Jumat, 30 Oktober 2026
Salsabila FM
Life Style

Energi Minyak Bumi Menjaga Keberlangsungan Hidup Warga dan Irigasi Lahan Pertanian di Pelosok Desa

Moh Isrok - Friday, 30 October 2026 | 10:28 AM

Background
Energi Minyak Bumi Menjaga Keberlangsungan Hidup Warga dan Irigasi Lahan Pertanian di Pelosok Desa
Suara mesin diesel Engine Pump Set ( Moh Isro' Salsabilafm/)

Oleh: Moh Isro' Salsabilafm

 

Suara mesin diesel Engine Pump Set yang tertanam di dalam bangunan berukuran 8x6 terdengar cukup nyaring. Hampir sepanjang waktu, suara itu memekakkan telinga warga Desa Karang Nangkah, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Kepulan asap hitam akibat pembakaran mesin berbahan bakar minyak (BBM) jenis solar terus mengepul menjulang ke atas awan. Tak hanya itu, bunyi air yang keluar dari ujung pipa berukuran 8 inch memberikan hawa sejuk ke penjuru area pengeboran, meskipun pada saat itu terik matahari menyengat hingga ke ubun-ubun.

 



Warga setempat menyebutnya mesin "Boran" (Madura, red), atau rumah pompa irigasi air tanah (PAT) khusus pertanian. Bangunan yang berdiri kokoh di dataran tinggi lahan kawasan pertanian desa setempat itu dibangun oleh pemerintah pusat melalui anggaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas atau unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum.

 

Pemerintah membangun pengeboran itu untuk meningkatkan produksivitas lahan pertanian, baik pada musim kemarau maupun musim penghujan ketika intensitas curah hujan tidak normal. Keberadaan pengeboran milik BBWS yang saat ini dikelola oleh pemerintah desa (Pemdes) itu dinilai sangat bermanfaat bagi para petani maupun masyarakat biasa.

 

Air Pengeboran untuk Kebutuhan Warga bukan Lahan Pertanian



Pada musim kemarau panjang tahun ini, pemandangan berbeda terlihat di sekitar area pengeboran. Sejumlah armada pengangkut air bermunculan. Kendaraan-kendaraan tersebut bukan menunggu antrean pasokan bahan bakar minyak (bbm), tetapi menunggu giliran masuk ke area pengeboran untuk mengisi air ke dalam tangki.

Pengalihan manfaat dari pengairan lahan pertanian ke pemenuhan kebutuhan air bagi warga terdampak kekeringan saat musim kemarau panjang selalu terjadi setiap tahun. Warga yang terdampak kekeringan terpaksa harus memanfaatkan air pengeboran lahan pertanian tersebut untuk kebutuhan air bersih sehari-hari.

 

Di lokasi pengeboran, sejumlah truk tangki silih berganti keluar – masuk. Armada yang tangkinya sudah terisi penuh kemudian keluar dan melakukan pendistribusian air bersih ke rumah-rumah warga. Tak hanya di wilayah Desa Karang Nagkah, Kecamatan Blega, Bangkalan, sejumlah truk tangki tersebut mendistribusikan air bersih ke beberapa wilayah.



Di antaranya, Kecamatan Konang, Kabupaten Bangkalan, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, dan Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang. Kecamatan Tambelangan merupakan daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bangkalan sisi timur. Kecamatan Tambelangan merupakan salah satu yang sangat terdampak kekeringan..

 

Sejumlah sopir truk tangki terlihat di lokasi pengeboran yang berada di desa Karang Nangkah, Blega. Mereka duduk santai sambal menunggu antrean pengisian air bersih. Sementara, di dekat mesin pengeboran terlihat seorang pria memegang jeriken ukuran 5 liter. Dia adalah Ainur Rofiq, 30 tahun, pengelola dan penanggung jawab mesin pengeboran tersebut.

Rofiq, sapaan akrabnya, menjelaskan tentang mesin pengeboran milik BBWS Brantas yang dikelolanya.dia menceritakan manfaat mesin pengeboran bagi lahan pertanian maupun warga yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau Panjang.

 



"Keberadaan pengeboran air di desa kami ini untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan para petani saat bercocok tanam, sehingga para petani tidak perlu khawatir gagal panen akibat kekurangan air meskipun musim kemarau," jelas Rofiq, Kamis (29/10/20260).

