Kamis, 9 April 2026
Salsabila FM
Life Style

Tradisi adat istiadat lokal

Redaksi - Thursday, 09 April 2026 | 08:00 AM

Background
Tradisi adat istiadat lokal
Tradisi adat istiadat lokal ( Istimewa/)

Menolak Lupa pada Ritual: Kenapa Tradisi Lokal Tetap Slay di Tengah Gempuran Algoritma?

Pernah nggak sih kalian lagi asyik scrolling TikTok, tiba-tiba lewat video orang lagi nari pakai kostum ribet di tengah desa, atau rombongan warga lagi gotong gunungan setinggi rumah? Di satu sisi, jempol kita gatel pengen nge-scroll ke konten dance challenge terbaru, tapi di sisi lain, ada perasaan hangat yang bikin kita berhenti sejenak. Ada sesuatu yang magis, yang barangkali nggak bisa dijelasin cuma pakai logika "efisiensi" zaman sekarang. Itulah tradisi adat istiadat kita, sebuah warisan yang sering kali dianggap kuno tapi sebenernya punya vibe yang susah dikalahin sama festival musik manapun.

Jujur aja, buat sebagian anak muda kota yang hidupnya udah serba digital, denger kata "adat" atau "tradisi" itu kadang kedengeran kayak tugas sekolah yang ngebosenin. Kita lebih hafal jadwal rilis series Netflix daripada jadwal bersih desa. Tapi kalau kita mau sedikit open-minded, tradisi itu bukan sekadar ritual bakar kemenyan atau kasih sesajen yang sering disalahartikan. Tradisi adalah cara nenek moyang kita "healing" dan membangun koneksi sebelum istilah self-care itu ditemukan oleh para influencer.

Bayangin deh, di saat kita sekarang kalau mau ngumpul harus janjian di grup WhatsApp yang ujung-ujungnya cuma di-read doang, orang-orang di desa dengan tradisinya udah punya sistem yang jauh lebih paten. Ambil contoh tradisi "Sambatan" atau gotong royong bangun rumah di beberapa daerah di Jawa. Nggak ada tuh yang namanya invoice atau tagihan biaya tukang. Yang ada cuma bapak-bapak bawa palu, ibu-ibu masak lodeh di dapur, dan obrolan ngalor-ngidul yang bikin capeknya nggak berasa. Ini adalah bukti kalau "social media" yang asli itu ya di dunia nyata, lewat interaksi fisik yang dibungkus adat.

Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Soal Identitas

Ada anggapan kalau tradisi itu bikin ribet. Harus beli ini, harus siapin itu, belum lagi aturan-aturan yang kalau dilanggar katanya bisa kualat. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bukankah hidup kita sekarang juga penuh aturan? Kita rela antre berjam-jam demi kopi kekinian atau tiket konser Coldplay. Kalau kita bisa sesabar itu buat hal-hal yang sifatnya konsumtif, kenapa kita sering sinis sama tradisi yang sebenernya jadi akar identitas kita?



Di Toraja, ada upacara Rambu Solo yang biayanya bisa bikin dompet kita nangis darah. Tapi bagi masyarakat di sana, itu adalah bentuk penghormatan terakhir yang paling tulus buat orang tua. Ada nilai pengabdian yang dalem banget di sana. Atau di Bali, dengan segala macam sesajen dan upacaranya yang bikin pulau itu punya "soul" yang nggak bakal bisa ditiru oleh destinasi wisata manapun di dunia. Tanpa adatnya, Bali cuma sekadar pantai biasa. Tradisi itulah yang ngasih warna, aroma, dan rasa yang bikin sebuah tempat punya nyawa.

Masalahnya, sering kali kita melihat tradisi dengan kacamata yang terlalu kaku. Padahal, tradisi itu sifatnya organik. Dia bisa beradaptasi. Liat aja sekarang, banyak kok anak muda yang mulai ngerasa kalau pakai kebaya atau kain batik itu "cool". Ada gerakan "Berkain" yang lagi rame di kalangan gen Z. Ini adalah bentuk re-branding tradisi yang goks banget. Kita nggak harus jadi kolot buat menghargai adat. Kita bisa kok pakai sneakers brand lokal sambil tetep bangga sarungan atau pakai kain lilit pas hangout di mall.

Tradisi di Tengah Gempuran Modernitas

Gak bisa dimungkiri, tantangan terbesar tradisi lokal sekarang adalah rasa bosan dan ketidaktahuan. Banyak ritual yang mulai hilang karena nggak ada lagi yang mau nerusin. Si Mbah udah meninggal, eh anaknya lebih milih pindah ke kota dan lupa caranya bikin janur atau hafal doa-doa kuno. Di sinilah letak ironinya. Kita sering banget teriak-teriak soal "pencurian budaya" oleh negara tetangga, tapi kita sendiri jarang mau meluangkan waktu buat beneran belajar soal budaya itu sendiri. Kita cuma peduli pas budayanya mau ilang, tapi cuek pas budayanya lagi berjuang buat bertahan.

Observasi kecil-kecilan saya, tradisi itu sebenarnya adalah cara manusia berdamai dengan alam. Hampir semua tradisi adat di Indonesia punya unsur syukur. Entah itu sedekah laut, syukuran panen, atau ritual minta hujan. Di zaman yang udah makin rusak lingkungan ini, tradisi sebenernya ngajarin kita buat nggak serakah. Ada batasan-batasan adat yang ngelarang orang nebang pohon sembarangan atau ngerusak sumber air. Jadi, kalau ada yang bilang tradisi itu nggak relevan, mungkin mereka perlu baca lagi soal krisis iklim. Nenek moyang kita udah lebih dulu paham cara jaga bumi lewat mitos dan larangan adat.



Makanya, nggak perlu deh kita terlalu skeptis kalau liat orang masih megang teguh adat istiadatnya. Selama adat itu nggak merugikan orang lain dan malah mempererat tali persaudaraan, kenapa nggak didukung aja? Justru di tengah dunia yang makin individualis ini, tradisi adalah oase. Dia ngingetin kita kalau kita nggak sendirian di dunia ini. Kita punya sejarah, kita punya keluarga besar, dan kita punya bumi yang harus dijaga bareng-bareng.

Akhir kata, tradisi itu kayak bumbu dalam masakan. Tanpa dia, hidup mungkin tetep jalan, tapi rasanya bakal hambar. Kita boleh aja punya gadget paling canggih atau kerja di perusahaan rintisan paling keren, tapi jangan sampai kita kehilangan "akar". Karena pada akhirnya, pas kita ngerasa asing sama dunia yang makin cepet ini, tradisi dan adat istiadat lokal adalah tempat kita buat pulang dan nemuin diri kita yang sebenernya. So, jangan lupa buat tetep bangga sama lokalitasmu ya, karena itu yang bikin kamu beda dari miliaran orang lainnya di planet ini!