Tanpa Disadari, Anak Putus Sekolah Masih Jadi Masalah di Madura
Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 09:00 AM


Di Balik Megahnya Suramadu: Narasi Sunyi Anak-Anak Madura yang Pamit dari Bangku Sekolah
Kalau kita bicara soal Madura, apa sih yang pertama kali terlintas di kepala? Sate lalat yang gurih? Karapan sapi yang penuh adrenalin? Atau jembatan Suramadu yang kalau malam kelihatan gagah banget itu? Memang, Madura punya pesona yang nggak ada habisnya. Tapi, kalau kita mau sedikit lebih jeli melihat ke balik gubuk-gubuk di pinggir tambak garam atau di sudut-sudut pasar tradisional, ada sebuah realita pahit yang sering luput dari sorotan kamera ponsel para pelancong: masalah anak putus sekolah yang masih menghantui.
Ini bukan soal kurangnya kecerdasan. Kalau soal otak, orang Madura itu juara. Coba lihat bagaimana mereka menguasai sektor perdagangan di Jakarta atau Surabaya. Dari toko kelontong yang buka 24 jam sampai bisnis besi tua, orang Madura punya insting bertahan hidup dan kecerdasan finansial yang luar biasa. Masalahnya, bagi sebagian besar masyarakat di sana, pendidikan formal seringkali dianggap sebagai "jalur lambat" menuju sukses. Ada semacam gap antara apa yang diajarkan di sekolah dengan realita ekonomi yang menekan di depan mata.
"Cuan" Lebih Menggoda daripada Ijazah
Pernah nggak kamu lagi nongkrong di pinggiran Bangkalan atau Sampang, terus melihat anak usia SMP sudah mahir banget memilah garam atau ikut bapaknya melaut? Di satu sisi, kita mungkin kagum dengan etos kerja mereka. Tapi di sisi lain, ada rasa miris yang menyelinap. Bayangin aja, di saat anak-anak seusianya lagi pusing mikirin rumus Pythagoras atau sibuk main Mobile Legends sepulang sekolah, anak-anak ini sudah memikul beban ekonomi keluarga.
Bagi banyak keluarga di pelosok Madura, sekolah itu investasi yang hasilnya lama banget kelihatan. Butuh belasan tahun buat dapat ijazah sarjana yang belum tentu menjamin langsung dapat kerja. Sementara itu, merantau ke Jakarta atau Surabaya buat jaga warung atau ikut kerabat jualan sate bisa menghasilkan uang dalam hitungan bulan. Logika praktis ini yang sering bikin bangku sekolah jadi kosong. Anak-anak ini merasa "lebih laki" atau "lebih dewasa" kalau sudah bisa pegang uang sendiri dan kirim duit ke kampung, meski harus mengorbankan masa depannya di ruang kelas.
Pola Pikir dan Warisan Budaya Merantau
Budaya merantau atau nyari napkah di luar pulau sudah mendarah daging. Sejak kecil, banyak anak laki-laki di Madura yang sudah dicekoki cerita sukses paman atau tetangganya yang sukses di tanah seberang padahal sekolahnya cuma sampai SD. Cerita-cerita kesuksesan material ini jauh lebih seksi daripada cerita tentang profesor atau ilmuwan. Akibatnya, motivasi untuk menyelesaikan wajib belajar 12 tahun jadi luntur. Ijazah dianggap cuma selembar kertas kalau nggak bisa langsung dikonversi jadi beras.
Belum lagi bicara soal pernikahan dini yang masih cukup tinggi di beberapa titik. Bagi anak perempuan, terkadang sekolah dianggap nggak perlu tinggi-tinggi karena ujung-ujungnya akan ke dapur juga. Pemikiran kolot seperti ini memang sudah mulai terkikis seiring masuknya arus informasi, tapi sisa-sisanya masih terasa nyata di desa-desa yang akses transportasinya saja masih susah minta ampun.
Dilema Antara Pesantren dan Sekolah Formal
Madura itu identik dengan sebutan Pulau Garam dan Pulau Santri. Pendidikan agama di sini sangat dijunjung tinggi. Masalahnya, terkadang ada dikotomi antara pesantren dan sekolah formal. Banyak orang tua yang merasa sudah cukup kalau anaknya bisa ngaji dan paham kitab kuning di pesantren tanpa perlu ijazah formal dari Kemendikbud. Padahal, di zaman serba digital begini, kombinasi antara akhlak pesantren dan literasi teknologi dari sekolah formal itu penting banget.
