Minggu, 16 Agustus 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Puncak Festival Pesisir ke-5, 400 Nelayan Gemakan Budaya Mandangin

Ach. Mukrim - Sunday, 16 August 2026 | 05:53 AM

Background
Puncak Festival Pesisir ke-5, 400 Nelayan Gemakan Budaya Mandangin
Pagelaran Festival Pesisir di Pulau Mandangin. (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Puncak Festival Pesisir #5 digelar di Pulau Mandangin, Kabupaten Sampang, Madura, Sabtu (15/8/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, serta Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan SKK Migas dalam mengangkat potensi budaya sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.


Festival Pesisir tahun kelima ini mengusung tema "Mandangin Menggema". Berbagai pertunjukan seni dan budaya ditampilkan oleh masyarakat setempat, termasuk 400 nelayan Pulau Mandangin yang terlibat langsung sebagai penampil dalam pertunjukan.


Manager Regional Office and Relations HCML, Hamim Tohari, mengatakan, Festival Pesisir merupakan salah satu upaya HCML untuk menjadi tetangga yang baik bagi masyarakat di wilayah sekitar operasi perusahaan.




"Festival Pesisir adalah upaya kecil dari HCML untuk senantiasa berusaha menjadi tetangga yang baik bagi masyarakat lokal di mana kita beroperasi," katanya, Sabtu (15/8/2026). 


Hamim menyampaikan terima kasih kepada Bupati Sampang, pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh ulama, tokoh pemuda, serta seluruh masyarakat Kabupaten Sampang yang selama ini memberikan dukungan terhadap kegiatan operasi HCML.




Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar HCML dapat menjalankan amanah negara dalam mengelola sumber daya minyak dan gas bumi dengan baik.


"Kami juga menyampaikan permohonan maaf kalau acara ini mungkin mengganggu lalu lintas maupun keseharian Bapak-Ibu sekalian," ujarnya.


Dia berharap, hubungan dan kerja sama yang telah terjalin antara HCML, pemerintah, dan masyarakat dapat terus berjalan sehingga kegiatan operasi perusahaan dalam mengemban amanah negara untuk pengelolaan minyak dan gas bumi dapat berlangsung dengan baik dan memberikan manfaat.




Hamim menjelaskan, persiapan Festival Pesisir #5 telah dilakukan sekitar tiga bulan sebelum pelaksanaan. Salah satu fokus kegiatan adalah menggali potensi budaya dan cerita lokal yang ada di Pulau Mandangin.


"Persiapannya ini sudah lama, sekitar tiga bulan. Nanti kita bisa melihat penampilan anak-anak putra-putri nelayan dalam menampilkan seni budaya kita," katanya.




Dia menambahkan, Festival Pesisir merupakan bagian dari rangkaian kegiatan HCML bersama SKK Migas dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan budaya.


Tema "Mandangin Menggema" dipilih karena perusahaan ingin memastikan program pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan secara berkelanjutan. Program tersebut diarahkan tidak hanya pada kegiatan sesaat, tetapi juga pada peningkatan kemandirian masyarakat.


HCML menggandeng pemuda dan pemudi yang memiliki kepedulian terhadap Kabupaten Sampang untuk menggali cerita, hikayat, dan sejarah yang tersembunyi di Pulau Mandangin. Cerita tersebut kemudian dituangkan dalam pertunjukan seni.




Menariknya, para pelaku pertunjukan merupakan masyarakat lokal, termasuk para nelayan Pulau Mandangin.


Sekitar 400 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi bagian langsung dari pertunjukan, baik sebagai penari maupun pemeran drama.




"Yang menjadi drama, yang menjadi aktor itu masyarakat lokal Pulau Mandangin, Desa Mandangin sendiri," jelasnya.


Pelibatan masyarakat, kata dia, menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi sekaligus menciptakan kegiatan positif yang dapat memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir.


Meski tugas utama HCML adalah mengelola sumber daya minyak dan gas, perusahaan menyatakan memiliki visi untuk menjadi "tetangga yang baik" bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.




Karena itu, HCML berupaya berjalan bersama masyarakat melalui program-program yang berkaitan dengan pelestarian tradisi, penguatan ekonomi, pemberdayaan UMKM, dan berbagai kegiatan sosial lainnya.


Terkait keinginan Bupati Sampang menjadikan Pulau Mandangin sebagai kawasan wisata, HCML menyatakan menyambut baik gagasan tersebut.




Dia menyebut pengembangan pariwisata harus dilakukan secara bertahap. Salah satu fondasi yang perlu dipersiapkan adalah kemampuan ekonomi masyarakat melalui penguatan UMKM.


"Kita punya roadmap. Di roadmap itu kita harus membuat UMKM-nya dulu, membuat masyarakat Pulau Mandangin siap dulu. Sudah ada beberapa kelompok yang kita latih," ujarnya.


