Jumat, 24 April 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Implementasi Semangat Kartini di HCML, Kisah Mahtubah Sagina Menginspirasi Perempuan Masa Kini

Ach. Mukrim - Friday, 24 April 2026 | 07:12 AM

Background
Implementasi Semangat Kartini di HCML, Kisah Mahtubah Sagina Menginspirasi Perempuan Masa Kini
Mahtubah Sagina, Jr. Accountant Account Payable HCML saat menjadi narasumber di acara talk show Radio Salsabila FM. (Dok.Salsabilafm/)

salsabilafm.com - Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus mengalir dalam kehidupan perempuan Indonesia masa kini. Hal tersebut tergambar jelas dari kisah Mahtubah Sagina, Jr. Accountant Account Payable Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), yang membagikan perjalanan, tantangan, serta pandangannya tentang peran perempuan di era modern saat menjadi narasumber di acara talk show Radio Salsabila FM, Jum'at (24/4/2026).


Mahtubah mengungkapkan, keberanian Kartini dalam menyuarakan kesetaraan menjadi fondasi penting yang kini dirasakan manfaatnya oleh perempuan Indonesia. Jika dahulu perempuan sulit untuk didengar, kini kesempatan terbuka luas baik dalam pendidikan, karier, maupun kontribusi sosial.


"Dulu perempuan mungkin hanya dianggap harus patuh dan tidak punya ruang untuk bersuara. Tapi berkat perjuangan beliau, hari ini perempuan bisa menunjukkan bahwa mereka mampu, bisa menginspirasi, dan berkontribusi nyata," ungkapnya.




Mahtubah menjelaskan, saat ini perempuan hidup di era dengan akses informasi dan peluang yang jauh lebih luas dibandingkan masa lalu. Oleh karena itu, tidak ada lagi alasan untuk tidak berkembang. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri, keraguan, rasa takut, dan overthinking.


"Kuncinya itu dari dalam diri. Kalau kita sudah yakin dan mau mencoba, langkah berikutnya akan mengikuti. Tapi kalau dari awal sudah ragu, kita tidak akan pernah mulai," jelasnya.




Mahtubah sempat menghadapi keraguan dari lingkungan sekitar saat ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, pertanyaan seperti 'untuk apa kuliah tinggi-tinggi?' sempat dia terima.


Namun, dengan tekat kuat dan komunikasi yang baik, dia berhasil meyakinkan orang tuanya. Hasilnya, Mahtubah tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana, tetapi juga membuka jalan bagi adik-adiknya untuk mendapatkan kesempatan yang sama.


"Dampaknya terasa. Adik-adik saya akhirnya juga bisa melanjutkan pendidikan. Jadi perubahan itu bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga," ucapnya.




Dia memaparkan, pendidikan tidak hanya sebatas formal, tetapi juga mencakup pengembangan diri secara luas. Sebabnya, dia mendorong perempuan untuk terus belajar, menggali potensi, dan tidak cepat puas.


"Sekarang kita bisa belajar dari mana saja. Informasi terbuka luas. Tinggal bagaimana kita mau memanfaatkannya," ujarnya.




Salah satu pesan penting yang dia ingin sampaikan adalah pentingnya keberanian untuk mencoba hal baru, meskipun dimulai dari langkah kecil. Dia mencontohkan bagaimana hobi sederhana, seperti memasak, bisa berkembang menjadi peluang besar di era digital jika ditekuni dan dibagikan melalui media sosial.


"Hal kecil seperti memasak lalu dibagikan, bisa jadi inspirasi bahkan peluang. Yang penting mau mulai dulu," jelasnya.


Sebagai seorang working mom, Mahtubah mengakui, perempuan memiliki tantangan besar dalam menjalankan peran ganda sebagai profesional di tempat kerja sekaligus pengelola rumah tangga.



Namun, dia melihat hal ini sebagai kekuatan, bukan beban.


"Perempuan itu luar biasa. Bisa bekerja, mengurus keluarga, dan tetap menciptakan kehangatan di rumah. Itu bukan hal mudah," lanjutnya.


Dia juga menekankan pentingnya manajemen waktu dan pengelolaan emosi, agar tekanan pekerjaan tidak terbawa ke lingkungan keluarga. Dia juga mengapresiasi lingkungan kerjanya (HCML) yang dinilai sangat mendukung kesetaraan gender. Dia menyebut banyak perempuan di perusahaannya telah menduduki posisi strategis dan menjadi role model.




Selain itu, perusahaan juga menyediakan ruang pengembangan diri seperti kegiatan olahraga, komunitas, hingga forum diskusi yang inklusif.


"Dukungan seperti ini sangat penting, karena membuat perempuan merasa dihargai dan punya ruang untuk berkembang," ujarnya.




Menurutnya, dukungan dari keluarga baik orang tua maupun pasangan memiliki peran besar dalam perjalanan perempuan. Kepercayaan yang diberikan harus dijaga dengan baik.


"Ketika sudah diberi kesempatan, jangan disia-siakan. Tunjukkan bahwa kita memang mampu dan bertanggung jawab," katanya.


Mahtubah juga mengingatkan, tuntutan untuk sukses di berbagai peran sering kali dianggap sebagai beban. Namun, dia mengajak perempuan untuk mengubah cara pandang tersebut menjadi tantangan yang memotivasi.




"Semua kembali ke mindset. Mau dianggap beban atau tantangan, itu pilihan kita," ujarnya.


Perempuan kelahiran Desa Pamolaan, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang  itu juga menyampaikan sejumlah pesan penting bagi perempuan Indonesia. Yaitu. Jangan takut memiliki cita-cita tinggi, berani menyuarakan pendapat, terus belajar dan berkembang, jangan mudah menyerah, mulai dari hal kecil, percaya pada diri sendiri, jaga konsistensi dan kesabaran

.



"Tidak harus sempurna. Yang penting terus berproses dan tidak berhenti mencoba," terangnya.


"Semangat Kartini hari ini bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi harus menjadi gerakan nyata. Perempuan Indonesia diharapkan terus melangkah maju, berani keluar dari zona nyaman, dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya," pungkasnya. (Mukrim)