Coret Aja Dulu
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 12:00 PM


Seni Lukis: Dari Coretan Gunung Kembar Sampai Jadi Sarana Healing Paling Ampuh
Kalau kita bicara soal seni lukis, ingatan sebagian besar dari kita mungkin bakal terlempar ke masa-masa SD. Ingat nggak sih, pola sakti yang isinya dua gunung, matahari di tengahnya, jalan raya yang menyempit di ujung, dan sawah di kanan-kiri? Ya, itu adalah "template" seni lukis nasional yang hampir semua anak Indonesia pernah bikin. Lucu memang, tapi dari sana kita belajar bahwa keinginan manusia buat menumpahkan sesuatu ke dalam bentuk visual itu sudah ada sejak kita masih ingusan.
Tapi, makin kita gede, seni lukis seringkali dianggap jadi sesuatu yang eksklusif. "Ah, gue nggak bakat," atau "Gambar gue cuma coret-coretan ayam ceker," sering banget jadi alasan buat kita menjauh dari kuas dan kanvas. Padahal, kalau kita mau jujur, seni lukis itu sebenarnya jauh lebih santai dan "receh" dari apa yang dibayangkan orang-orang di galeri mewah dengan segelas wine di tangan mereka. Seni lukis itu media curhat yang paling jujur, lebih dari sekadar caption galau di Instagram.
Bukan Soal Bakat, Tapi Soal Berani Malu
Ada anggapan yang salah kaprah kalau seni lukis itu cuma milik mereka yang punya "titisan" maestro atau yang tangannya nggak gemeteran pas pegang pensil. Padahal, kalau kita lihat sejarah, lukisan-lukisan di dinding gua prasejarah itu nggak dibuat pakai teknik shading yang rumit ala pelukis Renaissance. Mereka cuma pengen cerita kalau hari itu mereka berhasil berburu banteng. Sesimpel itu.
Di era sekarang, seni lukis makin cair. Lo nggak harus bisa gambar anatomi manusia yang sempurna buat disebut pelukis. Lihat aja aliran abstrak atau minimalis. Kadang cuma satu garis hitam di atas kanvas putih, tapi harganya bisa buat beli mobil mewah. Kenapa? Karena yang dijual bukan cuma teknik, tapi rasa, ide, dan keberanian buat tampil beda. Jadi, kalau lo merasa cuma bisa gambar orang bentuk lidi (stickman), ya nggak masalah. Selama lo punya pesan yang mau disampaikan, itu udah termasuk seni.
Masalahnya, kita seringkali terlalu takut dihakimi. Takut dibilang jelek, takut dibilang nggak simetris. Padahal, seni itu bukan ujian matematika yang jawabannya harus mutlak benar. Di dunia seni, kesalahan itu seringkali disebut sebagai "karakter". Jadi, mulailah berani malu. Coret aja dulu, urusan bagus atau nggak itu belakangan.
Healing Tipis-Tipis Lewat Kuas
Belakangan ini, tren "Paint and Sip" atau workshop melukis santai di kafe-kafe lagi menjamur banget di kota-kota besar kayak Jakarta atau Bandung. Fenomena ini menarik buat diamati. Ternyata, orang-orang kantoran yang tiap hari berkutat sama spreadsheet Excel atau anak muda yang pusing mikirin quarter-life crisis butuh pelampiasan. Dan seni lukis jadi jawabannya.
Kenapa seni lukis bisa jadi sarana healing? Karena pas kita melukis, otak kita masuk ke kondisi yang namanya "flow". Kita fokus ke warna yang kita campur, tekstur cat yang menempel di kanvas, dan gerakan tangan kita. Di saat itu, dunia luar kayak berhenti sejenak. Nggak ada notifikasi WhatsApp dari bos, nggak ada tagihan cicilan yang muter-muter di kepala. Cuma ada lo, kuas, dan warna-warna itu.
Banyak psikolog juga bilang kalau seni lukis itu salah satu bentuk terapi yang efektif. Lo nggak perlu ngomong sepatah kata pun, tapi perasaan lo—entah itu marah, sedih, atau seneng—bisa tertuang lewat pilihan warna. Kalau lagi kesel, mungkin lo bakal pakai warna-warna gelap dan goresan yang kasar. Kalau lagi jatuh cinta, mungkin kanvas lo bakal penuh warna pastel yang lembut. Ini adalah komunikasi non-verbal yang paling jujur sama diri sendiri.
Digital vs Tradisional: Mana yang Lebih "Seni"?
Debat ini nggak pernah ada habisnya. Sejak munculnya tablet grafis dan aplikasi kayak Procreate atau Photoshop, banyak yang nanya: "Kalau gambarnya pakai komputer, masih bisa disebut seni lukis nggak sih?" Jawabannya singkat: Ya jelas, dong! Alat itu cuma medium. Intinya tetap ada di kreativitas manusia di balik layarnya.
Melukis tradisional pakai cat minyak atau akrilik memang punya sensasi tersendiri. Ada aroma khas dari cat yang nggak bisa digantikan oleh teknologi. Ada tekstur kasar yang kalau disentuh tangan terasa nyata. Tapi, melukis digital punya fleksibilitas yang luar biasa. Lo bisa "undo" kalau salah garis, lo nggak perlu nunggu cat kering berjam-jam, dan lo nggak perlu ribet cuci kuas setelah selesai.
Menurut observasi saya yang suka nongkrong di pameran seni, batasan antara keduanya makin tipis. Banyak seniman sekarang yang menggabungkan keduanya. Mereka bikin sketsa di tablet, lalu dipindahkan ke kanvas manual, atau sebaliknya. Jadi, nggak usah lah kita jadi "purist" yang kaku banget. Mau pakai kuas dari bulu musang atau pakai stylus pen di layar iPad, selama hasilnya bisa bikin orang berhenti sejenak buat ngelihat, itu tetap karya seni yang patut diapresiasi.
Seni Lukis Sebagai Perlawanan dan Kritik Sosial
Jangan lupa, seni lukis juga punya sisi "galak". Dari dulu, lukisan sering dipakai sebagai alat kritik sosial atau politik. Lihat aja mural-mural di pinggir jalan yang seringkali menyuarakan isi hati rakyat jelata. Kadang, satu lukisan di dinding kota bisa lebih ngena daripada orasi panjang lebar di atas mobil komando.
Seni lukis jalanan (street art) atau grafiti sering dianggap vandalisme oleh sebagian orang, tapi bagi yang lain, itu adalah bentuk demokrasi visual. Di sana, seni nggak lagi terkurung di dalam ruangan ber-AC yang cuma bisa diakses orang-orang tertentu. Seni turun ke jalan, bersinggungan langsung sama asap knalpot dan pedagang kaki lima. Ini membuktikan kalau seni lukis itu dinamis dan selalu punya cara buat bertahan hidup di tengah kerasnya zaman.
Kesimpulan: Semua Orang Adalah Seniman
Jadi, apa kesimpulannya? Seni lukis itu luas banget. Ia bukan cuma soal estetika yang bikin mata seger, tapi juga soal ekspresi jiwa. Jangan pernah minder kalau gambar lo nggak mirip aslinya. Karena tujuan seni lukis bukan buat menyaingi kamera smartphone yang bisa nangkep gambar secara presisi, tapi buat menangkap apa yang nggak bisa ditangkep oleh lensa: perasaan.
Mulai sekarang, cobalah ambil selembar kertas dan alat tulis apa aja yang ada di dekat lo. Nggak perlu beli cat mahal dulu. Mulai aja dengan coretan-coretan nggak jelas pas lo lagi bosen di tengah meeting atau kuliah. Siapa tahu, dari coretan iseng itu, lo nemuin kedamaian kecil yang selama ini lo cari. Karena pada akhirnya, setiap orang adalah seniman dalam versinya masing-masing, dan hidup ini adalah kanvas kosong yang nunggu buat lo warnai. Selamat berkarya, Sobat Aesthetic!
Next News

