KPK Bongkar Dugaan Pemerasan Sistemik di Ditjen Imigrasi, 8 Pejabat Ditetapkan Tersangka
Redaksi - Friday, 05 June 2026 | 07:36 AM


salsabilafm.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan praktik pemerasan sistemik dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas). Praktik tersebut diduga berlangsung secara terstruktur selama periode 2022 hingga 2026.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Setyo Budiyanto, mengatakan, kasus ini tidak dilakukan oleh individu semata, melainkan melibatkan jaringan pejabat dari tingkat pimpinan hingga pelaksana teknis.
"KPK melihat bahwa perkara di Kementerian Imipas tidak dilakukan secara individual, melainkan berlangsung secara sistemik. Hal ini tercermin dari pola, alur perintah, aliran uang, dan mekanisme yang terstruktur mulai dari proses pengajuan dokumen, verifikasi, rekomendasi, hingga penerbitan izin tinggal yang melibatkan level wilayah dan pusat," ujar Setyo dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2026).
Menurut KPK, para pelaku memanfaatkan celah dalam sistem digitalisasi pelayanan keimigrasian dengan praktik yang dikenal sebagai 'setiap klik ada harganya'.
Pemohon izin tinggal yang mengurus dokumen melalui biro jasa diduga kerap dipersulit atau ditolak tanpa alasan yang jelas. Untuk melancarkan proses, mereka diminta membayar sejumlah uang di tingkat kantor wilayah. Setelah itu, pemohon kembali dikenakan biaya tambahan saat proses verifikasi di tingkat pusat.
KPK menduga alur perintah dalam praktik tersebut mengalir dari pejabat tinggi hingga ke staf pelaksana. Mantan Direktur Jenderal Imigrasi yang juga Wakil Menteri Imipas nonaktif, Silmy Karim, disebut meminta setoran saat menjabat pada periode 2023–2024. Perintah itu kemudian diteruskan melalui Direktur Izin Tinggal, Jaya Saputra, kepada sejumlah pejabat dan staf di bawahnya.
Dari hasil penyidikan, total dana yang diduga terkumpul melalui praktik pemerasan tersebut mencapai sedikitnya Rp145,5 miliar sepanjang 2022–2026.
Setyo menegaskan, unsur pemerasan dalam perkara ini telah terpenuhi karena para pemohon berada dalam posisi terpaksa untuk membayar agar memperoleh hak pelayanan yang seharusnya diberikan negara.
"Kami melihat korupsi pada sektor ini memberikan efek buruk bagi ekonomi Indonesia karena menyangkut seluruh aktivitas warga negara asing yang masuk, bekerja, maupun menetap di Indonesia," katanya.
Dalam perkara ini, KPK menetapkan delapan tersangka, yakni Silmy Karim (SK), Saffar Muhammad Godam (SMG), Jaya Saputra (JS), Bagus Bramantyo (BGS), Tessar Bayu Setyaji (TBS), Ronald Arman Abdullah (RAA), Juniadi Sri Priambudi (JSP), dan Gusti Bernardiansyah (GST).
Seluruh tersangka telah ditahan selama 20 hari pertama, terhitung sejak 4 Juni hingga 23 Juni 2026. Tersangka Juniadi, Gusti, dan Ronald ditahan di Rutan Cabang ACLC C1 KPK. Sementara Silmy Karim, Saffar Godam, Jaya Saputra, Tessar Bayu, dan Bagus Bramantyo ditahan di Rutan Cabang Gedung Merah Putih KPK. (*)
Next News

Warga Bangkalan Temukan Bayi Perempuan Menangis di Teras Toko
9 hours ago

Pura-pura Tanya Alamat, Pria Tak Dikenal di Bangkalan Diduga Lecehkan Siswi
9 hours ago

HCML Tuan Rumah GCM ke-336, Perkuat Koordinasi Pasokan Gas Jawa Timur–Jawa Tengah
3 hours ago

Bupati Sampang Ajak Masyarakat Manfaatkan Program Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor
a day ago

Ratusan Mahasiswa UTM Datangi Kantor Pemkab Bangkalan, Tuntut Perlindungan Usai Kasus Pembegalan
a day ago

Mobil Terbakar di Pintu Keluar SPBU Pamekasan, Warga: Ada Jeriken Isi BBM
a day ago

Identitas Pria yang Ditemukan Meninggal di Bukit Plakpak Pamekasan Terungkap
a day ago

Pemerintah Sebut Aspirasi Mahasiswa pada Demonstrasi 28 Oktober Jadi Prioritas Kebijakan
a day ago

Kejari Periksa Eks Pj Bupati Sampang dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek SMP
2 days ago

Satreskrim Polres Sampang Ingatkan Ancaman 6 Tahun Penjara bagi Penyalahgunaan BBM Subsidi
2 days ago