Beberapa pesantren memang sudah mulai mengintegrasikan pendidikan formal, tapi belum semuanya merata. Ada anak yang fokus di pesantren lalu ketika lulus bingung mau lanjut ke mana karena nggak punya ijazah penyetaraan. Hal-hal administratif seperti ini yang seringkali jadi tembok penghalang bagi mereka untuk berkembang lebih jauh di dunia profesional.
Apa yang Harus Kita Lakukan?
Kita nggak bisa cuma menyalahkan pemerintah pusat atau daerah. Masalah putus sekolah di Madura itu kompleks banget, kayak benang kusut yang harus diurai satu-satu. Perlu ada pendekatan yang lebih "humanis" dan nggak kaku. Sosialisasi soal pentingnya sekolah nggak bisa cuma lewat baliho besar di jalan raya yang isinya foto pejabat lagi senyum.
- Pertama, kurikulum sekolah di Madura harusnya lebih relevan dengan potensi daerah. Kalau daerahnya penghasil garam, ajarkan teknologi pangan atau manajemen bisnis kelautan. Biar anak-anak merasa sekolah itu berguna buat bantu usaha orang tuanya.
- Kedua, peran tokoh agama atau kiai sangat krusial. Di Madura, suara kiai itu lebih didengar daripada suara gubernur. Kalau para kiai kompak menyuarakan pentingnya pendidikan formal berdampingan dengan agama, pasti orang tua bakal mikir dua kali buat nyuruh anaknya berhenti sekolah.
- Ketiga, beasiswa jangan cuma buat yang pintar secara akademik, tapi juga buat mereka yang rentan putus sekolah karena faktor ekonomi. Kasih mereka jaring pengaman biar nggak perlu milih antara sekolah atau makan.
Menatap Masa Depan Madura
Madura punya potensi luar biasa. Orang-orangnya tangguh, ulet, dan punya solidaritas yang tinggi. Sayang banget kalau modal sosial sehebat itu nggak dibarengi dengan kualitas pendidikan yang mumpuni. Kita nggak pengen Madura cuma jadi penonton saat daerah lain berlari kencang menuju industri 4.0 atau apa pun itu namanya.
Melihat anak putus sekolah itu kayak melihat masa depan yang sedang meredup perlahan. Sudah saatnya kita semua sadar kalau masalah ini bukan cuma tanggung jawab Dinas Pendidikan setempat, tapi tanggung jawab kita sebagai sesama manusia. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa—atau sebuah pulau—nggak diukur dari seberapa megah jembatan yang menghubungkannya, tapi dari seberapa tinggi mimpi anak-anaknya bisa terbang lewat pendidikan.
Jadi, lain kali kalau kalian lewat Suramadu, ingatlah bahwa di balik sinar lampu jembatan itu, masih banyak PR yang harus kita selesaikan buat adik-adik kita di sana. Jangan sampai mereka "putus" harapan hanya karena masalah biaya atau pola pikir yang terjebak di masa lalu. Madura harus maju, dan itu dimulai dari kelas-kelas sekolah yang penuh dengan canda tawa anak-anaknya.
Next News

Maraknya Pinjaman Online, Warga Madura Diminta Lebih Waspada
in 3 hours

Petani Madura Mulai Resah, Cuaca Tak Menentu Ganggu Masa Tanam
in 3 hours

Kasus Pencurian Meningkat, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
in 2 hours

Jalan Rusak Dikeluhkan Warga, Aktivitas Harian Jadi Terganggu
in an hour

Cuaca Mendadak Ekstrem, Nelayan Madura Diminta Tahan Melaut
in 2 hours

Musim Pancaroba Datang, Penyakit Ini Mulai Mengintai Warga Madura
in 2 hours

Generasi Muda Madura Mulai Berubah, Ini Tantangan di Era Digita
in 2 hours

Tradisi Halal Bihalal di Madura, Momentum Mempererat Silaturahmi
in 2 hours

Tren Konsumsi Masyarakat Pasca Lebaran, Ini yang Perlu Diketahui
in 2 hours

Pentingnya Menjaga Lingkungan Pesisir di Madura
in 2 hours





