Musim Pancaroba Datang, Penyakit Ini Mulai Mengintai Warga Madura
Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 08:00 AM


Waspada Musim Pancaroba di Madura: Antara Debu Jalanan, Es Teh, dan Ancaman Batuk Berjamaah
Kalau kalian baru saja menyeberang Jembatan Suramadu dan merasa anginnya lebih kencang dari biasanya, atau tiba-tiba merasa cuaca di Bangkalan sampai Sumenep lagi nggak menentu, selamat datang di musim pancaroba. Di Madura, transisi dari musim kemarau ke musim hujan itu bukan cuma soal jemuran yang nggak kering-kering, tapi juga soal badan yang mulai terasa "remuk" dan hidung yang mulai mampet sebelah.
Cuaca di Pulau Garam belakangan ini memang lagi labil-labilnya, mirip suasana hati gebetan yang nggak kunjung kasih kepastian. Pagi hari matahari bisa sangat terik sampai-sampai aspal jalanan di Sampang terasa membara, tapi menjelang sore, mendung tiba-tiba datang dan hujan turun dengan intensitas yang bikin mager tingkat dewa. Perubahan suhu yang drastis ini adalah "red carpet" bagi berbagai jenis penyakit untuk mulai mengintai warga.
Si Kecil yang Mematikan: DBD Masih Jadi Primadona
Jangan tertipu dengan genangan air kecil di bekas ban mobil atau pot bunga di depan rumah. Di musim seperti ini, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai menunjukkan taringnya. Nyamuk Aedes aegypti itu ibarat tamu tak diundang yang paling menyebalkan. Mereka nggak butuh undangan buat mampir ke rumah warga Pamekasan atau Sumenep.
Masalahnya, banyak dari kita yang masih hobi menumpuk baju di balik pintu atau membiarkan bak mandi nggak dikuras berminggu-minggu. Padahal, di situlah para nyamuk ini mengadakan pesta pora. Gejalanya pun sering menipu. Awalnya cuma demam biasa, kita pikir paling cuma kecapekan gara-gara habis kerja bakti atau keliling pasar. Tapi kalau sudah muncul bintik merah atau trombosit turun, urusannya bisa panjang sampai ke IGD Rumah Sakit Syarifah Ambami Ratoh Ebu atau RSUD di kabupaten lainnya.
Fenomena "Batuk Pilek Berjamaah"
Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau di satu kantor atau satu rumah, tiba-tiba semuanya bersin dalam waktu yang hampir bersamaan? Nah, ini dia penyakit langganan pancaroba: Infeksi Saluran Pernapasan Akut alias ISPA. Udara di Madura yang berdebu saat kemarau, bercampur dengan kelembapan tinggi saat mulai hujan, adalah kombinasi maut buat paru-paru dan tenggorokan.
Belum lagi kebiasaan kita yang kalau panas sedikit langsung sikat es teh manis atau es degan di pinggir jalan. Memang segar sih, tapi kalau daya tahan tubuh lagi drop, es teh itu bisa jadi tiket gratis menuju radang tenggorokan. Suara yang tadinya merdu ala penyanyi gambus, tiba-tiba berubah jadi serak-serak becek kayak knalpot motor yang masuk air.
Diare dan Godaan Kuliner Pinggir Jalan
Siapa sih yang bisa nolak sate lalat, nasi serpang, atau rujak selingkuh yang pedasnya nendang? Masalahnya, di musim pancaroba, populasi lalat biasanya meningkat drastis. Kalau kita nggak pintar-pintar milih tempat makan yang bersih, penyakit diare sudah siap mengantre di sistem pencernaan kita.