Jika berbagai program tersebut telah berjalan dan masyarakat dinilai siap, HCML menargetkan pengembangan yang lebih besar dapat direalisasikan pada tahun depan.




Menurutnya, Pulau Mandangin memiliki sejumlah potensi wisata, termasuk spot bawah laut yang menarik. Bahkan, sudah terdapat komunitas atau klub penyelam yang kerap mengundang penyelam dari luar daerah untuk datang ke Pulau Mandangin.


Namun, potensi tersebut masih membutuhkan penguatan promosi agar semakin dikenal luas.




"Kita menyambut baik apa yang direkomendasikan oleh Bupati Sampang karena kita sudah punya roadmap. Tinggal kita masukkan dalam roadmap kita. Kalau semuanya sudah siap, baru kita jalan," katanya.


Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Anggono Mahendrawan, turut mengapresiasi pelaksanaan Festival Pesisir #5.


Anggono menyebut momentum Festival Pesisir tahun ini sangat istimewa dan berharap tema "Mandangin Menggema" benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.




"Semoga sesuai tema, Mandangin Menggema, membuat gema yang positif bagi masyarakat di sekitar operasi kami," ujarnya.


Anggono juga berharap sinergi antara SKK Migas, HCML, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat terus terjaga dengan baik.




Dia mengaku melihat langsung besarnya keterlibatan masyarakat dalam festival tersebut, termasuk sekitar 400 nelayan yang ikut menjadi bagian dari pertunjukan.


Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budaya seperti itu merupakan hal yang luar biasa dan menunjukkan kuatnya sinergi antara perusahaan dengan masyarakat lokal.





Bupati Ingin Mandangin Jadi Destinasi Wisata dan Mandiri Ekonomi


Bupati Sampang Slamet Junaidi sangat mengapresiasi pelaksanaan Festival Pesisir #5. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan kehadiran perusahaan di tengah masyarakat.


"Selaku Bupati Kabupaten Sampang, saya sangat mengapresiasi kegiatan yang sangat luar biasa ini, di mana HCML hadir di tengah-tengah masyarakat," katanya.




Namun, Slamet menegaskan, dirinya ingin kegiatan pemberdayaan di Pulau Mandangin tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Dia ingin masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.


"Saya tidak ingin masyarakat Pulau Mandangin cuma menjadi penonton. Bagaimana ada kemandirian ekonomi, ini penting, karena Pulau Mandangin termasuk daerah terdampak," tegasnya.




Dia mengapresiasi HCML yang telah memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM sekaligus mengedukasi masyarakat agar mampu membangun kemandirian ekonomi.


Bupati juga menyampaikan rencana pemanfaatan lahan seluas 6 hektare dari total sekitar 21 hektare lahan yang ada di Pulau Mandangin.


Lahan seluas 6 hektare tersebut diharapkan dapat dipinjam-pakaikan dan dikelola oleh masyarakat, khususnya pemuda Pulau Mandangin bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).




"Saya ingin Pulau Mandangin ini menjadi tempat wisata, ada kemandirian ekonomi. Enam hektare yang kita mohonkan untuk pinjam pakai itu saya ingin dikelola pemuda Pulau Mandangin," ujarnya.


Pemerintah Kabupaten Sampang, melalui Disporabudpar, juga siap terlibat dalam pendampingan. Slamet mengatakan pembiayaan program nantinya dapat dilakukan melalui skema berbagi dukungan bersama HCML.




"Kalau HCML tidak siap, kami siap untuk men-support. Yang penting masyarakat Pulau Mandangin," katanya.


Selain pengembangan kawasan wisata, Pemkab Sampang juga mengusulkan agar sisa lahan dari total 21 hektare tersebut dapat dimanfaatkan untuk area pemakaman masyarakat.


Menurut Slamet, kebutuhan lahan pemakaman menjadi persoalan penting karena luas Pulau Mandangin terbatas, sementara jumlah penduduk terus bertambah.




"Kami harap sisa dari 21 hektare itu bisa dihibahkan kepada kita untuk area pemakaman, karena ada keterbatasan pulau, tetapi penduduknya terus bertambah," ujarnya.


Slamet menilai pengembangan Pulau Mandangin harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pariwisata, UMKM, fasilitas masyarakat, hingga ketersediaan lahan untuk kebutuhan sosial.





Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sampang juga menyinggung status Pulau Mandangin dan Kabupaten Sampang yang saat ini masih dikategorikan sebagai daerah terdampak, bukan daerah penghasil dalam konteks bagi hasil migas.


Menurut dia, kondisi tersebut membuat manfaat dana bagi hasil yang diterima daerah belum optimal untuk pembangunan Kabupaten Sampang.




Dia berharap apabila terdapat kegiatan pengeboran minyak dan gas kembali di wilayah sekitar Sampang, cakupan wilayah penghasil dapat diperhitungkan hingga wilayah terluar sekitar empat mil sehingga Sampang dapat memperoleh manfaat lebih besar.


