Jumat, 6 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Sehari Tanpa Gadget: Apa yang Berubah?

Redaksi - Thursday, 05 February 2026 | 08:00 AM

Background
Sehari Tanpa Gadget: Apa yang Berubah?
Sehari Tanpa Gadget: Apa yang Berubah? ( Istimewa/)

Digital Detox: Saat Keluarga Paling Sedang Mencoba Menyelamatkan Waktu Tersisa

Jalanan Jakarta, lampu neon, suara honk mobil yang tak pernah berhenti. Di tengah keramaian ini, saya menemukan seorang ibu muda, Bunga, yang sedang duduk di tepi taman dengan sebuah buku terbuka di tangannya. Apa yang dia baca? "The Power of Now". Tapi yang paling menarik, dia mematikan ponsel, tablet, dan laptop sejenak. Ia menatap langit hijau, seakan sedang berkomunikasi dengan alam. Ini dia, digital detox, bukan sekadar tren, tapi sebuah upaya keras untuk menyeimbangkan hidup di era kecepatan tinggi ini.

Berikut ini kisah nyata yang membuktikan kalau "detox" digital bukan sekadar jargon. Semua orang pernah merasakannya: rasa lelah, rasa kehilangan, atau "salah satu hal yang paling menyakitkan: kehilangan kesabaran". Seperti yang dialami Bunga, yang berusaha menenangkan pikiran dengan menurunkan ketergantungan pada gadget. Dalam pandangan Bunga, detoks berarti "menciptakan ruang kosong di antara pikiran dan jari-jari yang tak henti-hentinya memetik ponsel."

Kenapa Digital Detox Itu Penting?

1. Menurunkan Stress – Terlalu banyak notifikasi membuat otak berputar seakan sedang main putaran. Studi menunjukkan bahwa pikiran yang terus menerima rangsangan digital dapat mengakibatkan stres dan kecemasan. Detoks membantu mengurangi beban ini.

2. Memperbaiki Hubungan Sosial – Kucing dan anjing di rumah, teman lama yang hanya bisa dihubungi lewat chat, semua menjadi lebih bermakna ketika tidak ada gangguan layar. Menjalin percakapan secara tatap muka membawa warna baru dalam kehidupan.

3. Meningkatkan Produktivitas – Waktu yang biasanya terbuang untuk scroll media sosial bisa dialokasikan untuk hobi atau pekerjaan kreatif. Hasilnya? Lebih fokus dan hasil yang lebih baik.

Tips Digital Detox Untuk Kamu yang Sedang Memikirkan Mencobakannya

  • Tentukan "Zona Hati" – Tempat di mana kamu tidak diizinkan membawa gadget. Misalnya, kamar tidur atau ruang tamu. Ini menjadi pelindung mentalmu.
  • Gunakan Fitur "Do Not Disturb" – Matikan notifikasi penting selama periode detox. Dengan begitu, kamu tetap dapat menerima pesan penting tanpa gangguan.
  • Waktunya Buka Bulu – Alih-alih scroll, bacalah buku, atau mendengarkan musik akustik. Rasakan sensasi berbeda dengan dunia digital.
  • Berbagi Rencana – Beritahu keluarga atau teman tentang rencanamu. Mereka bisa memantau dan mendukung, sekaligus mengingatkan kalau kamu terlalu sering memeriksa ponsel.
  • Catat Perasaan – Tulis jurnal atau catatan singkat setiap kali kamu mengalami ketegangan atau kelegaan. Ini membantu mengukur dampak detox.

Studi Kasus: Detoks 24 Jam di Tengah Kota

Bayangkan Bunga memutuskan untuk melakukan detoks 24 jam selama akhir pekan di tengah kota. Ia menaruh ponsel di tasnya, menyiapkan sepatu lari, dan mengunduh peta offline. Pada hari pertama, ia merasa kebingungan. "Saya tidak tahu kapan harus mematikan ponsel," katanya. Namun, saat malam tiba, ia menemukan ketenangan yang lama hilang. "Saya dapat mendengar suara ayam di luar jendela, bukan hanya notifikasi ding-ding," ia menambahkan.

Hari kedua, Bunga memulai rutinitas pagi dengan meditasi. Tanpa gangguan, ia merasa lebih kuat. Ia memutuskan untuk membuat "sesi detox" rutin setiap minggu. "Setiap minggu, saya akan melakukan detox minimal satu hari," jelas Bunga, sambil tersenyum. "Saya tahu, sulit untuk meninggalkan layar, tapi saya sudah melihat perubahan positif di mata saya."

Pengaruh Media Sosial dan Panggilan Darurat Digital

Media sosial tidak lepas dari kehidupan kita. Namun, seringkali kita lupa bahwa "likes" dan "followers" bukanlah pengukur kebahagiaan. Bunga, misalnya, pernah merasa kecewa saat tidak mendapatkan cukup "likes." Dengan digital detox, ia belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak di angka statistik.

Di sisi lain, teknologi juga membawa keuntungan besar. Chat, telepon, dan email masih sangat berguna untuk pekerjaan atau kontak penting. Jadi, digital detox bukan berarti menolak semua teknologi, melainkan menyeimbangkan penggunaan agar tidak menjadi "panggilan darurat" mental.

Kesimpulan: Lebih Seimbang, Lebih Bahagia

Digital detox bukan sekadar sekian sekian, melainkan cara hidup yang membantu kita menyeimbangkan antara dunia digital dan dunia nyata. Seperti yang dialami Bunga, menurunkan ketergantungan pada gadget membuka peluang baru: menulis, menari, membaca, bahkan sekadar duduk diam dan menatap langit. Saat teknologi semakin berkembang, tak ada salahnya menciptakan ruang bagi diri sendiri. Jadikan detoks bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai pelatihan mental untuk menghadapi realitas yang semakin kompleks.

Siapa bilang kita tidak bisa menyeimbangkan hidup modern dengan sedikit kebebasan? Mari mulai hari ini: matikan ponsel, buka buku, dan nikmati sensasi kehidupan yang belum pernah Anda rasakan. Digital detox, ya, bukan sekadar kata-kata; ini adalah panggilan untuk meresapi setiap momen.