2 Kapal Alami Kecelakaan Laut di Sumenep, 8 ABK Hilang
Redaksi - Saturday, 14 February 2026 | 06:28 AM


salsabilafm.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) mulai memperketat pengawasan kesehatan hewan ternak. Langkah ini diambil guna mencegah masuknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang dilaporkan kembali meningkat di sejumlah wilayah Jawa Timur pada awal 2026.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DPKP Sampang, Arif Rahman Hakim menyatakan, pemeriksaan ini merupakan langkah antisipasi dini. Selain menjaga populasi ternak, kegiatan ini bertujuan menjamin ketersediaan daging yang aman dikonsumsi masyarakat menjelang hari raya.
"Hewan jenis sapi menjadi konsumsi daging favorit masyarakat Madura, khususnya di Sampang saat Lebaran. Jadi, kegiatan ini juga sebagai persiapan menyambut masa tersebut," katanya, Sabtu (14/2/2026).
Untuk memastikan efektivitas, pihaknya menerapkan pola pemeriksaan "jemput bola" dengan menerjunkan 12 personel yang terdiri dari mantri dan dokter hewan. Petugas mendatangi langsung kandang-kandang milik peternak di berbagai desa.
Menurutnya, hingga saat ini, hasil pemeriksaan menunjukkan wilayah Sampang masih bersih dari paparan PMK. Meski demikian, petugas tetap melakukan penyuntikan vaksinasi dan pemantauan rutin untuk memperkuat imunitas ternak.salsabilafm.com – Dalam sepekan, 2 kapal asal Desa Pulau Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dilaporkan mengalami kecelakaan laut. Satu kapal karam, sementara satu kapal lainnya hingga kini hilang kontak dalam pelayaran menuju Banyuwangi.
Peristiwa terbaru dialami KM Nur Azizah, yang dinahkodai Hendra bersama tiga anak buah kapal (ABK). Kapal itu berangkat dari Dermaga Pagerungan Kecil pada Selasa (10/2/2026) sekitar pukul 22.00 WIB dengan muatan ikan segar dan kelapa, dengan tujuan Pelabuhan Pantai Boom, Banyuwangi.
Perangkat Desa Pagerungan Kecil, Abdul Rahim, mengatakan, KM Nur Azizah dijadwalkan tiba di Banyuwangi pada Rabu (11/2/2026) siang, sekitar pukul 15.00 WIB. Namun hingga kini, Jumat (13/2/2026), kapal tidak kunjung sandar dan komunikasi terputus.
"Seharusnya sudah sampai siang hari sekitar jam 15.00 WIB. Tapi sampai sekarang belum ada informasi, kapal hilang kontak," kata Rahim, Jumat (13/2/2026).
Rahim menjelaskan, setelah kapal dinyatakan hilang kontak, warga dan nelayan setempat langsung melakukan pencarian secara mandiri.
Pencarian difokuskan di jalur pelayaran yang biasa dilalui kapal rute Pagerungan Kecil–Banyuwangi.
"Kemarin sore sekitar jam 15.00 WIB sudah dilakukan pencarian di sekitar rute Banyuwangi–Pagerungan yang biasa dilewati kapal-kapal loading dari Sapeken, tapi belum ada hasil," tambah Rahim.
Rahim menyebut, hilangnya KM Nur Azizah menambah kekhawatiran warga, karena hanya berselang beberapa hari sebelumnya, kapal lain asal desa yang sama, KM Kembang Kurma, dilaporkan karam di perairan utara Pulau Lombok.
Pada kejadian awal Februari itu, nahkoda dan tiga ABK hingga kini belum ditemukan.
"Ini yang membuat warga cemas. Dalam waktu sepekan, sudah dua kapal asal Pagerungan Kecil bermasalah di laut," ucapnya
Menurut Rahim, sebagian besar warga desa menggantungkan hidup dari aktivitas melaut dan pelayaran antarpulau. Rentetan kejadian itu membuat keluarga nelayan waswas setiap kali kapal berangkat.
Rahim berharap, pihak terkait segera turun tangan membantu pencarian KM Nur Azizah. Dia meminta respons cepat dari tim SAR, mengingat kondisi cuaca laut yang tidak menentu.
"Harapan kami sebagai masyarakat, Basarnas Sumenep atau Jawa Timur bisa bergerak cepat. Kami khawatir karena ini sudah kejadian kedua dalam waktu dekat," kata Rahim.
Hingga berita ini tayang, belum ada informasi resmi mengenai posisi terakhir KM Nur Azizah. Warga dan keluarga kru berharap seluruh awak kapal segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Sementara itu, Koordinator Basarnas Pos SAR Sumenep, Nur Hadi Santoso, menyatakan, pihaknya sudah menerima informasi terkait hilang kontaknya KM Nur Azizah. "Informasi sudah kami terima dan saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Basarnas Jawa Timur serta wilayah terkait. Perkembangan selanjutnya masih kami tunggu sesuai hasil koordinasi dan kondisi di lapangan," ujar Nur Hadi. (*)
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tren kasus PMK kembali naik di awal tahun 2026 dengan ratusan kasus aktif ditemukan di 12 kabupaten, termasuk tetangga terdekat, Kabupaten Bangkalan.
"Sampang memang belum ditemukan kasus, tapi kami harus proaktif. Mobilitas sapi lintas daerah menjelang Ramadan hingga Lebaran biasanya sangat tinggi, sehingga risiko penularan harus ditekan sejak dini," ungkapnya.
"Melalui langkah ini, kami berharap para peternak tetap tenang dan segera melaporkan jika menemukan gejala tidak wajar pada hewan ternak mereka agar bisa segera ditangani secara medis," pungkasnya. (Mukrim)
Next News

Diduga Tak Cair Penuh, 10 Penerima BSPS di Konang Bangkalan Keluhkan Bantuan Rp20 Juta
8 hours ago

Sambut Ramadan, Ratusan Pelajar Pulau Mandangin Gelar Aksi Bersih-Bersih Pantai
8 hours ago

Perempuan Lumpuh di Pamekasan Tak Tersentuh Bansos PKH
9 hours ago

Cegah PMK Masuk ke Sampang, Petugas Medis Razia Kesehatan Sapi ke Desa
9 hours ago

Jelang Ramadan, Harga Cabai Rawit di Sampang Tembus Rp80 Ribu Per Kilogram
12 hours ago

Coret Aja Dulu
3 hours ago

Ponpes Darul Mukhlisin Sampang Gelar Karnaval Imtihan, Perkuat Syiar Islam dan Harmoni Sosial
a day ago

Antisipasi Penimbunan Jelang Ramadan, Satgas Pangan Polres Sampang Gelar Operasi Pasar
a day ago

Pemkab Sampang Fasilitasi Sertifikat Tanah Gratis bagi 1.000 Pelaku UMKM
a day ago

6 Tahun Listrik Redup Seperti Lilin, Warga Desa Petarongan Datangi Kantor PLN Sampang
a day ago