 

Rofiq mengatakan, pengeboran tersebut merupakan bagian dari program strategis pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden (Inpres). Selain itu juga dukungan Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

 

"Dan kebetulan di desa kami memang ada sumber mata air besar yang harus dimanfaatkan. Makanya pemerintah melakukan pengeboran di sini," ucapnya.



 

Menurutnya, keberadaan pengeboran tersebut sangat membantu para petani di setiap kondisi, terutama pada saat musim kemarau panjang datang. Para petani masih tetap bisa memanfaatkan lahan tadah hujan untuk bercocok tanam dengan berbagai macam tanaman, termasuk palawija.

 

Selain musim kemarau, lanjut Rofiq, pengeboran air tersebut juga kerap dimanfaatkan oleh para petani pada saat musim penghujan. Petani yang kekurangan pasokan air akibat curah hujan tidak normal, bisa memanfaatkan air pengeboran untuk dialirkan ke lahan-lahan yang berada di kawasan dataran tinggi.

 



"Masyarakat yang memiliki lahan atau ladang yang berada didataran tinggi kerap memanfaatkan air pengeboran utuk mengairi tanaman padinya saat musim penghujan. Walaupun di desa kami ini kebanyakan masuk katagori lahan basah, namun tidak sedikit pula lahan yang berada di dataran tinggi. Jadi, ketika curah hujan pada musim penghujan tidak normal, masyarakat bisa mengairi tanamannya melalui saluran irigasi yang terhubung ke mesin pengeboran. Hal itu untuk menjaga tanamannya tidak gagal panen," tutur Rofiq.

 

Rofiq mengaku keberadaan sumber air dari pengeboran milik BBWS Brantas di Desa Karang Nangkah, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan itu sangat mendukung para petani, sehingga bisa mendorong produktivitas hasil pertanian dan meningkatkan perekonomian warga desa.

 

"Tergantung kemauan para petani mau bercocok tanam apa saja, karena ketersediaan air di daerah kami sangat tercukupi. Jadi, tidak perlu was-was atau kebingungan untuk bercocok tanam meski saat musim kemarau," ujarnya.



 

Pada musim kemarau panjang seperti saat ini, masyarakat desa Karang Nangkah lebih memilih menanam tanaman yang cepat panen, seperti tanaman jagung. Selain umur masa tanamnya lebih pendek jika dibandingkan dengan tanaman lain, tanaman jagung sangat dibutuhkan oleh para peternak untuk dijadikan pakan hewan miliknya. Dimana, saat musim kemarau panjang para peternak kesulitan mencari pakan ternak.

 

"Jagung menjadi pilihan utama para petani di musim kemarau, karena petani tidak harus menunggu buah jagungnya besar. Petani lebih memilih menjual pohon jagungnya untuk para peternak sapi. Karena keuntungannya jauh lebih menjanjikan dibanding menjual buah jagungnya," jelas Rofiq.

 



Pengelola Mesin Pengeboran Kesulitan BBM Solar

 

Sebagai pengelola mesin pengeboran, Rofiq mengaku bahwa manfaat sumur bor yang dia kelola sangat dirasakan oleh masyarakat yang terdampak kekeringan. Tak hanya warga di sekitar pengeboran, namun sejumlah wilayah timur Kabupaten Bangkalan dan sebagian wilayah Kabupaten Sampang juga ikut memanfaatkan keberadaan mesin pengeboran tersebut. Terbukti dengan lalu-lalang armada yang mengangkut air bersih untuk disuplai ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan.

"Kalau musim kemarau, tidak sedikit masyarakat yang berada di daerah rawan kekeringan memanfaatkan ketersediaan air bersih dari pengeboran ini melalui kendaraan tangki," terangnya.

 



Permintaan air bersih pada musim kemarau ini, kata Rofiq, naik drastis jika dibandingkan dengan musim penghujan. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan para petani, permintaan pasokan air bersih datang dari masyarakat yang mterdampak kekeringan. Hal itu terlihat dari banyaknya permintaan air bersih oleh pemilik kendaraan tangki.

 

"Permintaan air saat kemarau panjang seperti tahun ini naiknya drastis. Sebab, ketersediaan air bukan hanya untuk lahan pertanian, namun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menjadi korban bencana alam kekeringan," ucapnya.

 

Meski demikian, Rofiq mengaku bahwa tingginya permintaan air bersih membuat kebutuhan BBM jenis solar juga ikut naik. Sebab, mesin pengeboran menggunakan bahan bakar jenis solar.