Diduga Tak Cair Penuh, 10 Penerima BSPS di Konang Bangkalan Keluhkan Bantuan Rp20 Juta
8 hours ago

Sambut Ramadan, Ratusan Pelajar Pulau Mandangin Gelar Aksi Bersih-Bersih Pantai
8 hours ago

Perempuan Lumpuh di Pamekasan Tak Tersentuh Bansos PKH
9 hours ago

2 Kapal Alami Kecelakaan Laut di Sumenep, 8 ABK Hilang
9 hours ago

Cegah PMK Masuk ke Sampang, Petugas Medis Razia Kesehatan Sapi ke Desa
9 hours ago

Jelang Ramadan, Harga Cabai Rawit di Sampang Tembus Rp80 Ribu Per Kilogram
12 hours ago

Ponpes Darul Mukhlisin Sampang Gelar Karnaval Imtihan, Perkuat Syiar Islam dan Harmoni Sosial
a day ago

Antisipasi Penimbunan Jelang Ramadan, Satgas Pangan Polres Sampang Gelar Operasi Pasar
a day ago

Pemkab Sampang Fasilitasi Sertifikat Tanah Gratis bagi 1.000 Pelaku UMKM
a day ago

6 Tahun Listrik Redup Seperti Lilin, Warga Desa Petarongan Datangi Kantor PLN Sampang
a day ago



