Senin, 23 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Mengapa Sakit Gigi Lebih Menyiksa daripada Patah Hati? Ini Faktanya

Redaksi - Sunday, 22 March 2026 | 11:57 PM

Background
Mengapa Sakit Gigi Lebih Menyiksa daripada Patah Hati? Ini Faktanya
Ilustrasi gigi (Istimewa /)

Kenapa Kita Lebih Memilih Patah Hati daripada Sakit Gigi? Sebuah Renungan Buat Kamu yang Mager Sikat Gigi

Pernah dengar lagunya Meggy Z yang bilang kalau lebih baik sakit gigi daripada sakit hati? Jujur saja, Om Meggy mungkin sedang dalam mode puitis tingkat tinggi saat menulis lirik itu. Sebab, bagi siapa pun yang pernah merasakan denyut-denyut "dangdut" di area gusi sampai menjalar ke ubun-ubun, kutipan itu terasa seperti penyesatan publik yang nyata. Sakit hati paling-paling bikin galau dan dengerin lagu sedih di Spotify, tapi sakit gigi? Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, bahkan suara langkah kaki orang lewat saja rasanya pengin kita marahin.

Kesehatan gigi di Indonesia ini sering kali diperlakukan seperti mantan yang sudah move on: sering dilupakan, baru diingat lagi kalau sudah merasa kesepian—alias pas sudah lubang besar dan sakitnya minta ampun. Padahal, mulut kita itu adalah gerbang utama dari segala kenikmatan dunia, mulai dari kopi susu kekinian sampai seblak level pedas mampus. Tapi, kenapa ya kita malas banget merawat aset berharga ini?

Teror Suara Bor dan Trauma Masa Kecil

Mari kita jujur, alasan nomor satu orang takut ke dokter gigi bukan karena biaya (meskipun itu alasan nomor dua yang sangat valid), melainkan karena suara bornya. Suara "ngiiiing" yang melengking itu punya kekuatan magis yang bisa bikin nyali orang dewasa ciut seketika. Rasanya seperti sedang berada di film horor, di mana kita adalah korbannya dan sang dokter adalah sang eksekutor yang memegang alat pencabut nyawa—eh, pencabut karies maksudnya.

Belum lagi bau khas klinik gigi yang aromanya sangat "medis" itu. Bagi banyak orang, bau itu adalah pemicu trauma masa kecil saat pertama kali giginya dicabut paksa karena terlalu banyak makan permen. Padahal, kalau kita rajin kontrol tiap enam bulan sekali, suara bor itu mungkin nggak perlu kita dengar sesering itu. Kita sering kali datang ke dokter gigi saat kondisi sudah "darurat militer". Pas sudah bengkak, pas sudah nggak bisa ngunyah, baru deh sujud syukur nyari jadwal dokter. Itu mah namanya sudah telat, kawan.

Skincare Glowing, Tapi Gigi "Kuning Langsat"

Ada fenomena menarik di kalangan anak muda zaman sekarang. Kita rela menghabiskan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk paket skincare demi wajah yang glowing tanpa pori-pori. Kita riset kandungan retinol, niacinamide, sampai sunscreen yang nggak bikin whitecast. Tapi giliran urusan gigi? Sikat gigi saja kadang cuma formalitas sebelum tidur, itu pun kalau nggak ketiduran habis scrolling TikTok.



Padahal, apa gunanya wajah glowing kalau pas senyum ternyata ada "investasi" sisa soto kemarin siang yang nyangkut di sela-sela gigi? Atau lebih parahnya lagi, nafas yang aromanya menyerupai naga yang baru bangun tidur. Kesehatan gigi itu bagian dari estetika juga, lho. Nggak perlu putih porselen ala artis Hollywood yang pakai veneer seharga mobil, yang penting bersih dan nggak ada karang gigi yang menumpuk setebal sedimen sungai Ciliwung.

Mitos Scaling yang Bikin Gigit Jari

Ngomongin soal karang gigi, masih banyak banget yang percaya kalau pembersihan karang gigi atau scaling itu bisa bikin gigi tipis atau goyang. Ini adalah hoaks kesehatan yang lebih bahaya daripada broadcast WhatsApp keluarga. Scaling itu tujuannya buat buang kotoran yang sudah mengeras dan nggak bisa hilang cuma pakai sikat gigi biasa. Kalau karang gigi nggak dibuang, dia bakal bikin gusi turun, dan itulah yang sebenarnya bikin gigi kamu goyang dan copot sebelum waktunya.

Bayangkan karang gigi itu seperti parasit yang perlahan menggerogoti fondasi rumah kamu. Kalau dibiarin, ya rumahnya roboh. Jadi, stop dengerin kata orang yang bilang scaling itu nggak perlu. Investasi 300 sampai 500 ribu buat scaling setiap enam bulan itu jauh lebih murah daripada harus bayar jutaan buat implan gigi karena gigi asli kamu sudah ogah nempel di gusi.

Ritual Sikat Gigi yang Sering Salah Kaprah

Coba ingat-ingat, gimana cara kamu sikat gigi? Kebanyakan dari kita menyikat gigi seolah-olah lagi menggosok noda membandel di lantai kamar mandi—tenaga penuh dan gerakannya horizontal alias kiri-kanan. Padahal, sikat gigi itu butuh perasaan. Gerakannya harus memutar atau dari arah gusi ke gigi dengan lembut. Pakai tenaga berlebih malah bisa bikin lapisan email gigi aus.

Terus, soal waktu. Sikat gigi itu paling penting sebelum tidur. Kenapa? Karena pas kita tidur, produksi air liur (saliva) berkurang. Padahal air liur itu fungsinya buat "mandiin" gigi secara alami dari bakteri. Kalau kamu tidur dalam kondisi mulut penuh sisa martabak manis, itu bakteri bakal pesta pora semalaman di mulut kamu. Hasilnya? Bangun-bangun mulut terasa asam dan dalam jangka panjang, lubang-lubang kecil mulai bermunculan tanpa permisi.



Penutup: Gigi Sehat, Dompet Selamat

Pada akhirnya, urusan kesehatan gigi itu soal kedewasaan. Kita sudah bukan anak SD lagi yang harus diiming-imingi hadiah supaya mau sikat gigi atau ke dokter. Sadar diri saja kalau biaya ke dokter gigi itu nggak ada yang murah kalau urusannya sudah sampai saraf gigi (root canal treatment) atau pasang crown. Kalau kamu merasa biaya dokter gigi itu mahal, coba deh rasain mahalnya penderitaan saat gigi kamu berdenyut di tengah malam pas semua apotek sudah tutup.

Jadi, mulailah berdamai dengan sikat gigi dan benang gigi (dental floss). Jangan cuma nunggu sakit baru bertindak. Perlakukan gigi kamu seperti kamu memperlakukan gadget mahalmu—dirawat, dibersihkan, dan jangan dipakai buat buka tutup botol (ini penting!). Gigi yang sehat bukan cuma soal bisa makan enak, tapi soal kualitas hidup sampai tua nanti. Masak iya masa tua kita cuma bisa makan bubur gara-gara gigi sudah pada "pensiun" dini? Nggak mau, kan?

Yuk, mulai sekarang kurangi overthinking soal mantan, mending fokus overthinking gimana caranya biar gigi nggak bolong. Karena jujur saja, patah hati itu obatnya cuma waktu, tapi kalau sakit gigi, obatnya cuma dokter gigi dan dompet yang tebal. Pilih mana?