Senin, 23 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Bosan Ditanya Kapan Nyusul? Nikah Bukan Perlombaan Hidup

Redaksi - Monday, 23 March 2026 | 09:26 AM

Background
Bosan Ditanya Kapan Nyusul? Nikah Bukan Perlombaan Hidup
Menikah (Istimewa /)

Menikah: Antara Pencapaian Hidup atau Sekadar "Biar Nggak Ditanya Terus"

Pernah nggak sih kamu lagi enak-enaknya ngunyah rendang di kondangan temen, tiba-tiba ada tante jauh yang entah dari mana asalnya nanya, "Kamu kapan nyusul?" Pertanyaan itu rasanya kayak dapet jumpscare di film horor. Padahal, kita di sana cuma niat makan gratis dan foto bareng pengantin buat menuhin feeds Instagram. Tapi ya gitu, di Indonesia, menikah seringkali dianggap sebagai garis finis dari sebuah perlombaan kehidupan yang nggak pernah kita daftar sebelumnya.

Dulu, generasi orang tua kita mungkin merasa umur 22 atau 23 adalah waktu yang pas buat bangun rumah tangga. Sekarang? Umur 25 aja kita masih sering bingung milih antara beli kopi susu tiap pagi atau nabung buat dana darurat yang jumlahnya nggak seberapa itu. Pergeseran paradigma ini bikin obrolan soal "menikah" jadi topik yang makin berat sekaligus menarik buat dibahas. Bukan cuma soal cinta-cintaan yang berbunga, tapi udah merembet ke urusan mental, finansial, sampai negosiasi soal siapa yang bakal cuci piring setiap malam.

Ekspektasi vs Realita: Wedding atau Marriage?

Satu hal yang sering bikin orang salah fokus adalah perbedaan antara wedding dan marriage. Banyak orang yang mati-matian nyiapin pesta pernikahan (wedding) yang megah biar nggak kalah saing sama tetangga atau mantan. Mereka sibuk milih katering yang rendangnya nggak alot, cari vendor foto yang estetik, sampai hunting gedung yang parkirannya luas. Tapi sayangnya, persiapan buat kehidupan setelah pesta (marriage) justru sering terlupakan.

Menikah itu bukan cuma soal pakai baju adat yang beratnya 5 kilo atau dapet amplop yang isinya nggak sebanding sama biaya sewa gedung. Menikah itu soal gimana kamu bisa bangun tidur di samping orang yang sama selama 40 tahun ke depan, bahkan pas dia lagi bau naga atau pas lagi bete-betenya karena kerjaan. Jujurly, banyak dari kita yang belum siap sama realita bahwa setelah resepsi selesai, yang ada cuma cicilan rumah, tagihan listrik, dan drama milih menu makan malam yang nggak pernah ada ujungnya.

Ekonomi "Boncos" dan Generasi Sandwich

Nggak bisa dipungkiri, urusan dompet jadi alasan utama kenapa anak muda zaman sekarang banyak yang mutusin buat menunda pernikahan. Harga rumah di pinggiran Jakarta aja udah bikin geleng-geleng kepala, apalagi yang di tengah kota. Belum lagi fenomena sandwich generation, di mana banyak dari kita yang harus menanggung beban finansial orang tua sekaligus nabung buat masa depan sendiri. Mau nikah pakai modal apa? Pakai daun?



Kondisi ini bikin standar "mapan" jadi makin tinggi. Kalau dulu punya motor satu aja udah berani ngelamar anak orang, sekarang minimal harus punya penghasilan stabil dan asuransi kesehatan yang mumpuni. Bukannya materialistis, tapi realistis aja sih. Cinta memang nggak bisa dibayar pakai uang, tapi bayar kontrakan dan beli susu anak juga nggak bisa pakai gombalan maut, kan?

Mental Health dan Pencarian "The One"

Selain faktor ekonomi, kesadaran akan kesehatan mental juga makin naik daun. Generasi sekarang lebih aware soal trauma masa kecil atau red flags pada pasangan. Kita nggak mau lagi terjebak dalam pernikahan yang "yang penting sah" tapi isinya cuma berantem tiap hari. Menikah karena kesepian itu bahaya, sama kayak belanja ke supermarket pas lagi laper: semua yang kelihatan enak bakal dimasukin keranjang tanpa mikir panjang.

Banyak yang akhirnya memilih buat single lebih lama karena pengen bener-bener kenal diri sendiri dulu. Kita nggak mau bawa "sampah" emosional kita ke orang lain. Akhirnya, proses mencari pasangan pun jadi lebih njelimet. Main aplikasi kencan atau dating apps malah seringnya bikin kena mental karena isinya kalau nggak tukang ghosting, ya orang yang cuma pengen nambah followers doang. Nyari yang sefrekuensi itu susahnya minta ampun, apalagi nyari yang mau diajak susah bareng tapi tetep waras.

Menikah Itu Pilihan, Bukan Balapan

Pada akhirnya, kita harus sadar kalau menikah itu adalah pilihan hidup, bukan prestasi kayak menang lomba lari 17 Agustusan. Nggak ada hadiahnya kalau kamu nikah duluan, dan nggak ada hukumannya kalau kamu mutusin buat nikah telat atau bahkan nggak nikah sama sekali. Setiap orang punya garis waktu atau timeline yang beda-beda. Ada yang siap di umur 24, ada yang baru ketemu jodohnya di umur 35, dan semuanya valid-valid aja.

Jangan sampai kita menikah cuma karena FOMO (Fear of Missing Out) ngelihat temen-temen seangkatan udah pada posting foto bayi di grup WhatsApp. Pernikahan itu komitmen jangka panjang yang butuh kesiapan lahir batin yang ekstra. Lebih baik dibilang telat nikah daripada cepet nikah tapi isinya cuma drama yang bikin batin tersiksa.



Jadi, buat kamu yang masih ditanya "Kapan nikah?", jawab aja dengan santai: "Doain aja ya, lagi nunggu katering yang cocok harganya." Karena sejatinya, kebahagiaan itu kamu yang tentuin sendiri, bukan ditentukan oleh status di KTP. Menikah itu soal kualitas hubungan, bukan soal seberapa cepat kamu bisa pamer cincin di jari manis. Jalani aja hidupmu, nikmati prosesnya, dan jangan lupa bahagia, entah itu sendirian atau berdua.