"Kita minta ketika ada pengeboran minyak kembali seperti yang dilakukan di daerah utara, maka harus dibawa sampai empat mil daerah terluar, sehingga dana bagi hasilnya sebagai daerah penghasil bisa lebih besar dan bisa membangun Pulau Mandangin," katanya.


Bupati berharap melalui SKK Migas, Pulau Mandangin dan Kabupaten Sampang dapat memperoleh perhatian lebih dalam kebijakan terkait daerah penghasil dan daerah terdampak.




Dijelaskan, apabila suatu daerah berstatus terdampak, dana bagi hasil dari pusat disalurkan melalui pemerintah provinsi. Sementara jika ditetapkan sebagai daerah penghasil, dana bagi hasil dapat diterima langsung oleh kabupaten penghasil sesuai ketentuan yang berlaku.


Slamet juga menyoroti keterlibatan tenaga kerja lokal dalam kegiatan pendukung operasi migas. Dia berharap pekerjaan-pekerjaan pendukung HCML dapat lebih banyak melibatkan masyarakat dan pelaku usaha dari Kabupaten Sampang.




Bupati juga meminta perusahaan lebih memprioritaskan perusahaan daerah maupun pelaku usaha lokal dalam pekerjaan pendukung operasi.


"Harapan kami adalah pajaknya untuk masyarakat Kabupaten Sampang. Tolong prioritaskan perusahaan daerah Kabupaten Sampang," ujarnya.


Menurutnya, peningkatan keterlibatan masyarakat lokal akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah.




Selain itu, dia berharap program CSR HCML dapat semakin diarahkan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata dan potensi ekonomi masyarakat di Pulau Mandangin.


"Saya ingin ada kesinambungan untuk melakukan pengembangan sehingga bisa mandiri," katanya.




Slamet mengaku terkesan ketika pertama kali turun dari kapal dan melihat kondisi Pulau Mandangin secara langsung.


Menurut dia, Pulau Mandangin memiliki karakter yang sangat khas dan berpotensi dikembangkan menjadi tujuan wisata.


"Ketika saya turun dari kapal langsung jalan ke lokasi, sangat mirip. Ini bukan di Madura, bukan Jawa, dan bukan Indonesia. Sangat mirip sekali," ujarnya.




Namun, menurutnya, potensi tersebut harus diikuti dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Selama ini sebagian besar masyarakat masih mengandalkan hasil tangkapan nelayan sebagai sumber penghasilan.


Sementara itu, banyak pemuda dan pemudi Pulau Mandangin yang memilih keluar pulau untuk mencari pekerjaan.




Karena itu, pengembangan wisata, UMKM, dan ekonomi kreatif diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru sehingga masyarakat tidak harus meninggalkan pulau untuk mendapatkan pekerjaan.


Bupati menyampaikan, dari total 21 hektare lahan yang tersedia, terdapat 6 hektare yang telah disiapkan dengan status pinjam pakai untuk mendukung pengembangan kawasan.


Lahan tersebut direncanakan diserahkan kepada pengelola Pemerintah Desa Pulau Mandangin untuk selanjutnya dapat dikelola melalui BUMDes.




"Insya Allah minggu depan kita akan serahkan kepada pengelola Pemerintah Desa Pulau Mandangin sehingga bisa dikelola oleh BUMDes dan nantinya ada kemandirian ekonomi," ujarnya 


Pengembangan kawasan tersebut diarahkan pada sektor pariwisata. Dengan adanya destinasi wisata, diharapkan UMKM masyarakat dapat tumbuh dan menciptakan sumber pendapatan baru.




Status lahan yang merupakan pinjam pakai juga menjadi bagian dari skema pengembangan yang harus dikelola secara tepat agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.


Menurutnya, Festival Pesisir #5 bukan hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan dalam pengembangan Pulau Mandangin.


Masyarakat menjadi pelaku utama dalam pertunjukan budaya, pemerintah daerah menyampaikan agenda pembangunan dan pengembangan wisata, sementara HCML dan SKK Migas menegaskan komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.




Keterlibatan sekitar 400 nelayan dalam pertunjukan seni menjadi salah satu gambaran bahwa masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut menjadi aktor utama dalam mengangkat cerita dan budaya Pulau Mandangin.


Melalui tema "Mandangin Menggema", seluruh pihak berharap suara, budaya, potensi wisata, dan ekonomi masyarakat Pulau Mandangin semakin dikenal.




Festival yang berlangsung selama dua hari tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sampang, Pemerintah Desa Pulau Mandangin, HCML, dan SKK Migas.


"Ke depan, sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan festival, tetapi berlanjut dalam bentuk program nyata yang mampu memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja, mengembangkan pariwisata, menjaga budaya lokal, dan mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat Pulau Mandangin," pungkasnya. (Mukrim)