Debu yang beterbangan dibawa angin kencang seringkali nempel di makanan yang nggak tertutup rapat. Belum lagi kalau sumber air mulai tercemar karena limpasan air hujan perdana. Jadi, buat kalian yang hobi wisata kuliner malam-malam di area Arek Lancor atau di sekitaran pelabuhan, pastikan tempatnya higienis ya. Jangan sampai habis makan enak, malah harus bolak-balik ke kamar mandi sampai lemas.
Tips Survive Ala Warga Lokal (Bukan Sekadar Kerokan)
Orang Madura itu dikenal kuat dan tangguh. Tapi sekuat-kuatnya fisik, kalau dihajar virus pancaroba, tumbang juga. Selain mengandalkan "kerokan" yang jadi kearifan lokal saat masuk angin, ada beberapa hal receh tapi penting yang harus mulai dilakukan sekarang:
- Minum Jamu: Jangan remehkan kekuatan jamu tradisional. Kunyit asam atau beras kencur bisa jadi booster alami buat imun tubuh. Di pasar-pasar tradisional Madura, penjual jamu masih jadi primadona, dan ini saatnya kalian mampir ke sana.
- Sedia Payung (dan Jas Hujan) Sebelum Kehujanan: Ini klasik, tapi sering dilanggar. Jangan sok kuat nerobos hujan di jalanan lintas selatan Madura tanpa pelindung. Sekali basah kuyup dan kedinginan, besoknya risiko meriang bakal naik 100 persen.
- Vaksinasi Hati dan Tubuh: Kalau punya budget lebih, nggak ada salahnya ambil vaksin flu. Dan yang paling penting, perbanyak minum air putih. Cuaca panas bikin dehidrasi, cuaca dingin bikin malas minum. Padahal air putih itu kunci biar metabolisme nggak ambyar.
- Jaga Kebersihan Lingkungan: Gerakan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) itu bukan cuma slogan di puskesmas, tapi harga mati kalau nggak mau pelihara nyamuk di rumah.
Kesimpulan: Kesehatan Itu Investasi, Bukan Beban
Musim pancaroba di Madura memang penuh tantangan. Selain harus sabar menghadapi cuaca yang berubah-ubah, kita juga harus lebih peka sama sinyal yang dikirimkan oleh tubuh sendiri. Jangan tunggu sampai badan terasa panas tinggi baru sibuk cari obat. Mencegah itu tetap lebih murah daripada biaya rawat inap di rumah sakit yang bisa bikin kantong kering seketika.
Intinya, nikmati saja dinamika cuaca ini dengan tetap waspada. Kalau memang merasa sudah mulai nggak enak badan, mending skip dulu nongkrong-nongkrong sampai larut malam. Tidur cukup, makan bergizi, dan jangan lupa bahagia. Karena katanya, hati yang gembira adalah obat, tapi kalau sakitnya berkelanjutan, ya tetap harus ke dokter, jangan cuma nunggu sembuh sendiri sambil scrolling media sosial.
Stay safe, warga Madura! Semoga kita semua diberikan kesehatan untuk terus beraktivitas di tengah musim yang lagi labil ini.
Next News

Tanpa Disadari, Anak Putus Sekolah Masih Jadi Masalah di Madura
in 3 hours

Maraknya Pinjaman Online, Warga Madura Diminta Lebih Waspada
in 3 hours

Petani Madura Mulai Resah, Cuaca Tak Menentu Ganggu Masa Tanam
in 3 hours

Kasus Pencurian Meningkat, Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
in 2 hours

Jalan Rusak Dikeluhkan Warga, Aktivitas Harian Jadi Terganggu
in an hour

Cuaca Mendadak Ekstrem, Nelayan Madura Diminta Tahan Melaut
in 2 hours

Generasi Muda Madura Mulai Berubah, Ini Tantangan di Era Digita
in 2 hours

Tradisi Halal Bihalal di Madura, Momentum Mempererat Silaturahmi
in 2 hours

Tren Konsumsi Masyarakat Pasca Lebaran, Ini yang Perlu Diketahui
in 2 hours

Pentingnya Menjaga Lingkungan Pesisir di Madura
in 2 hours





