Selasa, 7 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Pentingnya Menjaga Lingkungan Pesisir di Madura

Redaksi - Tuesday, 07 April 2026 | 08:00 AM

Background
Pentingnya Menjaga Lingkungan Pesisir di Madura
Pentingnya Menjaga Lingkungan Pesisir di Madura ( Istimewa/)

Madura Bukan Cuma Sate: Kenapa Pesisir Kita Harus Diselamatkan Sebelum Terlambat

Kalau kita bicara soal Madura, apa sih yang pertama kali terlintas di kepala kalian? Pasti nggak jauh-jauh dari sate lalat, bebek Sinjay yang antreannya bikin pegel kaki, atau mungkin keberanian orang-orangnya yang merantau sampai ke ujung dunia buat buka warung kelontong. Tapi, pernah nggak sih kalian benar-benar diam sejenak waktu menyeberangi Jembatan Suramadu dan melihat ke arah bawah? Di sana, ada hamparan pesisir yang sebenarnya adalah urat nadi kehidupan Pulau Garam ini, tapi sayangnya sering kita cuekin.

Pesisir Madura itu ibarat beranda depan rumah. Kalau berandanya kotor, penuh sampah plastik, dan bau, tamu mana yang mau datang? Dan yang lebih parah lagi, kalau berandanya rusak, rumahnya juga bakal ikutan hancur. Masalahnya, menjaga pesisir di Madura itu bukan cuma soal biar "Instagrammable" atau enak dilihat pas kita lagi healing tipis-tipis, tapi ini soal keberlangsungan hidup ribuan orang yang menggantungkan nasibnya pada laut.

Garam dan Ikan: Napas yang Terancam

Julukan "Pulau Garam" itu bukan sekadar gelar keren-kerenan. Madura adalah produsen garam terbesar di Indonesia. Bayangkan kalau air lautnya tercemar limbah industri atau sampah plastik yang mikroplastiknya masuk ke mana-mana. Apa kita masih berani makan garam yang asalnya dari air yang sudah "terkontaminasi"? Rasanya kok bakal ngeri-ngeri sedap, ya. Belum lagi soal nelayannya. Nelayan di pesisir Sumenep sampai Bangkalan itu petarung tangguh, tapi sekuat-kuatnya mereka bertarung di laut, mereka bakal kalah kalau ekosistemnya rusak.

Dulu, cari ikan mungkin nggak perlu jauh-jauh amat ke tengah. Sekarang? Wah, jangan ditanya. Gara-gara terumbu karang yang rusak dan hutan mangrove yang dibabat buat kepentingan jangka pendek, ikan-ikan jadi "pindah rumah". Kalau ekosistem pesisirnya hancur, jangan heran kalau nanti harga ikan di pasar makin selangit dan nasib nelayan kita makin terjepit. Miris, kan? Padahal Madura punya potensi laut yang kalau dikelola dengan bener, bisa bikin ekonomi lokal melejit tanpa harus nunggu bantuan pemerintah pusat terus.

Sampah Plastik: Musuh dalam Selimut

Nah, ini nih masalah klasik yang bikin gemes. Budaya buang sampah sembarangan itu masih jadi PR besar di banyak titik pesisir Madura. Sering banget kita lihat pantai-pantai cantik, kayak Pantai Sembilan atau Gili Labak, yang kalau kita melipir sedikit ke area yang nggak terurus, isinya bungkus deterjen, sachet kopi, sampai sandal jepit sebelah. Sampah-sampah ini bukan cuma ngerusak pemandangan atau bikin kaki lecet, tapi bisa membunuh penyu dan merusak hutan bakau.



Mangrove atau hutan bakau di Madura itu bukan cuma pajangan biar kelihatan hijau. Mereka itu benteng terakhir buat nahan abrasi. Tanpa mangrove, daratan Madura bakal pelan-pelan terkikis sama air laut. Apalagi sekarang isu perubahan iklim makin nyata, permukaan air laut naik terus. Kalau pesisir nggak ada pelindungnya, ya lama-lama pemukiman warga bisa kerendam. Nggak lucu kan kalau nanti kita harus naik perahu cuma mau ke warung sebelah?

Sentuhan Lokal dan Kesadaran Anak Muda

Gue perhatikan, sekarang sudah mulai muncul gerakan-gerakan dari anak muda lokal Madura yang peduli lingkungan. Ada yang bikin komunitas bersih-bersih pantai, ada yang giat nanam mangrove di Bangkalan, sampai yang bikin kampanye di media sosial buat ngajak orang nggak buang sampah ke laut. Ini keren banget sih. Karena jujur aja, kalau cuma nunggu regulasi yang kadang tumpul di bawah, nggak bakal kelar-kelar masalahnya.

Kita butuh narasi baru. Menjaga pesisir Madura itu harus jadi gaya hidup, bukan cuma tugas dinas lingkungan hidup. Kita perlu edukasi ke masyarakat pesisir kalau laut itu bukan tempat sampah raksasa. Laut itu tabungan masa depan buat anak cucu kita. Orang Madura itu dikenal religius dan punya prinsip kuat, harusnya prinsip "kebersihan adalah sebagian dari iman" benar-benar dipraktikkan sampai ke pinggir pantai, bukan cuma di dalam masjid aja.

Kesimpulan: Jangan Sampai Menyesal Belakangan

Menjaga pesisir Madura memang nggak semudah membalikkan telapak tangan atau semudah pesan sate lewat aplikasi ojek online. Butuh komitmen dari banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah yang harus tegas sama izin reklamasi atau pembangunan di pinggir pantai, sampai kita sebagai wisatawan atau warga lokal yang harus sadar diri. Janganlah kita jadi manusia yang cuma tahu cara menikmati alam tapi nggak mau tahu cara merawatnya.

Akhir kata, Madura itu indah banget, Lur. Pesisirnya punya potensi wisata yang nggak kalah sama Bali atau Lombok kalau dikelola dengan hati. Yuk, mulai sekarang lebih peduli sedikit. Jangan buang sampah sembarangan pas lagi main ke pantai. Dukung produk lokal dari komunitas yang peduli lingkungan. Karena kalau bukan kita yang jaga Madura, siapa lagi? Jangan sampai nanti kita cuma bisa cerita ke anak cucu kalau dulu Madura punya pantai yang indah, tapi sekarang tinggal kenangan gara-gara kita lalai. Wes, pokoknya jangan sampai ambyar pesisir kita!