"Solar merupakan bahan utama yang dibutuhkan sebagai penggerak mesin Diesel untuk mengalirkan air dari sumber dalam tanah atau sumur bor menuju reservoir (bak penampungan utama), sebelum dialirkan ke tangki truk," katanya.

 

Keterbatasan kuota subsidi BBM jenis solar yang dimilikinya sangat tidak memungkinkan untuk bisa menjamin ketersediaan air bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebab jika kouta yang dimilikinya sudah habis, maka operasional mesin pengeboran akan berhenti, dan memicu krisis air bersih bagi warga terdampak kekeringan.

 

Rofiq menjelaskan, keterbatasan kuota bbm bersubsidi yang diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten Bangkalan untuk mesin pengeboran air hingga saat ini masih menjadi kendala utama. Akibatnya, dia sering kesulitan bbm untuk tetap bisa memenuhi permintaan air bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.



 

"Memang pada dasarnya adanya pengeboran ini untuk memenuhi kebutuhan air untuk lahan pertanian. Namun, ketika musim kemarau seperti sekarang ini kami juga kebingungan dengan tingginya permintaan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Sebab jika kami hanya mengandalkan kuota solar yang kami peroleh dari dinas terkait, bisa dipastikan tidak akan mencukupi untuk memenuhi permintaan masyarakat," jelas Rofiq.

 

Akibat keterbatasan kuota bbm bersubsidi, Rofiq sering tidak melayani permintaan air bersih yang dibutuhkan masyarakat. Sebab, prioritas utama adanya pengeboran itu untuk irigasi lahan pertanian bukan untuk air konsumsi. Karena itu, jika dia memaksakan menggunakan bbm non subsidi, maka akan menambah beban biaya bagi masyarakat yang membutuhkan air bersih.

"Ya kami jelaskan ke para sopir truk tangki jika kuota bbm khusus pertanian yang dimiliki sudah menipis. Kalau kami menggunakan bbm non subsidi khawatir akan lebih memberatkan masyarakat," tutur Rofiq.



 

Meskipun demikian, Rofiq tetap melayani permintaan para sopir tangki untuk melakukan pengisian air dengan syarat ketersediaan bbm harus terpenuhi secara mandiri.

"Banyak juga mereka (sopir tangki) yang membawa bbm sendiri. Jadi, mereka sendiri yang usaha bbm, kami hanya bisa melayani ketika solar ada," jelasnya.

 

Fathol, 39 tahun, salah satu pemilik truk tangka juga mengaku terdampak dengan keterbatasan juota BBM bersubsidi jenis solar. Selain kesulitan utuk penyediaan bahan bakar kendaraannya, dia juga terbebani dengan harus menyediakan bbm untuk mesin pengeboran.



 

"Mau tidak mau kami harus berusaha mencari bahan bakar. Sebab, pekerjaan kami ini bukan hanya tentang bisnis atau finansial, tetapi ini lebih ke kebutuhan utama kehidupan masyarakat yang berada di kawasan kesulitan air bersih," kata dia.

 

Fathol mengaku, kelangkaan bbm di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sejak beberapa bulan terakhir mengakibatkan pengiriman air bersih ke wilayah terdampak mrnjadi terganggu. Sebab, jika sejumlah SPBU BBM jenis solar sudah kosong, maka dia tidak bisa memberikan pelayanan.

 



"Ya, mau gimana lagi kalau sudah kosong di SPBU. Terkadang untuk bisa meringankan beban masyarakat kami terpaksa harus mencari penjual solar eceran meski harganya jauh dari harga yang telah ditentukan oleh Pertamina," ucapnya.

 

Fathol mengaku, pembelian bahan bakar solar secara eceran memang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Namun hal itu terpaksa dilakukan demi membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih.

 

"Kami juga mengerti kalau yang kami lakukan ini tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun Pertamina. Namun, perlu diketahui bersama, ketersediaan air bersih saat ini sangat dibutuhkan oleh ribuan masyarakat Bangkalan yang berada di daerah pelosok. Jadi, kalau kami mengabaikan kebutuhan mereka, berarti membiarkan penderitaan saudara-saudari kami yang membutuhkan air bersih," tuturnya



 

Dia berharap ada kebijakan atau pengecualian dari regulasi yang telah ditetapkan dalam pembelian bbm bersubsidi jenis solar yang diperuntukkan untuk bahan bakar mesin pengeboran dan kendaraan tangki penyuplai air bersih.

