Naik Jadi 67,23 Persen, IPM Sampang Tetap Terendah di Jatim
Ach. Mukrim - Friday, 27 February 2026 | 05:06 AM


salsabilafm.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sampang mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah tersebut mencapai 67,23 persen pada 2025. Meski terus mengalami tren peningkatan setiap tahun, angka ini tetap menempatkan Kota Bahari tersebut di posisi terendah dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Kepala BPS Kabupaten Sampang, Boby Eko Heru Mulyadi, mengungkapkan, upaya mendongkrak nilai IPM di Kota Bahari menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Menurutnya, tiga komponen utama penunjang IPM, yaitu, kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak masih tergolong rendah dibandingkan daerah lain.
"Dari ketiga komponen tersebut, yang paling berat adalah sektor pendidikan," ungkapnya, Jum'at (27/2/2026).
Boby menjelaskan, indikator pendidikan diukur melalui dua komponen, yakni Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Data BPS menunjukkan angka RLS di Sampang hanya menyentuh 5,19 tahun, sementara HLS mencapai 12,59 tahun.
Menurutnya, ada dua faktor utama yang dinilai menghambat capaian indeks pendidikan tersebut. Pertama, tingginya angka pernikahan dini yang membuat banyak penduduk putus sekolah.
"Hasil in-depth study (studi mendalam) ternyata banyak yang menikah di bawah umur," jelas Boby.
Faktor kedua, lanjutnya, adalah fenomena migrasi penduduk berpendidikan tinggi. Banyak warga Sampang yang telah menyelesaikan kuliah justru memilih menetap dan bekerja di luar daerah, sehingga tidak berkontribusi pada penghitungan IPM lokal.
"IPM itu juga mempertimbangkan jumlah warga yang tinggal dan hidup di Sampang," imbuhnya.
Saat ini, status IPM Sampang masih berada di kategori sedang. Namun, Boby juga menyoroti bahwa daerah-daerah lain di Jawa Timur telah melakukan lompatan ke kategori tinggi, menyisakan Sampang dan satu daerah lain di kategori sedang.
"Sampang sebenarnya masuk kategori IPM sedang. Namun, di Jawa Timur saat ini tinggal dua daerah yang berstatus sedang, sementara daerah lainnya sudah masuk kategori tinggi," imbuhnya.
Kondisi ini memicu kritik dari aktivis lokal. Koordinator BEM Sampang (BEMSA) , Iftitahul Elmy, menilai posisi buncit Sampang dalam klasemen IPM di Jawa Timur adalah sinyal adanya ketimpangan kesejahteraan yang serius.
Dia menduga rendahnya angka tersebut berkorelasi langsung dengan masih tingginya angka buta huruf dan akses layanan kesehatan yang belum merata ke seluruh lapisan masyarakat.
"Kami berpandangan kondisi ini bukan sekadar data statistik, tapi mencerminkan ketimpangan kesejahteraan. Pemkab harus menyusun strategi pembangunan manusia yang tepat," pungkasnya. (Mukrim)
Next News

Pria di Pamekasan Diamankan Polisi, Tidak Bayar saat Belanja di Toko Kelontong
14 hours ago

Polisi Tangkap 3 Pengedar Sabu di Sumenep, Barang Bukti 0,62 Gram
14 hours ago

Sumur Bor Keluar Gas, ESDA Sumenep ke Lokasi Ambil Sampel Air
14 hours ago

8.187 KPM di Bangkalan Terindikasi Judi Online, 445 Ajukan Sanggah untuk Reaktivasi
14 hours ago

Prabowo Sebut Pemerintah Pusat Akan Ambil Alih Pengangkatan Guru
14 hours ago

Prabowo Sebut Kebocoran Ekspor Indonesia Capai Rp15.000 Triliun
14 hours ago

Pemuda 20 Tahun Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Kamar Mandi
14 hours ago

Nenek Hilang di Sampang Akhirnya Ditemukan Meninggal
14 hours ago

Prabowo Soroti Birokrat yang Disebut sebagai Deep State
15 hours ago

Alokasi Pupuk Bersubsidi 2026 di Sampang Meningkat
2 days ago





