Sabtu, 11 Juli 2026
Salsabila FM
Life Style

Cara membangun komunikasi antara orang tua dan anak

Redaksi - Saturday, 11 July 2026 | 11:00 AM

Background
Cara membangun komunikasi antara orang tua dan anak
Cara membangun komunikasi antara orang tua dan anak ( Istimewa/)

Kenapa Sih Ngobrol Sama Anak Sendiri Rasanya Lebih Susah Daripada Debat di Twitter?

Bayangkan skenario ini: Kamu duduk di meja makan, di depanmu ada si sulung yang lagi asyik nge-scroll TikTok sambil sesekali senyum-senyum sendiri. Kamu mencoba membuka percakapan dengan pertanyaan standar, "Gimana sekolah tadi, Kak?". Jawabannya? Cuma dua kata sakti: "Biasa aja." Habis itu, hening. Suara sendok beradu dengan piring jadi musik latar yang canggung banget.

Pernah ngerasa rumah itu kayak kos-kosan? Isinya orang-orang yang saling kenal, satu atap, tapi frekuensinya beda-beda. Komunikasi antara orang tua dan anak itu emang gampang-gampang susah. Kadang kita merasa sudah jadi orang tua yang open-minded, tapi di mata anak, kita tetap saja sosok yang "nggak nyambung" atau hobi ceramah. Padahal, membangun jembatan komunikasi itu bukan soal siapa yang lebih pintar ngomong, tapi soal siapa yang mau lebih dulu membuka telinga.

Buang Jauh-Jauh Mode "Panglima"

Kesalahan paling umum yang sering kita lakukan sebagai orang tua adalah selalu bicara dalam mode instruksi. "Kamu harus begini," "Jangan gitu," atau "Dulu zaman Papa nggak kayak gini." Percayalah, kalimat-kalimat kayak gitu adalah pembunuh obrolan paling ampuh. Anak-anak, apalagi yang sudah masuk usia remaja, punya radar yang sensitif banget soal kebebasan. Begitu mereka merasa bakal diceramahi, mereka bakal langsung pasang benteng pertahanan alias tutup kuping.

Coba deh sesekali turunkan ego. Jangan selalu memosisikan diri sebagai panglima yang harus ditaati, tapi jadilah teman yang asyik buat diajak diskusi. Kalau anak lagi cerita soal temannya yang menyebalkan di sekolah, jangan langsung dipotong pakai kalimat bijak. Dengerin dulu. Ikutlah merasa "kesal" bareng mereka. Istilah kerennya, lakukan validasi emosi. Anak cuma butuh didengar, bukan butuh solusi instan yang seringnya malah terdengar menggurui.

Cari "Neutral Ground" yang Nggak Kaku

Komunikasi nggak harus selalu formal di meja makan atau di ruang tamu dengan posisi duduk tegap. Kadang, obrolan paling jujur itu tercipta di tempat-tempat yang nggak terduga. Bisa pas lagi terjebak macet di mobil, pas lagi masak bareng di dapur, atau bahkan pas lagi main game bareng. Di saat-saat santai kayak gitu, pertahanan anak biasanya lebih kendor.



Manfaatkan hobi mereka buat masuk ke dunia mereka. Kalau anak suka K-Pop, jangan langsung diejek "plastik". Coba tanya, "Eh, lagu yang tadi kamu dengerin judulnya apa? Enak juga ya beat-nya." Meskipun jujurly kamu nggak ngerti-ngerti amat, usaha buat menunjukkan minat pada dunia mereka itu adalah investasi besar. Mereka bakal merasa dihargai, dan perlahan-lahan, pintu komunikasi yang tadinya terkunci bakal terbuka sendiri.

Jangan Anti Sama Bahasa "Anak Sekarang"

Dunia sudah berubah, dan cara kita berbahasa juga harus adaptasi. Kita nggak perlu sih maksa pakai kata "skibidi" atau "rizzz" kalau memang nggak cocok, tapi setidaknya pahamilah konteks mereka. Jangan jadi orang tua yang langsung "ngegas" begitu dengar istilah baru yang kedengarannya aneh. Menjadi relevan itu penting supaya nggak ada gap yang terlalu lebar.

Selain itu, perhatikan juga bahasa tubuh. Anak itu detektor kebohongan yang handal. Kalau kita nanya "Lagi ada masalah ya?" tapi mata kita tetap nempel ke layar HP, anak bakal ngerasa kalau kita cuma basa-basi. Taruh HP-mu, liat matanya, dan tunjukkan kalau saat itu, dunia hanya milik kalian berdua. Perhatian penuh tanpa distraksi gadget itu barang langka di zaman sekarang, dan anak-anak sangat menghargai itu.

Konsistensi Adalah Kunci

Membangun komunikasi itu bukan proyek semalam jadi. Nggak bisa hari ini kita sok asyik, terus besok balik lagi jadi galak bin kaku. Ini adalah maraton, bukan lari sprint. Ada kalanya mereka tetap diam seribu bahasa meski kita sudah berusaha. Ya nggak apa-apa. Kasih mereka ruang. Yang penting, mereka tahu kalau kapan pun mereka siap buat ngomong, kita selalu ada di sana tanpa penghakiman.

Ingat, tujuan utama komunikasi itu supaya anak merasa aman untuk jujur. Kita pengen mereka lari ke rumah kalau ada masalah, bukan malah lari ke orang asing atau hal-hal negatif cuma karena mereka takut diceramahi di rumah sendiri. Jadi, yuk mulai pelan-pelan. Kurangi volume suara, perbanyak volume mendengar. Siapa tahu, besok-besok si sulung nggak cuma jawab "biasa aja," tapi mulai curhat panjang lebar soal gebetannya di sekolah. Dan saat itu terjadi, selamat, kamu sudah berhasil membangun jembatan itu.