Fenomena Cyberbullying: Dari Dunia Nyata ke Layar Digital
Redaksi - Wednesday, 04 February 2026 | 11:00 AM


Fenomena Cyberbullying: Dari Kaki Tanah ke Layar Layar
Gak asing lagi nih, istilah cyberbullying yang sering muncul di ruang diskusi online. Sebenarnya, kalau didekati dari sudut pandang sejarah, bullying itu udah ada sejak zaman dahulu, cuma dulu biasanya dilakukan lewat tangan, sedangkan sekarang yang pakai senjata utama adalah internet. Sekarang, siapa pun yang punya akses ke smartphone bisa jadi korban maupun pelaku, bahkan tanpa sadar.
Pernah dengar kisah Raka? Di salah satu komunitas gamer, dia mulai dipanggil namanya dengan nada negatif tiap kali gagal main. Di awal, dia pura-pura nggak peduli, tapi kemudian ketahuilah, setelah malam itu dia nggak mau login lagi. Itu, bro, itu contoh sederhana cyberbullying. Tapi jangan salah, kasus ini bukan sekadar ejekan. Itu bisa bikin stres, depresi, bahkan membuat korban mundur dari sekolah.
Kalau kita liat statistik, di Indonesia, lebih dari 70% remaja pernah mengalami intimidasi online. Angka ini mengingatkan kita bahwa dunia maya ini bukan cuma tempat bersenang-senang. Ada juga sisi gelap yang bisa memecah hati dan pikiran. Namun, penting juga untuk tidak menelanjang. Cyberbullying itu bukan hanya kata kunci 'troll' atau 'spam'. Itu termasuk segala bentuk penghinaan, ancaman, penistaan, atau penyebaran rumor palsu yang menargetkan individu.
Mengapa Cyberbullying Bisa Jadi Lebih Parah dari Bullying Tradisional?
Keunikan dunia digital bikin penyebaran pesan itu lebih cepat, lebih luas, dan lebih anonim. Bayangkan, di sekolah, kalau ada yang memarahi seseorang, biasanya cukup satu atau dua orang yang menyaksinya. Tapi di dunia maya, satu tweet bisa dicopy, repost, bahkan di-share ke grup lain dalam hitungan detik. Dan karena banyak orang yang tidak tahu identitas sebenarnya, korban kadang bingung mencari penjelasan, atau malah merasa terisolasi.
Juga, ada faktor permanence. Sesuatu yang sudah diposting di internet, seolah takkan pernah hilang. Bahkan kalau sudah dihapus, orang masih bisa mengambil screenshot dan menyebarkannya lagi. Jadi, korban tidak hanya mengalami rasa sakit di saat itu, tapi juga terus berdebat dengan bayang-bayang yang tak pernah hilang.
Stalking Digital dan "Do Not Disturb" yang Palsu
Selain ejekan, ada praktik yang sering terlupakan: stalking digital. Ini termasuk memantau akun media sosial korban, mengirim pesan berulang kali, atau menyiarkan komentar di semua platform. Ini bikin korban merasa tidak punya ruang pribadi, walaupun mereka di dunia nyata masih punya ruang. "Do not disturb" yang dipakai di aplikasi chat kadang diabaikan oleh pelaku yang memaksa mereka membuka pesan. Jadi, meskipun terlihat sepele, ini bisa menimbulkan stres kronis.
Siapa yang Terlibat? Tidak Selalu Hanya Pelaku Utama
Di balik pelaku utama, ada "bystanders" atau saksi yang bisa ikut memperparah situasi. Sering kali, teman-teman yang "LOL" atau "haha" di komentar tidak sadar bahwa mereka membantu memperluas penyebaran rasa sakit. Begitu juga dengan "trolling" yang biasanya dianggap lucu, tapi kalau tidak diatur, bisa menurunkan batas toleransi korban. Kalau bisa, lebih baik kita jadi "stander" yang membantu mengakhiri komentar negatif dengan cara positif.
Bagaimana Sih Menangani Cyberbullying?
- Laporkan. Hampir semua platform punya mekanisme pelaporan. Jangan takut atau malu untuk melapor.
- Blokir. Menghapus kontak atau blokir pelaku bisa memberikan rasa aman.
- Save evidence. Simpan screenshot atau bukti pesan untuk nanti ketika mengajukan laporan ke pihak berwajib.
- Berbagi pengalaman. Menceritakan apa yang terjadi pada orang yang dipercaya dapat memberi dukungan emosional.
Selain itu, orang tua dan guru harus punya peran aktif. Mengajari anak tentang pentingnya digital citizenship dan bagaimana merespons pesan negatif dengan bijak bisa mencegah banyak masalah. Jangan menolak, tapi beri ruang bagi anak untuk bertanya, "Kenapa ini terjadi?" atau "Bagaimana cara saya menolak pesan ini?"
Respons Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Indonesia sudah mulai memperhatikan isu ini lewat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Namun, implementasinya masih terasa kabur. Di sisi lain, masyarakat luas, lewat kelompok komunitas atau NGO, sudah aktif mengadakan workshop atau talkshow tentang cyberbullying. Bahkan, beberapa selebriti dan influencer pun sudah menggunakan platform mereka untuk menyuarakan bahwa cyberbullying bukan hal yang bisa diabaikan.
Di balik semua ini, satu pesan yang konsisten adalah bahwa kita semua punya tanggung jawab. Saat seseorang mengunggah komentar negatif, pikirkan dulu, "Apakah ini benar-benar pantas?" Jika jawabannya tidak, berhentilah. Kalau kamu korban, ingatlah bahwa ada banyak orang yang ingin membantu.
Kesimpulan: Jangan Biarkan Layar Membuat Kita Terisolasi
Di era digital ini, kita punya lebih banyak cara untuk terhubung, tapi juga lebih banyak cara untuk terpisah. Cyberbullying adalah salah satu sisi gelap yang memerlukan perhatian serius. Dengan pemahaman yang baik, respons yang cepat, dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan individu, kita bisa meredam efek negatifnya.
Jadi, bagi yang masih merasa "tahukah?" atau "gak tahu bagaimana melaporkannya", yuk mulai edukasi diri sendiri. Karena, kalau kita semua punya sedikit pengetahuan, maka kita bisa menjaga keamanan digital kita dan teman-teman sekitarnya. Ingat, di dunia maya, kita semua saling terhubung, jadi mari kita jadikan itu sebagai kesempatan, bukan sebagai jebakan.
Next News

Fake Followers: Angka Fantasi di Dunia Sosial Media
2 days ago

Algoritma Media Sosial: Seorang Guru di Tengah Dunia Digital
2 days ago

Hidup di Dunia Tanpa Tunai
2 days ago

Sekali Klik Bisa Jadi Masalah
2 days ago

Cybercrime: Kejahatan yang Tidak Pernah Tidur
2 days ago

Kenapa Password Masih Jadi Pertahanan Utama Kita?
2 days ago

Ketika Semua Orang Jadi Kritikus di Internet
2 days ago

Apa yang Tertinggal Setelah Kita Scroll?
2 days ago

Era Streaming: Cara Baru Menikmati Hiburan dan Berinteraksi
2 days ago

Selfie di Era AI: Mengapa Filter Wajah Begitu Digemari?
2 days ago





