Selasa, 7 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Tips parenting modern

Redaksi - Monday, 06 April 2026 | 10:25 AM

Background
Tips parenting modern
Tips parenting modern ( Istimewa/)

Seni Bertahan Hidup Jadi Orang Tua di Era WiFi Kencang: Antara Gentle Parenting dan Pengen Healing

Zaman sekarang, jadi orang tua itu tantangannya beda kelas. Kalau dulu orang tua kita pusing mikirin gimana caranya kita nggak main layangan sampai magrib, sekarang orang tua pusing mikirin gimana caranya anak nggak kecanduan nonton unboxing mainan di YouTube. Belum lagi tekanan sosial dari media sosial yang bikin standar jadi orang tua makin nggak masuk akal. Liat dikit ke Instagram, isinya ibu-ibu estetik yang rumahnya selalu rapi, anaknya makan brokoli dengan lahap, dan ibunya masih sempat pilates. Sementara kita? Baru mau duduk minum kopi aja, susu udah tumpah ke atas laptop.

Selamat datang di dunia parenting modern, sebuah fase di mana kita dituntut jadi manusia super yang paham psikologi anak sekaligus jago filter konten internet. Biar nggak cepat kena mental breakdown atau terjebak dalam gaya asuh yang itu-itu saja, yuk kita obrolin tip-tip parenting santai tapi berisi yang relevan buat zaman sekarang.

1. Kurangi Dosis Membandingkan Diri Sendiri

Penyakit paling kronis orang tua zaman sekarang adalah "Comparison Trap". Kita sering banget merasa gagal cuma karena anak tetangga sudah bisa baca di usia tiga tahun, atau karena kita melihat konten kreator yang anaknya selalu terlihat anteng. Padahal, yang kita lihat di layar itu cuma 15 detik dari 24 jam drama yang sebenarnya terjadi. Ingat, rumah yang rapi itu bagus, tapi rumah yang berisik karena tawa (dan sedikit tangisan) itu tanda kehidupan.

Opini jujur saya: Nggak usah terlalu ambisius pengen jadi "Perfect Parent". Cukup jadi "Good Enough Parent" saja. Anak nggak butuh orang tua yang sempurna, mereka cuma butuh orang tua yang hadir dan nggak gampang meledak emosinya gara-gara hal sepele. Jadi, kalau hari ini rumah berantakan dan makan malam cuma pesan lewat ojek online, ya sudah, dimaafkan. Dunia nggak bakal kiamat.

2. Bersahabat dengan Gadget, Bukan Memusuhinya

Melarang anak pegang gadget di tahun 2024 itu rasanya hampir mustahil, kecuali kita mau pindah ke tengah hutan. Alih-alih melarang total yang malah bikin anak jadi "kuper" atau malah makin penasaran, lebih baik kita ambil posisi sebagai pemandu sorak sekaligus satpam yang cerdas. Digital literacy itu wajib hukumnya buat orang tua.



Coba deh, sesekali duduk bareng anak pas mereka main game atau nonton video. Tanyakan apa yang seru dari sana. Dengan ikut terlibat, kita jadi tahu apa yang mereka konsumsi tanpa harus terkesan menginterogasi. Pakai fitur parental control itu perlu, tapi membangun kepercayaan jauh lebih krusial. Biar nanti kalau mereka lihat sesuatu yang aneh di internet, orang pertama yang mereka cari adalah kita, bukan Google.

3. Gentle Parenting itu Bukan Berarti Lembek

Sekarang lagi ramai istilah "Gentle Parenting". Intinya sih mengasuh dengan empati dan validasi perasaan anak. Tapi, banyak yang salah kaprah menganggap gaya ini berarti membiarkan anak berbuat seenaknya alias nggak punya batasan. Wah, itu sih namanya resep buat jadi orang tua yang "disetir" anak.

Gentle parenting yang benar itu adalah tetap tegas tapi tanpa kekerasan. Kita memvalidasi kalau mereka marah ("Iya, Ayah tahu kamu kesal karena mainannya harus disimpan"), tapi aturan tetap dijalankan ("Tapi sekarang waktunya mandi, yuk"). Kita nggak perlu teriak-teriak sampai urat leher keluar cuma buat nyuruh anak makan. Memang sih, praktiknya lebih susah daripada teori. Kadang kesabaran kita setipis tisu dibagi dua, tapi kuncinya ada di konsistensi.

4. Jangan Lupa Investasi ke "Diri Sendiri"

Sering dengar istilah "You cannot pour from an empty cup"? Itu benar banget. Banyak orang tua yang merasa bersalah kalau mereka pengen pergi nongkrong bareng teman atau sekadar tidur siang tanpa gangguan. Akhirnya, mereka memforsir diri sampai burnout. Ujung-ujungnya? Malah jadi gampang marah ke anak.

Self-care buat orang tua itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan operasional. Kalau kita bahagia, aura di rumah juga jadi lebih positif. Anak itu detektor emosi yang sangat tajam. Kalau kita stres, mereka bakal merasakannya. Jadi, jangan merasa berdosa kalau sesekali titip anak ke kakek-neneknya demi bisa nonton bioskop atau sekadar "healing" tipis-tipis di kedai kopi sebelah. Warasnya orang tua adalah fondasi kesehatan mental anak.



5. Ajarkan Life Skills, Bukan Cuma Akademis

Di era AI sekarang ini, nilai matematika 100 itu bagus, tapi kemampuan bertahan hidup dan problem solving jauh lebih penting. Ajarkan anak gimana caranya beres-beres tempat tidur sendiri, gimana caranya minta maaf kalau salah, atau sesimpel gimana caranya menghadapi kegagalan. Kita sering terlalu protektif sampai lupa kalau dunia luar itu nggak selalu ramah.

Biarkan mereka sesekali merasa kecewa karena kalah main game atau sedih karena es krimnya jatuh. Jangan langsung kita "selamatkan" dengan cara membelikan yang baru atau menyalahkan keadaan. Biarkan mereka belajar memproses emosi negatif tersebut. Itulah modal mereka buat jadi manusia yang tangguh (resilient) pas sudah gede nanti.

6. Batasi "Sharenting" yang Berlebihan

Ini nih fenomena orang tua modern yang suka banget share setiap detail hidup anak di media sosial. Hati-hati, lho. Anak kita punya hak atas privasi mereka sendiri. Mungkin sekarang mereka kelihatan lucu pas lagi nangis atau lagi tantrum, tapi bayangkan sepuluh tahun lagi pas mereka sudah remaja dan teman-temannya nemu foto itu di internet. Bisa-bisa jadi bahan bully-an.

Sebelum posting, coba pikir dua kali: "Kira-kira anakku bakal malu nggak ya kalau liat ini pas dia sudah besar nanti?" Kalau ragu, mending simpan di galeri pribadi saja. Lagipula, nggak semua momen harus divalidasi oleh jempol netizen, kan? Momen terbaik itu biasanya yang dinikmati langsung tanpa lewat lensa kamera hp.

Jadi orang tua di zaman sekarang memang nggak ada sekolahnya, dan kurikulumnya berubah terus setiap hari. Nggak perlu stres pengen jadi orang tua yang "estetik" kayak di TikTok. Yang paling penting adalah koneksi antara kita dan anak. Selama mereka merasa dicintai, didengarkan, dan aman di dekat kita, berarti kita sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa. Semangat buat para pejuang parenting, jangan lupa napas dan tetap santai!