Arab Saudi Larang Impor Unggas dari 40 Negara, Mentan Dorong Ekspor Produk Olahan
Redaksi - Tuesday, 03 March 2026 | 03:48 AM


salsabilafm.com – Saudi Food and Drug Authority (SFDA) resmi melarang impor unggas dan telur dari 40 negara, termasuk Indonesia. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan masyarakat serta memperkuat standar keamanan pangan domestik Arab Saudi.
Meski demikian, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menilai kebijakan tersebut bukan ancaman, melainkan peluang untuk mendorong hilirisasi produk peternakan Indonesia.
"Iya, itu untuk unggas, tapi olahan tidak. Ya kita olah, justru nilainya lebih tinggi. Itulah kalau bisnis," ujar Amran usai melepas ekspor produk unggas dan turunannya di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Amran menjelaskan, produk ayam hidup memiliki nilai ekspor sekitar Rp30.000 per kilogram. Namun, jika diolah menjadi produk siap makan (ready to eat) atau siap saji (ready to serve), nilainya bisa meningkat hingga dua kali lipat.
"Kalau ayam saya ekspor harganya Rp30.000 per kg. Kalau ini barang jadi, dua kali lipat. Pilih mana? Justru kita bersyukur karena Arab melarang unggas. Ini saya kirim produk olahan. Senang Rp60.000 atau Rp30.000?" ujarnya.
Menurut dia, langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait program hilirisasi komoditas untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
Direktur Charoen Pokphand Jaya Farm, Jusi Jusran, membenarkan bahwa Arab Saudi memang belum membuka impor unggas hidup maupun karkas ayam beku dari Indonesia.
Namun, dia menegaskan peluang ekspor produk olahan tetap terbuka.
"Tidak mengirimkan karkas ayam beku atau unggas hidup ke Arab Saudi itu bukan akhir dunia. Mengirimkan produk olahan ready to eat atau ready to serve justru lebih besar nilainya," kata Jusi.
Dia menjelaskan, proses pembukaan akses pasar melalui kerja sama government to government (G2G) sudah berjalan sejak tiga tahun lalu. Kini, Indonesia mulai mendapat persetujuan untuk mengirim produk olahan yang telah melalui proses pemanasan (heat treatment).
Meski peluang terbuka, tantangan tetap besar. Jusi mengakui persaingan ekspor produk unggas sangat ketat, terutama dengan negara seperti Brasil, Amerika Serikat, dan Thailand yang memiliki harga lebih kompetitif.
Menurutnya, selama ini Arab Saudi banyak mengandalkan pasokan dari negara-negara tersebut. Namun, pihaknya bersama pemerintah terus mengupayakan agar produk Indonesia dapat masuk tidak hanya untuk kebutuhan jamaah haji, tetapi juga pasar komersial seperti hotel, restoran, dan katering.
Dia juga mengungkapkan telah bertemu dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk membahas pemenuhan persyaratan teknis ekspor ke Arab Saudi.
"Mudah-mudahan akhir 2026 ini ada sinyal yang baik untuk produk Charoen Pokphand," pungkas Jusi. (*)
Next News

Warga Bangkalan Temukan Bayi Perempuan Menangis di Teras Toko
a day ago

Pura-pura Tanya Alamat, Pria Tak Dikenal di Bangkalan Diduga Lecehkan Siswi
a day ago

HCML Tuan Rumah GCM ke-336, Perkuat Koordinasi Pasokan Gas Jawa Timur–Jawa Tengah
a day ago

Bupati Sampang Ajak Masyarakat Manfaatkan Program Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor
2 days ago

Ratusan Mahasiswa UTM Datangi Kantor Pemkab Bangkalan, Tuntut Perlindungan Usai Kasus Pembegalan
2 days ago

Mobil Terbakar di Pintu Keluar SPBU Pamekasan, Warga: Ada Jeriken Isi BBM
2 days ago

Identitas Pria yang Ditemukan Meninggal di Bukit Plakpak Pamekasan Terungkap
2 days ago

Pemerintah Sebut Aspirasi Mahasiswa pada Demonstrasi 28 Oktober Jadi Prioritas Kebijakan
2 days ago

Kejari Periksa Eks Pj Bupati Sampang dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek SMP
3 days ago

Satreskrim Polres Sampang Ingatkan Ancaman 6 Tahun Penjara bagi Penyalahgunaan BBM Subsidi
3 days ago

