Rabu, 4 Maret 2026
Salsabila FM
Nasional

IHSG Anjlok 3,17 Persen, Penutupan Selat Hormuz Picu Kepanikan Pasar

Redaksi - Wednesday, 04 March 2026 | 11:46 PM

Background
IHSG Anjlok 3,17 Persen, Penutupan Selat Hormuz Picu Kepanikan Pasar
Ilustrasi IHSG Anjlok 3,17 Persen ( Istimewa/)

Salsabilafm.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok tajam pada perdagangan Rabu (4/3/2026), terseret sentimen negatif dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.


Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran krisis energi global setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.


Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menegaskan, pelemahan IHSG merupakan reaksi pasar atas eskalasi konflik tersebut.




"Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas, dan Iran menutup Selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi. Hal ini sudah tercermin di harga minyak dunia yang meningkat," ujar Irvan.


Data perdagangan hingga pukul 11.11 WIB menunjukkan IHSG melemah 251,47 poin atau 3,17 persen ke level 7.688,29. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor.




Frekuensi perdagangan tercatat 1.843.291 kali transaksi, dengan 30,95 miliar lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi mencapai Rp15,89 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 66 saham menguat, 703 saham melemah, dan 43 saham stagnan.


Irvan memastikan, koreksi tidak terjadi secara terisolasi. Sejumlah indeks saham Asia juga mengalami tekanan signifikan.

Beberapa indeks yang tercatat melemah antara lain:

Nikkei turun 3,35 persen



Shanghai turun 1,43 persen

Kospi ambles 7,21 persen

Hang Seng melemah 2,78 persen

Strait Times terkoreksi 2,29 persen




Di Korea Selatan, tekanan jual bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) setelah indeks turun lebih dari 8 persen dalam satu sesi.


Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak terpenting di dunia. Gangguan distribusi energi dikhawatirkan memperburuk inflasi global dan menekan pertumbuhan ekonomi.


Lonjakan harga minyak dunia menjadi katalis utama gejolak pasar. Di tengah ketidakpastian geopolitik, investor global cenderung mengalihkan aset ke instrumen yang dinilai lebih aman. (*)