Kue Keranjang di Indonesia: Sejarah Penggunaan, Resep, dan Perbandingan Teknis
Tim Editor - Thursday, 22 January 2026 | 03:52 PM


salsabilafm.com - Kue keranjang, atau yang secara global dikenal dengan istilah Nian Gao, merupakan elemen yang tidak terpisahkan dari perayaan tahun baru masyarakat Tionghoa. Di Indonesia, kue ini memiliki posisi unik karena proses produksinya sering kali melibatkan industri rumahan yang telah bertahan lintas generasi. Artikel ini akan membedah secara teknis mengenai sejarah, cara pembuatan, hingga perbandingannya dengan produk kuliner lokal yang memiliki karakteristik serupa.
Apa Itu Kue Keranjang?
Secara fisik, kue keranjang adalah kue berbahan dasar tepung ketan dan gula yang melalui proses karamelisasi dalam waktu lama. Nama "kue keranjang" di Indonesia diambil dari wadah cetakannya yang terbuat dari keranjang bambu kecil. Dalam bahasa Mandarin, Nian Gao berasal dari kata Nian (tahun) dan Gao (tinggi), yang secara harfiah merujuk pada harapan akan kondisi kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Kue ini memiliki tekstur kenyal dan rasa manis yang dominan. Karakteristik utamanya adalah daya simpan yang sangat lama. Karena kandungan gulanya yang tinggi dan proses pengukusan yang durasinya bisa mencapai belasan jam, kue ini secara alami terawetkan dan dapat dikonsumsi hingga berbulan-bulan setelah diproduksi.
Sejarah dan Asal-Usul
Catatan sejarah mengenai Nian Gao dapat ditarik hingga ribuan tahun lalu di daratan Tiongkok. Awalnya, kue ini digunakan sebagai persembahan untuk leluhur dan dewa-dewi dalam ritual kepercayaan masyarakat agraris.
Ada dua perspektif sejarah yang sering dibahas:
- Perspektif Logistik Perang: Salah satu cerita rakyat yang cukup logis menyebutkan bahwa kue ini bermula dari strategi pertahanan di kota Suzhou sekitar 2.500 tahun lalu. Jenderal Wu Zixu memerintahkan pembangunan benteng dengan fondasi yang terbuat dari bata tepung ketan padat. Hal ini dilakukan agar saat kota dikepung dan persediaan pangan habis, warga dapat menggali fondasi tersebut untuk dimasak dan dikonsumsi.
- Perspektif Agraris: Sebagai masyarakat yang sangat bergantung pada musim, warga Tiongkok kuno membuat kue ini sebagai bentuk syukur setelah melewati musim dingin yang sulit dan menyambut musim semi (tahun baru).
Di Indonesia, kehadiran kue keranjang dibawa oleh para imigran dari Tiongkok yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal, menghasilkan varian yang sering kita temukan di pasar-pasar tradisional saat ini.
Filosofi yang Bersifat Praktis
Meskipun sering dikaitkan dengan keberuntungan, filosofi kue keranjang sebenarnya memiliki makna sosiologis yang sangat praktis:
- Bentuk Bulat: Melambangkan kebulatan tekad dan kesatuan keluarga. Di masa lalu, pertemuan keluarga adalah momen penting untuk menyelesaikan perselisihan, dan kue ini hadir sebagai simbol rekonsiliasi.
- Tekstur Lengket: Mewakili hubungan antarmanusia yang erat. Secara sosiologis, ini adalah harapan agar keluarga tetap solid dalam menghadapi tantangan ekonomi atau sosial.
- Rasa Manis: Melambangkan kegembiraan dan sikap optimis dalam menjalani keseharian.
Manfaat Kue Keranjang dari Sisi Nutrisi dan Sosial
Jika dilihat secara objektif, kue keranjang memiliki beberapa manfaat baik secara fisik maupun fungsional:
- Sumber Energi Cepat: Karena kandungan karbohidrat kompleks dari tepung ketan dan glukosa dari gula, kue ini memberikan pasokan energi yang instan bagi tubuh.
- Keamanan Pangan (Food Security): Kemampuannya bertahan lama tanpa bahan pengawet kimia menjadikan kue keranjang sebagai stok pangan cadangan yang efisien di tingkat rumah tangga.
