Kamis, 22 Januari 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Terhambat Cuaca Buruk, Stok Genteng di Sampang Menipis dan Harga Melonjak

Ach. Mukrim - Sunday, 18 January 2026 | 06:09 AM

Background
Terhambat Cuaca Buruk, Stok Genteng di Sampang Menipis dan Harga Melonjak
Pekerja memproduksi genting di Kecamatan Karang Penang. (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Aktivitas industri di sentra kerajinan genteng Karang Penang, Sampang, Madura, nyaris lumpuh total seiring meningkatnya debit hujan di awal tahun 2026. Kondisi ini menyebabkan stok material di gudang-gudang pengrajin merosot tajam dan mengancam stabilitas harga.


Pantauan salsabilafm.com, para pengrajin mengeluhkan hambatan besar yang terjadi dari hulu hingga hilir, mulai dari sulitnya akses pengangkutan bahan baku tanah liat hingga durasi pengeringan yang membengkak berkali-kali lipat dibandingkan musim kemarau.


Munif (43) salah satu pengrajin genteng di Karang Penang, mengungkapkan, kendala logistik menjadi faktor paling krusial. Kondisi infrastruktur jalan yang buruk menuju lokasi pengambilan tanah liat membuat kendaraan pengangkut tidak mampu beroperasi.


"Kalau musim hujan, kendaraan tidak bisa masuk ke lokasi pengambilan tanah karena jalannya becek. Akhirnya bahan baku tidak bisa diambil dan stok tanah di gudang jadi sedikit," ungkapnya, Minggu (18/1/2025).


Selain masalah bahan baku, lanjutnya, cuaca ekstrem juga memperlambat proses pengeringan secara drastis. Proses penjemuran yang biasanya hanya memakan waktu satu hari, kini bisa memakan waktu hingga tujuh hari atau lebih akibat minimnya sinar matahari.


"Biasanya kalau musim kemarau, satu hari dijemur sudah cukup. Tapi kalau musim hujan seperti sekarang, penjemuran bisa sampai satu minggu bahkan lebih," tambahnya.


Munif menjelaskan, di tengah produksi yang merosot, permintaan masyarakat terhadap genteng justru tidak mengalami penurunan. Ketidakseimbangan pasokan ini langsung berdampak pada lonjakan harga di pasaran.


Saat ini, harga genteng model gelombang telah menyentuh angka Rp1,4 juta per seribu biji. Harga tersebut merupakan harga di tingkat pengrajin dan belum termasuk biaya pengiriman ke lokasi konsumen.


Merespons kondisi yang terus berulang setiap tahun ini, para pelaku usaha mikro di sektor properti tersebut mendesak Pemerintah Kabupaten Sampang untuk segera memberikan solusi konkret, terutama perbaikan infrastruktur jalan di area sentra industri.


"Harapan kami, ada perhatian dari pemerintah, mungkin jalan menuju pengambilan tanah bisa diaspal atau dibuatkan jalan khusus. Kalau jalannya bagus, meskipun musim hujan, produksi genteng tetap bisa berjalan," pungkasnya. (Mukrim)