Jalan Rusak Dikeluhkan Warga, Aktivitas Harian Jadi Terganggu
Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 07:00 AM


Drama Jalanan Berlubang: Ketika "Off-Road" Menjadi Menu Wajib Setiap Pagi
Bayangkan skenario ini: Anda baru saja bangun pagi dengan semangat yang lumayan oke. Mandi sudah segar, kopi sudah terminum, dan pakaian sudah rapi ala-ala eksekutif muda atau paling tidak sudah wangi untuk menyapa dunia. Anda memacu kendaraan dengan niat sampai di kantor atau kampus tepat waktu demi menjaga reputasi. Namun, baru saja keluar dari kompleks atau melewati jalan arteri utama, kejutan manis sudah menunggu. "Jedug!"
Bunyi hantaman suspensi motor atau mobil yang menghantam lubang sedalam rasa rindu itu seketika merusak suasana hati. Kopi yang tadi bikin fokus langsung buyar, digantikan oleh sumpah serapah dalam hati (atau kadang terucap keras-keras). Selamat datang di realita jalanan kita, di mana aspal mulus adalah sebuah kemewahan dan lubang di jalan sudah dianggap sebagai fitur alami yang menguji kesabaran dan ketangkasan berkendara.
Persoalan jalan rusak ini memang terdengar klise, bahkan saking seringnya terjadi, kita hampir menganggapnya sebagai "takdir" yang harus diterima dengan lapang dada. Tapi bagi warga yang setiap hari harus berjibaku dengan jalur yang lebih mirip permukaan bulan daripada jalan raya, ini bukan sekadar masalah estetika tata kota. Ini soal keselamatan, soal biaya servis kendaraan yang bikin dompet nangis, dan soal waktu yang terbuang percuma karena semua orang harus mendadak jadi atlet slalom demi menghindari "jeglongan sewu".
Seni Menghindari Lubang dan Jebakan Batman
Berkendara di jalanan yang rusak itu butuh keahlian khusus. Tidak cukup cuma punya SIM, Anda harus punya insting ala pembalap reli. Di saat musim hujan tiba, tantangannya naik ke level expert. Lubang-lubang jalan yang tadinya terlihat jelas, kini bertransformasi menjadi genangan air tenang yang mematikan. Kita tidak pernah tahu apakah genangan itu cuma sedalam mata kaki atau ternyata cukup dalam untuk menelan setengah ban motor. Ini yang sering disebut warga sebagai "jebakan batman".
Dampaknya? Aktivitas harian yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit membengkak jadi 30 menit. Kenapa? Karena semua pengendara melambat. Belum lagi kalau ada truk atau mobil besar yang harus lewat pelan-pelan supaya muatannya tidak tumpah atau as-rodanya tidak patah. Macet pun jadi tak terhindarkan. Bagi kaum pekerja yang mengejar jam absen, jalan rusak adalah musuh nomor satu yang lebih menyebalkan daripada alarm di pagi hari.
Keluhan warga pun mulai bermunculan di mana-mana, mulai dari grup WhatsApp RT sampai kolom komentar media sosial pemerintah daerah. Ada yang lapor lewat aplikasi resmi, ada yang sekadar curhat di Twitter (X) sambil me-mention akun dinas terkait. Responnya? Kadang cepat, tapi seringnya lebih lambat dari proses move-on dari mantan. Alhasil, warga yang sudah kadung gemas sering mengambil inisiatif sendiri yang unik-unik, mulai dari menanam pohon pisang di tengah jalan sampai memancing di genangan lubang sebagai bentuk protes satir.
Dompet yang Ikut Terluka
Kalau kita bicara soal ekonomi makro, mungkin jalan rusak dampaknya ke logistik. Tapi kalau bicara soal ekonomi mikro alias isi dompet kita masing-masing, jalan rusak adalah penyebab utama fenomena "boncos" sebelum akhir bulan. Guncangan yang terus-menerus itu musuh bebuyutan shockbreaker, komstir, ban, hingga velg. Bayangkan kalau setiap dua bulan sekali Anda harus ke bengkel cuma buat benerin kaki-kaki motor yang berantakan gara-gara hajar lubang tiap hari.
Belum lagi soal keselamatan. Sudah berapa banyak berita tentang pengendara motor yang terjatuh karena menghindari lubang secara mendadak atau malah langsung masuk ke dalamnya saat malam hari karena penerangan jalan yang minim? Nyawa manusia seolah-olah ditaruhkan hanya karena urusan aspal yang tidak kunjung diperbaiki secara serius. Opini pribadi saya, infrastruktur dasar seperti jalan raya seharusnya jadi prioritas utama sebelum pemerintah sibuk membangun hal-hal yang sifatnya ikonik tapi kurang esensial bagi mobilitas rakyat jelata.
Harapan dan Realita Tambal Sulam
Tentu kita sering melihat aksi perbaikan jalan. Namun, seringkali yang dilakukan hanyalah teknik "tambal sulam". Lubang ditutup aspal seadanya, lalu seminggu kemudian setelah kena hujan deras dan dilewati truk beban berat, lubangnya muncul lagi, bahkan kadang lebih besar dan lebih dalam dari sebelumnya. Rasanya seperti menyembuhkan luka dalam cuma pakai plester luka yang harganya seribuan. Tidak menyelesaikan masalah sampai ke akarnya.
Warga tidak butuh janji manis atau sekadar kunjungan pejabat yang melihat-lihat jalan sambil memakai sepatu mahal. Warga butuh solusi teknis yang permanen. Drainase yang benar supaya air tidak merendam aspal, material yang berkualitas, dan pengawasan proyek yang ketat supaya tidak ada anggaran yang "menguap" di tengah jalan. Kita membayar pajak kendaraan bermotor setiap tahun, beli bensin juga ada pajaknya, jadi rasanya sah-sah saja kalau kita menuntut hak untuk melaju di jalanan yang tidak membahayakan nyawa.
Pada akhirnya, selama jalanan masih rusak, kita sebagai warga cuma bisa terus bersabar sambil melatih refleks. Tapi ya jangan sampai kesabaran ini dianggap sebagai tanda bahwa kita baik-baik saja dengan kondisi ini. Infrastruktur jalan adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Kalau urat nadinya mampet atau rusak, jangan harap mobilitas ekonomi bisa lancar. Mari kita berharap semoga hari esok jalanan menuju tempat kerja sudah tidak lagi membuat motor kita merasa sedang ikut ajang motocross tanpa sengaja. Tetap waspada di jalan, karena di balik genangan air yang tenang, mungkin ada "portal ke dimensi lain" yang siap membuat velg Anda bengkok seketika.
Next News

Tanpa Disadari, Anak Putus Sekolah Masih Jadi Masalah di Madura
in 3 hours

Maraknya Pinjaman Online, Warga Madura Diminta Lebih Waspada
in 3 hours

Petani Madura Mulai Resah, Cuaca Tak Menentu Ganggu Masa Tanam
in 3 hours

Kasus Pencurian Meningkat, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
in 2 hours

Cuaca Mendadak Ekstrem, Nelayan Madura Diminta Tahan Melaut
in 2 hours

Musim Pancaroba Datang, Penyakit Ini Mulai Mengintai Warga Madura
in 2 hours

Generasi Muda Madura Mulai Berubah, Ini Tantangan di Era Digita
in 2 hours

Tradisi Halal Bihalal di Madura, Momentum Mempererat Silaturahmi
in 2 hours

Tren Konsumsi Masyarakat Pasca Lebaran, Ini yang Perlu Diketahui
in 2 hours

Pentingnya Menjaga Lingkungan Pesisir di Madura
in 2 hours