- Penggerak Ekonomi UMKM: Produksi kue keranjang di kota-kota seperti Tangerang, Semarang, dan Singkawang menyerap banyak tenaga kerja musiman. Hal ini membantu stabilitas ekonomi warga lokal menjelang hari besar.
Resep dan Metode Pembuatan Tradisional
Membuat kue keranjang membutuhkan kesabaran lebih daripada keahlian teknis yang rumit. Berikut adalah metode standar yang digunakan oleh banyak pengrajin rumahan di Indonesia.
Bahan-bahan:
- 1 kg Tepung ketan berkualitas tinggi.
- 1 kg Gula pasir (beberapa pengrajin mencampur dengan gula merah untuk warna yang lebih gelap).
- 750 ml Air bersih.
- Daun pisang untuk alas cetakan (memberikan aroma khas).
Tahapan Pembuatan:
- Pembuatan Sirup: Rebus air dan gula hingga larut sepenuhnya. Biarkan hingga suhu ruang.
- Pencampuran: Masukkan tepung ketan sedikit demi sedikit ke dalam air gula sambil diaduk rata agar tidak ada gumpalan. Saring adonan untuk memastikan tekstur yang halus.
- Persiapan Cetakan: Alasi keranjang bambu atau wadah tahan panas dengan daun pisang yang sudah dilayukan di atas api.
- Proses Pengukusan: Tuang adonan ke dalam cetakan. Kukus dengan api stabil selama 10 hingga 12 jam. Proses yang lama ini penting agar gula mengalami karamelisasi sempurna, yang memberikan warna cokelat gelap dan bertindak sebagai pengawet.
- Pendinginan: Setelah matang, biarkan kue di suhu ruang selama 2-3 hari hingga teksturnya mengeras secara alami sebelum dikemas.
Perbandingan Karakteristik: Kue Keranjang, Dodol, dan Jenang
Di Indonesia, kue keranjang sering dibandingkan dengan kudapan lokal seperti Dodol dari Jawa Barat atau Jenang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun sekilas tampak serupa, terdapat beberapa perbedaan mendasar yang bisa diperhatikan:
- Penggunaan Bahan Lemak: Perbedaan paling mencolok terletak pada komposisinya. Kue keranjang murni menggunakan tepung ketan dan gula tanpa campuran lemak. Sementara itu, dodol dan jenang sangat bergantung pada penggunaan santan kental atau minyak kelapa untuk mendapatkan tekstur yang diinginkan.
- Metode Pengolahan: Proses pembuatan kue keranjang dilakukan dengan cara dikukus (steamed) dalam wadah selama belasan jam. Sebaliknya, dodol dan jenang dibuat dengan cara diaduk terus-menerus di atas kawah atau wajan besar dengan api langsung hingga kalis.
- Tekstur dan Konsistensi: Hasil akhir kue keranjang cenderung lebih padat, sangat kenyal, dan akan mengeras seperti batu setelah dingin atau disimpan lama. Dodol dan jenang memiliki tekstur yang lebih elastis, berminyak, dan tetap relatif lembut meski sudah dingin karena pengaruh kandungan lemak santan di dalamnya.
- Daya Tahan Pangan: Karena tidak mengandung santan, kue keranjang memiliki daya simpan yang jauh lebih lama secara alami, bisa berbulan-bulan tanpa basi. Dodol dan jenang memiliki risiko basi yang lebih tinggi jika tidak menggunakan pengawet tambahan atau teknik pengemasan khusus, karena kandungan santan di dalamnya mudah mengalami oksidasi.
Ketahanan Tradisi melalui Waktu dan Hubungan Antarmanusia
Kue keranjang adalah bukti bagaimana teknik pengolahan pangan sederhana dapat bertahan ribuan tahun dan menjadi identitas budaya yang kuat. Nilainya tidak hanya terletak pada rasa manisnya saja, tetapi juga pada ketahanan proses produksinya dan kemampuannya menyatukan keluarga melalui tradisi berbagi. Memahami kue keranjang berarti menghargai waktu, kesabaran, serta hubungan antarmanusia yang diwariskan secara konsisten melalui kuliner.
Next News

DPD KNPI Sampang Sukses Gelar Ramadhan Fest 2025
10 months ago

Digemari Masyarakat, Ini Asal Usul Nasi Kobel
a year ago





