PAD Pelabuhan Tanglok Sampang Baru 53,7 Persen, Target Rp206 Juta Terancam Tak Tercapai
Ach. Mukrim - Friday, 21 August 2026 | 06:49 AM


salsabilafm.com - Target pendapatan asli daerah (PAD) dari pengelolaan Pelabuhan Tanglok, Kabupaten Sampang, berpotensi tidak tercapai. Sebab, hingga memasuki pertengahan semester kedua, realisasi pendapatan masih berada di bawah 60 persen.
Kepala Bidang (Kabid) Perhubungan Laut Dinas Perhubungan (Dishub) Sampang, Iwan Heri Susanto, mengakui realisasi PAD dari pengelolaan Pelabuhan Tanglok masih minim.
"PAD yang terkumpul baru Rp101 juta atau sekitar 53,7 persen," katanya, Jum'at (21/8/2026).
Dia mengutarakan, tahun ini Dishub Sampang dibebani target pendapatan sebesar Rp188 juta dari pengelolaan Pelabuhan Tanglok. Selain itu, terdapat target pendapatan dari sewa speedboat sebesar Rp18 juta. Namun, realisasi sewa speedboat hingga saat ini baru mencapai Rp10 juta.
"Jika ditotal, maka target kami Rp206 juta," ujarnya, Jum'at (21/8/2026).
Menurutnya, target tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, target pendapatan dari pengelolaan Pelabuhan Tanglok hanya sebesar Rp160 juta.
Iwan menambahkan, peningkatan target PAD tersebut tidak lepas dari kebijakan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pendapatan di tengah pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD).
"Karena dana transfer ke daerah (TKD) dipangkas, kami didorong untuk meningkatkan PAD," imbuhnya.
Dia mengaku, meski ditargetkan lebih tinggi, pihaknya kesulitan mendongkrak pendapatan dari Pelabuhan Tanglok. Kata Iwan, potensi pendapatan yang dikelola cenderung stagnan. Salah satu penyebabnya adalah semakin sepinya aktivitas penyewaan lahan di kawasan pelabuhan.
Menurut dia, kondisi tersebut turut dipengaruhi perubahan aktivitas ekonomi setelah adanya Jembatan Suramadu. Penyewa lahan pasir di Pelabuhan Tanglok disebut semakin berkurang.
"Masyarakat (penyewa lahan) ada yang membayar dengan sistem dicicil. Apalagi semenjak ada Suramadu, penyewa lahan pasir mulai berkurang," ujarnya.
Dia mengungkapkan, selain sewa lahan, pendapatan dari jasa tambat kapal juga belum optimal. Aktivitas kapal sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketinggian air.
Iwan menyebut cuaca yang kurang bersahabat membuat sejumlah pemilik kapal memilih tidak berhenti di lokasi tambat yang telah disiapkan pemerintah.
"Di kala ketinggian air di bawah satu meter, maka kapal tidak bisa masuk dan siang baru masuk. Sedangkan kami dibenturkan jam kerja," pungkasnya. (Mukrim)
Next News

Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 83 Orang
11 hours ago

BMKG Catat 4.256 Gempa Susulan di NTT, Terbesar Magnitudo 6,2
11 hours ago

Persiapan Muktamar ke-35 NU Jombang Masuk Tahap Akhir, Panitia: Undangan Sudah Kita Kirim
11 hours ago

Soal Rencana Pabrik China Direlokasi ke Madura, Emil: Saya Cek ke Dinas Penanaman Modal
11 hours ago

Puluhan Motor di Kangean Sumenep Hangus Terbakar Saat Diparkir
11 hours ago

Disnaker Sampang Ingatkan Bahaya Kerja Ilegal di Luar Negeri
11 hours ago

Sampang Berpotensi Jadi Daerah Penghasil Migas, Ini Sebabnya
7 hours ago

Kandang dan Dapur Warga Ketapang Sampang Terbakar, 2 Sapi Terpanggang
a day ago

Diduga Sopir Mikrosleep, Mobil Ertiga Tabrak Tiang di Jrengik Sampang
2 days ago

Bocah 4 Tahun Ditemukan Meninggal di Kolam Penampungan Air Tembakau di Sampang
2 days ago





