Antisipasi Kemarau Panjang, 29 Desa di Bangkalan Masuk Prioritas Bantuan Air Bersih
Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 10:30 AM


salsabilafm.com - Pemerintah Kabupaten Bangkalan mulai bersiap menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada 2026.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei hingga Juni, dengan puncaknya pada Juli–Agustus dan berakhir sekitar September–Oktober.
Merespon hal tersebut, BPBD Kabupaten Bangkalan melakukan pemetaan terhadap sejumlah desa yang berpotensi terdampak musim kemarau.
Pemerintah Kabupaten Bangkalan telah memprioritaskan sebanyak 29 desa untuk diberi bantuan air bersih.
"29 desa prioritas itu tersebar di enam kecamatan meliputi Konang, Tanah Merah, Kokop, Geger, Arosbaya, dan Kecamatan Sepulu," ucap Kepala Pelaksana BPBD Bangkalan, Moh Zainul Qomar, Senin (6/4/2026).
Di Kecamatan Konang terdiri dari lima desa; Galis Dajah, Kanagarah, Durin Barat, Batukaban, dan Durin Timur.Untuk Kecamatan Tanah Merah meliputi tiga desa; Pangeleyan, Padurunga, dan Tanah Merah Dajah. Sementara Kecamatan Arosbaya diprioritaskan satu desa, yakni Desa Batonaong.
Selanjutnya, Kecamatan Geger terdiri dari enam desa; Komabangan, Lerpak, Banyeor Dajah, Banyeor Laok, Katol Barat, dan Desa Dabung
Prioritas bantuan air bersih di Kecamatan Sepulu meliputi lima desa yang terdiri dari Desa Klapayan, Gangseyan, Lergunong, Bangsereh, dan Desa Kelbung.
"Informasi yang kami himpun dari BMKG bahwa musim kemarau di Bangkalan diprediksi terjadi mulai awal Mei atau akhir April. Jumlah desa terdampak kekeringan diprediksi juga akan bertambah, tergantung permintaan dari pihak kecamatan," jelas Qomar.
Angin kencang disertai hujan deras sesaat dalam tiga hari terakhir masih menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Bangkalan.
Anomali pancaroba itu menandakan bahwa periode musim penghujan sebentar lagi akan berakhir.
Zainul Qomar menyatakan, dinamika atomosfer sebagaimana disampaikan BMKG menunjukkan bahwa Madden-Julian Oscillation (MOJ) diperkirakan akan aktif pada fase 6 hingga fase 7 sepekan ke depan.
"Hal ini kurang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan-awan hujan di wilayahJawa Timur, termasuk di Kabupaten Bangkalan. Tanggal 4 April kemarin cuaca ekstrem sudah habis namun masih labil atau pancaroba menuju kekeringan, ujar Qomar.
Masa pancaroba saat ini, lanjutnya, dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026 yang mulai bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.
El Nino menjadi pemicu terjadi musim kekeringan di Indonesia karena suhu permuaan air laur di Samudra Pasifik lebih hangat.
Sementara La Nina meningkatkan curah hujan karena meningkatnya suhu dingin di Samudra Pasifik.
"Kekeringan tahun ini diprediksi lebih panjang karena pengaruh El Nino, diprediksi sampai akhir 2026," pungkas Qomar. (*)
Next News

Bupati Sampang Kawal Usulan Strategis di Musrenbang Jatim 2027
13 hours ago

Gelar Pasar Murah, Pertamina Patra Niaga Bantu Kebutuhan Pangan Warga Bojonegoro
14 hours ago

Kemenhaj Bangkalan Pastikan Jamaah Calon Haji Aman Selama Ibadah
14 hours ago

Warga Pulau Mandangin Keluhkan Harga LPG 3 Kg Tembus Rp30 Ribu, Pemerintah Lakukan Investigasi
19 hours ago

Pelajar SMK Tersengat Listrik di Depan Sekolah, PLN Sebut Sumber dari PJU Ilegal
19 hours ago

Prabowo Bertemu Putin di Kremlin, Sepakati Kerja Sama Energi hingga Investasi
19 hours ago

Ketegangan di Timur Tengah Kembali Meningkat, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
19 hours ago

Warga di Sampang Keluhkan Jalan Poros Desa Rusak Parah, Kades: DD Alami Pemangkasan
2 days ago

Pasca Ambruk, SDN Pangilen Terpaksa Lakukan KBM di Luar Kelas
2 days ago

Belasan CJH Sumenep Batal Berangkat Haji, Kondisi Kesehatan Jadi Faktor Utama
2 days ago




