Jumat, 20 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Self healing

Redaksi - Wednesday, 25 February 2026 | 09:00 AM

Background
Self healing
Self healing ( Istimewa/)

Self-Healing: Antara Kebutuhan Jiwa atau Sekadar Alibi Buat Foya-Foya?

Pernah nggak sih kamu merasa kalau isi kepala itu rasanya kayak tab browser yang dibuka terlalu banyak? Ada urusan kerjaan yang belum beres, cicilan yang melambai-lambai, sampai drama grup WhatsApp keluarga yang isinya cuma broadcast hoax kesehatan. Kalau sudah di titik itu, jari biasanya otomatis scroll Instagram, lalu terpaku pada postingan teman yang lagi santai di pinggir pantai Bali dengan caption: "Self-healing dulu biar nggak gila."

Istilah "self-healing" belakangan ini memang lagi naik daun banget, apalagi di kalangan anak muda. Rasanya kalau belum ngomongin healing, kita belum sah jadi bagian dari masyarakat modern yang sadar kesehatan mental. Tapi, kalau kita bedah pelan-pelan, sebenarnya apa sih yang kita maksud dengan penyembuhan diri ini? Apakah benar-benar menyembuhkan luka batin, atau jangan-jangan cuma alibi biar bisa foya-foya dan kabur sejenak dari kenyataan yang pahitnya ngalahin kopi americano tanpa gula?

Mari kita jujur-jujuran saja. Sekarang ini, makna self-healing sudah banyak yang melenceng. Banyak orang yang menganggap healing itu harus mahal. Harus staycation di hotel bintang lima, harus belanja barang branded yang harganya bikin dompet menangis, atau minimal ngopi cantik di kafe yang estetik demi konten. Padahal, kalau setelah pulang dari "healing" itu saldo ATM kita jadi sekarat dan kita malah makin stres mikirin makan besok apa, itu namanya bukan penyembuhan, tapi nambah beban pikiran baru alias self-torture terselubung.

Fenomena ini sering banget saya temui di media sosial. Orang-orang terjebak dalam lingkaran FOMO (Fear of Missing Out). Mereka merasa kalau nggak ikutan tren liburan mahal, mereka nggak benar-benar peduli sama kesehatan mentalnya sendiri. Padahal, inti dari self-healing itu adalah proses internal. Ia adalah upaya untuk berdialog dengan diri sendiri, mengenali luka-luka lama yang mungkin belum kering, dan mencoba menerima segala ketidaksempurnaan yang ada di dalam jiwa kita. Dan kabar baiknya, semua itu nggak butuh tiket pesawat ke Labuan Bajo.

Kalau kita mau sedikit menengok ke belakang, orang tua kita dulu mungkin nggak kenal istilah keren ini. Mereka kalau capek ya tidur, kalau stres ya ngobrol sama tetangga atau berkebun di belakang rumah. Kedengarannya membosankan buat kita yang terbiasa dengan stimulasi cepat, tapi ada benarnya juga. Self-healing yang sesungguhnya itu seringkali hal-hal sederhana yang mengembalikan fungsi "tombol reset" di otak kita.



Salah satu cara paling murah dan ampuh untuk self-healing adalah dengan jurnaling atau menulis. Nggak perlu puitis ala-ala penulis indie yang senja banget, cukup tuliskan apa yang kamu rasakan hari itu. Marah, kecewa, sedih, atau rasa gagal karena tadi siang salah ngomong pas rapat. Dengan menulis, kita seperti memindahkan beban yang ada di kepala ke atas kertas. Rasanya plong, kayak habis buang sampah pada tempatnya.

Selain itu, tidur yang cukup juga sering diremehkan. Banyak dari kita yang merasa butuh "healing" padahal sebenarnya kita cuma kurang tidur. Kurang istirahat bikin emosi jadi nggak stabil dan pikiran jadi gampang keruh. Sebelum kamu memutuskan untuk memesan tiket liburan yang harganya jutaan, coba deh matikan HP jam 9 malam, lalu tidur pulas sampai pagi. Kamu bakal kaget betapa segarnya pikiran saat bangun, dan masalah yang tadinya kelihatan kayak gunung, tiba-tiba cuma terasa kayak kerikil kecil.

Namun, kita juga nggak boleh tutup mata. Kadang-kadang, luka yang kita bawa itu terlalu dalam untuk sekadar diobati dengan tidur atau jurnaling. Ada trauma masa kecil atau masalah psikologis yang memang butuh bantuan profesional. Di sinilah letak kesalahpahaman lainnya: banyak yang menganggap self-healing itu harus dilakukan sendirian. Padahal, pergi ke psikolog atau psikiater juga merupakan bentuk tertinggi dari upaya menyembuhkan diri sendiri. Itu tandanya kita cukup berani untuk mengakui bahwa kita butuh bantuan dan nggak sok kuat memikul semuanya sendirian.

Jadi, buat kalian yang sekarang lagi merasa penat banget, coba deh dipikirkan lagi. Apakah yang kamu butuhkan itu benar-benar "healing" dalam arti sebenarnya, atau cuma butuh distraksi dari rutinitas? Nggak salah kok kalau mau liburan atau jajan enak sebagai apresiasi diri. Tapi, jangan sampai label "self-healing" jadi pembenaran untuk gaya hidup konsumtif yang malah bikin hidupmu makin berantakan di masa depan.

Self-healing itu bukan tentang ke mana kita pergi, tapi tentang bagaimana kita kembali. Kembali menjadi diri yang lebih utuh, lebih tenang, dan lebih siap menghadapi kenyataan hidup yang memang nggak selalu ramah. Hidup ini maraton, bukan sprint. Kita butuh berhenti sejenak untuk mengatur napas, tapi jangan sampai berhenti cuma buat dandan dan foto-foto di pinggir jalan sementara tujuan akhir kita makin jauh nggak terkejar.



Akhir kata, yuk kita lebih bijak memaknai kesehatan mental. Jangan sampai kita jadi generasi yang paling paham istilah psikologi, tapi paling nggak tahu cara berdamai dengan diri sendiri di kamar yang sepi tanpa gangguan sinyal internet. Healing yang paling mewah itu bukan yang paling mahal harganya, tapi yang paling jujur prosesnya.