Jumat, 26 Juni 2026
Salsabila FM
Life Style

Air Bersih, Masa Depan Sapudi

Redaksi - Thursday, 25 June 2026 | 07:41 AM

Background
Air Bersih, Masa Depan Sapudi
Penebangan pohon asam Jawa ( Istimewa/)

Pietra Widiadi

Mencermati potensi sumber daya alam di Desa Nyamplong, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, ibarat melihat aset yang sangat bernilai dan mampu menjadi modal kemakmuran masyarakat apabila dikelola secara bijaksana. Kekayaan alam berupa lahan pertanian, padang penggembalaan, sumber air, vegetasi lokal, serta potensi laut didukung oleh pengalaman masyarakat dalam bertani dan beternak serta kuatnya nilai gotong royong sebagai modal sosial. Jika kekuatan tersebut dipadukan dengan penguatan kelembagaan ekonomi, infrastruktur pendukung, dan akses pembiayaan, maka Desa Nyamplong memiliki peluang besar untuk membangun sistem penghidupan yang tangguh, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

Dari hasil pengkajian secara partisipatif ditemukan masalah yang merupakan ancaman pada masa yang akan datang, yaitu

Bidang

Masalah



Pertanian

Ketergantungan tinggi pada musim hujan

Ekonomi

Pendapatan tidak merata sepanjang tahun

Peternakan



Ketersediaan pakan musim kemarau terbatas

Sosial

Banyak biaya sosial pada saat pendapatan belum stabil

Lingkungan

Risiko kekurangan air saat kemarau



Kelembagaan

Belum terlihat mekanisme tabungan atau cadangan kelompok

Pemuda

Peluang kerja lokal terbatas sehingga mendorong migrasi

 



Dari gambaran tersebut, yang paling menonjol adalah Berdasarkan matriks tersebut, persoalan yang paling mendasar di Desa Nyamplong adalah tingginya ketergantungan sistem penghidupan masyarakat terhadap ketersediaan air dan curah hujan. Hampir seluruh sektor kehidupan dipengaruhi oleh kondisi ini. Pada sektor pertanian, produksi sangat bergantung pada musim hujan sehingga ketika kemarau berlangsung lebih panjang, hasil panen menurun dan masa tanam menjadi lebih pendek. Dampak tersebut kemudian merambat ke sektor peternakan karena berkurangnya hijauan pakan, sehingga biaya pemeliharaan ternak meningkat dan produktivitas ternak menurun. Dengan demikian, krisis air bukan hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi faktor utama yang memengaruhi ketahanan pangan dan ekonomi rumah tangga.

Dampak lanjutan dari berkurangnya ketersediaan air adalah ketidakstabilan pendapatan masyarakat sepanjang tahun. Ketika hasil pertanian menurun, kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan sosial ikut melemah. Pada saat yang sama, belum adanya mekanisme tabungan, cadangan pangan, maupun dana kelompok menyebabkan masyarakat memiliki kapasitas yang rendah dalam menghadapi musim kemarau atau gagal panen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kekeringan bukan hanya persoalan fisik berupa berkurangnya air bersih, tetapi juga memperbesar kerentanan ekonomi dan sosial masyarakat.

Dari perspektif sumber daya alam, matriks ini menunjukkan bahwa air bersih merupakan aset strategis sekaligus faktor pembatas utama pembangunan Desa Nyamplong. Risiko kekurangan air pada musim kemarau mengindikasikan bahwa daya dukung lingkungan mulai mengalami tekanan, sehingga diperlukan upaya konservasi daerah resapan, perlindungan mata air, rehabilitasi vegetasi penyimpan air seperti pohon asam dan randu, serta pembangunan sarana penyimpanan air seperti embung dan sistem panen air hujan. Tanpa penguatan modal alam tersebut, perubahan iklim diperkirakan akan semakin meningkatkan frekuensi kekeringan dan memperbesar risiko penurunan produktivitas pertanian maupun peternakan.

Secara keseluruhan, hubungan antarbidang dalam matriks menunjukkan bahwa krisis air merupakan akar persoalan yang memicu rangkaian masalah pada sektor pertanian, peternakan, ekonomi, sosial, hingga migrasi tenaga kerja. Oleh karena itu, strategi pembangunan Desa Nyamplong perlu menempatkan ketahanan air sebagai prioritas utama, kemudian diikuti dengan pengembangan sistem pertanian–peternakan terpadu, penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat, serta penciptaan peluang usaha lokal. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan tidak hanya mengatasi dampak kekeringan, tetapi juga memperkuat ketahanan penghidupan masyarakat secara berkelanjutan.



Asam Jawa adalah Jawaban

Di antara berbagai jenis vegetasi di Pulau Sapudi, pohon asam dan sukun merupakan dua pohon yang memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air. Pohon asam memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga mampu menyerap dan menyimpan air tanah, menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, serta tetap bertahan pada musim kemarau yang panjang. Karena fungsi ekologisnya tersebut, pohon asam menjadi salah satu tanaman konservasi yang sangat penting untuk menjaga ketahanan air dan kelestarian lingkungan di Pulau Sapudi.

Meskipun pohon asam merupakan salah satu aset ekologis penting di Pulau Sapudi, jumlahnya terus berkurang karena banyak ditebang dan dijual sebagai bahan baku arang. Padahal, pohon asam memiliki peran besar dalam menjaga ketersediaan air tanah, mengurangi erosi, serta menghasilkan buah yang dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat. Jika penebangan terus berlangsung tanpa upaya konservasi dan penanaman kembali, maka risiko krisis air dan kerusakan lingkungan di Pulau Sapudi akan semakin meningkat.

Tekanan penebangan yang terus terjadi menunjukkan bahwa Pulau Sapudi sedang kehilangan salah satu aset ekologis yang paling penting, yaitu pohon asam. Selama ini pohon asam lebih banyak dipandang sebagai sumber kayu yang memiliki nilai ekonomi jangka pendek, padahal manfaat ekologisnya jauh lebih besar. Sistem perakaran yang kuat mampu menyerap dan menyimpan air tanah, menjaga kelembapan lahan, mengurangi erosi, serta mempertahankan fungsi daerah resapan air. Di tengah perubahan iklim yang ditandai dengan musim kemarau semakin panjang dan menurunnya ketersediaan air bersih, hilangnya pohon asam berarti hilangnya salah satu benteng alami yang menjaga ketahanan lingkungan Pulau Sapudi.

Oleh karena itu, cara pandang terhadap pohon asam perlu diubah, dari sekadar komoditas ekonomi menjadi aset strategis pembangunan yang menjamin keberlanjutan sumber daya air. Upaya perlindungan, penanaman kembali, dan pengelolaan pohon asam secara berkelanjutan perlu menjadi bagian dari kebijakan konservasi pulau, sekaligus diintegrasikan dengan program ketahanan air, rehabilitasi lahan, dan pengembangan mata pencaharian masyarakat. Dengan demikian, pelestarian pohon asam tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air bersih, meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap kekeringan, dan memperkuat keberlanjutan pembangunan Pulau Sapudi.