Minggu, 5 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Mengapa Opor Ayam Jadi Hidangan Wajib Saat Idul Fitri

Redaksi - Sunday, 22 March 2026 | 04:27 PM

Background
Mengapa Opor Ayam Jadi Hidangan Wajib Saat Idul Fitri
Ilustrasi opor ayam (Istimewa /)

Opor Ayam: Kasta Tertinggi dalam Dunia Per-Lebaran-an dan Dilema Hari Ketiga

Bayangkan sebuah skenario klasik: Gema takbir berkumandang di kejauhan, aroma hio atau pewangi ruangan jeruk nipis kalah telak oleh kepulan uap gurih dari dapur, dan suara denting sendok beradu dengan panci besar menjadi soundtrack pagi yang syahdu. Di tengah semua keriuhan itu, ada satu sosok yang menjadi pusat semesta. Bukan, ini bukan soal baju baru yang beli di Tanah Abang, melainkan soal semangkuk cairan putih kental dengan potongan ayam yang empuknya luar biasa. Ya, kita bicara soal Opor Ayam.

Kalau ada kasta dalam dunia kuliner Indonesia, opor ayam jelas duduk di kursi singgasana paling atas, setidaknya saat Hari Raya tiba. Tanpa opor, Lebaran rasanya hambar. Kayak konser tanpa lagu encore, atau kayak hubungan yang digantung tanpa status. Gak afdol. Tapi, pernahkah kita benar-benar merenungkan, kenapa sih harus opor? Kenapa bukan fried chicken atau steak wagyu yang jadi menu wajib saat kumpul keluarga?

Akulturasi Budaya dalam Panci Keramik

Secara historis, opor ayam itu sebenarnya produk "blasteran" yang sangat sukses. Kalau ditelusuri akarnya, opor punya DNA yang mirip dengan kari dari India atau gulai dari tanah Arab. Tapi, karena orang kita kreatifnya gak ada obat, resep aslinya dimodifikasi sedemikian rupa. Penggunaan santan yang melimpah adalah kunci. Di saat orang India pakai yogurt atau krim, kita lebih milih memeras kelapa parut buat dapetin cita rasa gurih yang lebih earthy dan nendang.

Hebatnya lagi, opor adalah bukti nyata bagaimana budaya masuk ke Indonesia tanpa perlu perang urat syaraf. Dia masuk lewat selera makan. Rempah-rempah seperti ketumbar, jintan, serai, dan lengkuas bersatu padu menciptakan harmoni rasa yang bikin kita rela nambah porsi berkali-kali meskipun tahu kolesterol sudah mengintip di balik pintu. Ini bukan sekadar makanan, ini adalah diplomasi kuliner yang sudah bertahan selama berabad-abad.

Debat Klasik: Tim Opor Putih vs Tim Opor Kuning

Di jagat media sosial, kita sering ribut soal bubur diaduk atau gak diaduk. Tapi di dapur ibu-ibu seluruh Indonesia, ada perdebatan yang gak kalah sengit: Opor putih atau opor kuning? Ini adalah persoalan prinsipil. Opor putih biasanya dianggap lebih "murni" dan elegan. Rasanya lebih fokus ke gurih santan dan rempah putih seperti kemiri dan ketumbar. Vibes-nya kalem tapi mematikan.



Di sisi lain, ada opor kuning yang pakai kunyit sebagai game changer. Selain warnanya yang lebih menggoda dan terlihat mewah di foto Instagram, kunyit memberikan aroma yang lebih kuat dan katanya sih lebih awet alias gak cepat basi. Kalau saya pribadi sih, tim mana aja masuk, yang penting ayamnya bagian paha bawah dan kuahnya melimpah. Lagipula, siapa sih yang tega nolak opor kuning yang sudah dipadukan dengan sambal goreng ati dan taburan bawang goreng yang renyah itu?

Dilema Hari Ketiga: Evolusi Menjadi Opor "Angetan"

Nah, ini adalah sisi gelap sekaligus sisi paling nikmat dari opor ayam. Pada hari pertama Lebaran, opor adalah primadona. Semua orang memujinya. Hari kedua, dia masih oke, meskipun posisinya mulai terancam oleh bakso atau mie ayam abang-abang depan komplek yang baru buka. Tapi masuk hari ketiga? Di sinilah ujian kesetiaan dimulai.

Opor yang terus-menerus dipanaskan alias "diangetin" bakal mengalami perubahan wujud. Kuahnya makin kental, bumbunya makin meresap sampai ke tulang, dan warnanya sedikit lebih gelap. Bagi sebagian orang, opor angetan hari ketiga adalah puncak kenikmatan. Rasanya lebih "berani". Tapi bagi sebagian yang lain, ini adalah horor kuliner karena rasanya sudah terlalu asin dan tekstur ayamnya mulai hancur. Di sinilah letak seninya: bagaimana menghabiskan sisa opor tanpa merasa mual. Strategi paling ampuh biasanya adalah dengan menambahkan kerupuk kaleng yang banyak atau mencampurnya dengan nasi hangat daripada lontong yang sudah mulai mengeras.

Lebih dari Sekadar Urusan Perut

Kalau kita bicara secara jujur, opor ayam itu punya kekuatan magis untuk menyatukan orang. Di depan semangkuk opor, pertanyaan-pertanyaan menyebalkan seperti "Kapan lulus?", "Mana calonnya?", atau "Kapan nyusul punya anak?" rasanya jadi sedikit lebih ringan untuk dijawab. Opor memberikan semacam perlindungan emosional. Kita sibuk mengunyah, sibuk menyeruput kuah, sehingga ada jeda untuk tidak emosi menghadapi pertanyaan kepo dari sanak saudara.

Opor juga menjadi simbol kasih sayang orang tua, terutama ibu. Memasak opor itu ribet, lho. Harus marut kelapa (kalau masih tradisional), menghaluskan bumbu, sampai memastikan ayamnya matang sempurna tapi gak hancur. Kerja keras itu terbayar cuma lewat satu kalimat: "Bu, opornya enak banget." Itu adalah validasi tertinggi bagi seorang ibu di hari raya.



Jadi, meskipun tren makanan terus berganti—mulai dari makanan serba matcha, salted egg, sampai yang viral di TikTok—opor ayam tetap punya tempat yang tak tergantikan. Dia adalah zona nyaman kita. Dia adalah pengingat jalan pulang. Di setiap suapannya, ada cerita tentang mudik yang melelahkan, tentang maaf yang tulus, dan tentang hangatnya keluarga yang mungkin cuma bisa dirasakan setahun sekali.

Akhir kata, buat kalian yang mungkin sekarang lagi berjuang menghabiskan opor hari ketiga di dalam kulkas, tetap semangat. Ingat, di balik kuah yang mulai mengental itu, ada doa dan usaha keras yang luar biasa. Nikmati saja, karena beberapa hari lagi kita akan kembali ke realita: makan mie instan di akhir bulan sambil merindukan aroma opor yang baru matang dari panci ibu.