 

"Harapan kami setidaknya pemerintah melek dengan kondisi itu. Kalau saja kuo ta BBM subsidi yang dibutuhkan oleh armada atau mesin pengeboran air ditambah, saya yakin masyarakat yang berada di daerah kekeringan sangat bersyukur, karena hal itu tidak akan menggangu pendistribusian air," terangnya.

 



Pertamina: Selama Masih Bersamaan Dengan Tujuan Utama Maka Tidak Masuk Katagori Disalahgunakan

 

Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, menegaskan bahwa keberadaan energi minyak bumi untuk mendukung program pemerintah melalui swasembada pangan nasional. Sebabnya, Pertamina Patra Niaga berkomitmen akan terus mendukung swasembada pangan nasional melalui penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terhadap kelompok tani untuk kebutuhan bahar bakar alat dan mesin pertanian (Alsintan).

 

"Insyaallah kami akan tetap upayakan memfasilitasi kebutuhan bbm yang dibutuhkan oleh para petani. Karena itu memang komitmen dari Pertamina," katanya, saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).



 

Ahad, sapaanya, berharap adanya kouta BBM bersubsidi dari Pertamina bisa memberikan dampak positif keberlangsungan para petani. Termasuk juga untuk menekan biaya pengeluaran petani sehingga produktivitas hasil pangan nasional meningkat.

 

"Para petani bisa memanfaatkan subsidi BBM dengan syarat dan ketentuan yang ada, seperti surat rekomendasi dari dinas pertanian setempat. Sebab, jika tidak ada surat kami tidak bisa melayani," kata Ahad.

 



Ahad juga tidak mempermasalahkan penggunaan bbm bersubsidi untuk mesin pengeboran milik pertanian yang juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak bencana kekeringan pada musim kemarau panjang saat ini, selama tujuan utama pengeboran air tersebut untuk lahan pertanian.

 

''Kalau tanggapan kami, tujuan utamanya dulu untuk apa penggunaannya?. Selama masih bersamaan dengan tujuan utama, maka tidak disalahgunakan," tegasnya.

 

Namun, Ahad berharap penggunaan bbm bersubsidi dapat digunakan sebagaimana mestinya, mengingat adanya aturan atau regulasi yang telah ditetapkan oleh negara.



 

"Jadi kami harap kondisi ini tidak dijadikan alat untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan, seperti penimbunan atau penjualan di atas harga yang telah ditetapkan, mengingat kondisi stok bbm secara nasional sudah mulai menipis," harapnya.

 

Status Darurat Kekeringan Diperpanjang

 



Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, menetapkan status darurat kekeringan hingga akhir November 2026. Sebelumnya, status darurat kekeringan di Kabupaten ujung barat Pulau Madura tersebut dijadwalkan berakhir pada 30 September 2026.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangkalan Arif Rahman Surya Atmaja mengaku keputusan untuk memperpanjang status darurat kekeringan mengacu pada update informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

 

"Informasi dari BMKG menyebutkan bahwa kemarau di sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Madura, masih akan berlangsung hingga November 2026, sehingga kekeringan di wilayah terdampak tetap akan berlangsung," katanya, Jumat (30/10/2026).



 

BPBD Bangkalan menyebutkan ada sekitar 44 Desa terdampak kekeringan pasca berlangsungnya kekeringan, dan ditambah lagi adanya El Nino. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang tercatat sebanyak 34 desa. Ke-44 desa tersebut tersebar di 10 kecamatan, yakni Blega, Arosbaya, Sepulu, Kokop, Tanah Merah, Konang, Galis, Geger, Kwanyar, dan Klampis.

 

BPBD Bangkalan sebelumnya telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 300.000 liter. Namun, seluruh bantuan tersebut kini telah disalurkan kepada warga terdampak kekeringan.

 



"Bantuan ini sudah kami salurkan. Oleh karena itu, kami mengajukan kembali bantuan ke Pemprov Jatim untuk membantu warga yang kesulitan air bersih," kata Arif.

 

Akibat ketiadaan anggaran bantuan air bersih yang dimiliki pemerintah Kabupaten Bangkalan, warga kini harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli air secara swadaya. Masyarakat yang awalnya hanya dihadapkan dengan persoalan kekeringan, kini bertambah lagi dengan persoalan ekonomi. Kini, untuk mendapatkan air bersih, warga harus menyiapkan biaya sendiri untuk membeli air bersih kepada pemilik truk tangki. Air bersih tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti minum dan mandi.