Pesan PWNU Jatim: LESBUMI Menjaga Nilai-nilai Kebudayaan Perkuat Identitas Bangsa
Redaksi - Tuesday, 11 August 2026 | 05:40 AM


salsabilafm.com - Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan, di antara eksistensi Nahdlatul Ulama adalah menjaga identitas bangsa dalam menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan dan kecintaan terhadap Tanah Air. Melalui Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) NU bertugas menjaga Nilai-Nilai kebudayaan, mewujudkan dan memperkuat identitas bangsa.
"Kami menyambut baik hasil Muktamar Kebudayaan dengan Maklumat Kebudayaan dari para aktivis LESBUMI NU. Ini menunjukkan tengara visi profetik NU telah dilaksanakan melalui LESBUMI dengan mengusung Kembali ke Akar," tutur Kiai Kikin, panggilan akrabnya, saat menerima Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran untuk menyerahkan "Maklumat Kebudayaan LESBUMI Nahdlatul Ulama", Selasa (11/8/2026).
Selain Kiai Kikin, penyerahan juga disaksikan KH Abdul Matin Djawahir (Wakil Rais Syuriah), jajaran tanfidziyah antara lain Prof Kacung Marijan, KH M Taufiq Jalil, KH Noor Sodiq Askandar (ketiganya Wakil Ketua PWNU Jatim), dan Prof Babun Suharto (Wakil Sekretaris juga Koorbid Pendidikan dan Kebudayaan PWNU Jatim).
Maklumat Kebudayaan LESBUMI merupakan manisfesto yang dihasilkan dari Muktamar Kebudayaan Indonesia diselenggarakan LESBUMI NU di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang pada 12-14 Juni 2026 lalu. Menjadi dokumen bersejarah karena dengan tema "Kembali ke Akar" di pondok pesantren yang didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah (Bapak Pendiri dan Penggerak NU), juga menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026 mendatang.
"Nilai-nilai dasar perjuangan Nahdlatul Ulama yang digariskan Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari melalui Qonun Asasi Nahdlatul Ulama bersifat universal. Pada ujungnya ia menjadi bagian penting untuk menjaga identitas bangsa," tutur Kiai Kikin, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
Wakil Rais PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir, pada kesempatan itu mengingatkan LESBUMI NU agar menjaga keharmonisan di tengah masyarakat dengan latarbelakang budaya yang bermacam-macam.
"Tugas kita mengayomi mereka sekaligus menanamkan nilai keagamaan dan kesadaran spiritual seperti diajarkan para pejuang Islam dan Walisanga. Dengan begitu, kita bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dan negara di tengah perubahan zaman," tutur Kiai Matin, yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban.
Sementara itu, Prof Kacung Marijan menyampaikan pesan agar memperhatikan unsur terdalam dari huruf ba'. Huruf ba' dalam hijaiyah memberikan makna terdalam dari pelbagai sudut pandang Tauhid.
"Kita jangan terlena dengan menjaga peradaban, tata nilai sosial masyarakat. Dan yang terpenting, menjauhi sikap kebiadaban, termasuk keserakahan dalam masyarakat," tambah Prof Kacung, yang juga Guru Besar Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya.
Kembali ke Akar, Jejak Perjuangan NU
Ketua Lembaga Seni Budaya PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran melaporkan, gagasan mendalam mengenai makna "Kembali Ke Akar" dalam Maklumat Kebudayaan LESBUMI NU. Gagasan tersebut menjadi langkah awal untuk menghadapi tantangan zaman yang dihadapi bangsa Indonesia.
"Makna tema Kembali Ke Akar, kita menyadari tentang akar dari manusia. Akar dari manusia adalah kesadarannya sendiri. Kembali ke akar adalah kembali kepada kesadaran kita bahwa manusia itu sebagai subjek dalam kehidupan," tuturnya.
Menurut aktivis Forum Historiografi Nahdlatul Ulama tersebut, seni bukan hanya milik para budayawan, akademisi, dan kiai, melainkan milik seluruh umat manusia.
Sebagaimana disampaikan Ketua LESBUMI PBNU KH Muhammad Jadul Maula, berdasarkan Theory of Culture, kebudayaan memiliki sekitar 600 makna yang berbeda. Namun pada intinya, kebudayaan adalah jalan untuk menghadapi problematika bangsa yang menurutnya sedang mengalami penurunan.
Kata Riadi Ngasiran, keindahan hanyalah unsur dalam seni. Kesenian memberikan pengalaman batin manusia. Seni bukan hanya sebuah keindahan, tapi sebuah alat untuk menghadapi zaman melalui kebudayaan.
Yang terpenting dalam Kebudayaan, menghadirkan pelbagai dimensi dalam kehidupan. Dan yang ideal harus memuat tiga unsur utama.
Pertama, rasionalitas dalam pilar ilmu pengetahuan; Kedua, spiritualitas dalam pilar agama; dan Ketiga, rasa dalam seni. "Ketiganya, membutuhkan satu kesatuan tubuh untuk bergerak dan merepresentasikan ide-ide abstrak dalam realitas," tutur Riadi Ngasiran.
Dalam Muktamar Kebudayaan Indonesia, LESBUMI NU juga menyoroti tantangan zaman modern berupa "penyakit jiwa" yang sedang menyebar luas di kehidupan kita seperti sifat korupsi serta rasa yang tidak tersalurkan ketika manusia dihadapkan dengan berbagai problematika kehidupan. (*)
Next News

Dugaan Penipuan Berkedok Imam Mahdi di Bangkalan Dilaporkan ke Polisi
21 hours ago

Polisi Gerebek Lokasi Sabung Ayam di Sampang, Tegaskan Zero Tolerance Judi
21 hours ago

Pimpin Apel Hari Santri 2026, Ketua PCNU Sampang Tekankan Pentingnya Persatuan
21 hours ago

Peringati Hari Santri, PCNU Sampang Salurkan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan
a day ago

Proyek Jalan Madupat–Omben Rp3,9 Miliar Disoal, Warga Klaim Lahan Dipakai Tanpa Izin
2 days ago

2 Kali Ditegur Tak Digubris, Satpol PP Sampang Ancam Bongkar Parkir AGN Signature
2 days ago

Gudang di Bangkalan Terbakar Pasien Puskesmas Berhamburan Keluar
2 days ago

Kemenag Sumenep Tangani Dugaan Perundungan di Madrasah
2 days ago

Serukan Salat Istisqa Tiap Kecamatan, Wabup Sampang: Ikhtiar Batin Agar Turun Hujan
2 days ago

18 Bilik di Camplong Sampang Dibongkar Polisi, Diduga Jadi Tempat Konsumsi Narkoba
2 days ago

