitas warga semakin terganggu," jelasnya
Meski banjir rob terjadi hampir setiap tahun, Bustamil mengatakan, warga terpaksa harus membiasakan diri menghadapi kondisi tersebut. Genangan tetap menghambat aktivitas sehari-hari, terutama saat air masuk ke rumah dan menutup akses di lingkungan permukiman.
"Warga tidak mengungsi. Terpaksa bertahan," pungkasnya. (*)
Next News

Omzet Penjual Bendera di Sampang Turun, Warga Lebih Memilih Beli Online
9 hours ago

Target Selesai Juni, Proyek Gedung Poltera Senilai Rp59 Miliar Baru Capai 85 Persen
9 hours ago

Peserta Lomba Gerak Jalan di Sampang Dibatasi untuk Pelajar, Kategori Umum Ditiadakan
9 hours ago

Koalisi Jurnalis dan Masyarakat Sipil Surabaya Kecam Pelabelan 'Londo Ireng' oleh Presiden Prabowo Subianto
11 hours ago

SPPG dan KDKMP di Sampang Belum Urus PBG, Dinas PUPR: Kami Sudah Surati Mereka
13 hours ago

PAD PBG Sampang Capai 83 Persen, Dinas PUPR Optimis Tembus Rp1 Miliar
14 hours ago

BPBD Sampang Selidiki Suara Gemuruh Air Misterius di Area Persawahan Warga
14 hours ago

BMKG Imbau Nelayan dan Operator Kapal Waspadai Angin Kencang di Perairan Sumenep
14 hours ago

Korban Kapal KM Mutiara Sentosa 2 Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak
14 hours ago

4 Penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 dilaporkan Meninggal Dunia, 218 Orang Selamat
14 hours ago





