Senin, 24 Agustus 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Berawal dari Kreativitas Pemuda, TFC Siap Gelar Pagelaran ke-6 untuk Lestarikan Budaya Nusantara

Ach. Mukrim - Monday, 24 August 2026 | 06:52 AM

Background
Berawal dari Kreativitas Pemuda, TFC Siap Gelar Pagelaran ke-6 untuk Lestarikan Budaya Nusantara
Pendiri dan Ketua Panitia TFC saat Talk show di Radio Salsabilafm. (Dok.Salsabilafm/)

salsabilafm - Persiapan pelaksanaan Tambelangan Fashion Carnival (TFC) #6 terus dimatangkan. Hingga Senin (24/8/2026), persiapan event tahunan tersebut telah mencapai sekitar 75 persen.


Ketua Panitia TFC #6, Muhammad Badar, mengatakan, seluruh seksi kepanitiaan saat ini mulai bekerja sesuai tugas masing-masing. Panitia juga masih melakukan finalisasi sejumlah kebutuhan visual dan teknis untuk memastikan pelaksanaan TFC #6 berjalan maksimal.


"Per hari ini persiapan TFC 6 sudah mencapai 75 persen. Semua seksi setiap hari sudah bekerja dan mempersiapkan tugas masing-masing," ujar Muhammad Badar dalam talk show di Radio Salsabila FM, Senin (24/8/2026). 




Dia menjelaskan, panitia juga telah menggelar technical meeting bersama para peserta yang berasal dari Madura maupun sejumlah daerah di luar Madura.


Pada penyelenggaraan tahun ini, TFC mengusung tema "Nusantara Heritage". Tema tersebut dipilih sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya Nusantara yang dinilai mulai terlupakan oleh generasi muda.




Menurut Badar, konsep tersebut nantinya akan diterapkan dalam kostum yang ditampilkan para peserta. Peserta dari Madura akan mengangkat budaya Madura, sementara peserta dari daerah lain akan membawa identitas budaya daerah masing-masing.


"Yang dari Solo, Mojokerto, Sidoarjo, kita bawa adat mereka untuk ditampilkan di TFC 6 ini. Harapannya, hal-hal yang hampir dilupakan oleh pemuda kita bisa kembali diingat melalui kostum masing-masing," jelasnya.


Dari sisi peserta, antusiasme masyarakat terhadap TFC disebut masih cukup tinggi. Hingga saat ini, jumlah peserta telah mendekati 60 peserta. Jumlah tersebut diharapkan terus bertambah dan setidaknya menyamai capaian TFC #5 yang diikuti sekitar 68 peserta.




Peserta TFC #6 tidak hanya berasal dari Kabupaten Sampang, tetapi juga dari empat kabupaten di Madura serta sejumlah daerah di luar Madura, di antaranya Mojokerto, Sidoarjo, dan Solo.


Badar menilai tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa TFC telah memiliki daya tarik tersendiri dan berpotensi menjadi ikon kegiatan tahunan.




Lebih dari sekadar pertunjukan fashion, TFC juga diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda, khususnya pemuda Kecamatan Tambelangan, untuk belajar berorganisasi, berproses, berkarya, serta menunjukkan kemampuan dalam menyelenggarakan sebuah event berskala besar.


"Kenapa dipertahankan sampai saat ini? Kita ingin melibatkan pemuda yang ada di Kecamatan Tambelangan untuk berproses dan memberikan kesempatan menampilkan kemampuan mereka dalam membuat event sebesar TFC," katanya.


Dia berharap, TFC dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang dan semakin berkembang. Bahkan, panitia berharap seluruh pemuda Tambelangan dapat bergabung dalam satu wadah untuk bersama-sama membangun kegiatan kepemudaan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan TFC.




"Harapannya semua pemuda Tambelangan bergabung dengan kita, bersatu dalam satu wadah yang memberikan kesempatan kepada semua pemuda untuk berproses. Semoga pelaksanaan TFC berikutnya lebih baik lagi daripada tahun-tahun sebelumnya," pungkasnya.


TFC Berawal dari Event Agustusan




Sementara itu, pembina sekaligus pencetus dan pendiri TFC, Amirruzi, menceritakan perjalanan event tersebut sejak pertama kali digelar pada 2018.


Menurutnya, TFC bermula dari inisiatif sejumlah pemuda yang bersatu untuk membuat sebuah event fashion yang berbeda. Pada penyelenggaraan pertama, kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Forum Kecamatan Tambelangan dan digelar pada siang hari.


"TFC itu berdiri pada tahun 2018. Ada beberapa pemuda yang memang bersatu dan mendirikan event ini. Waktu itu kita didukung Forkopimcam Tambelangan dan TFC pertama digelar siang hari. Alhamdulillah sukses besar," ungkap Amirruzi.




Kesuksesan penyelenggaraan pertama membuat antusiasme masyarakat semakin tinggi. Pada 2019, TFC kembali digelar dan jumlah pesertanya semakin bertambah.


Namun, penyelenggaraan TFC sempat terhenti selama dua tahun akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021. Event tersebut kemudian kembali digelar pada 2022 dan terus berkembang hingga sekarang.




Amirruzi menjelaskan, ide awal TFC sebenarnya muncul dari agenda perlombaan dalam rangka memperingati Agustus. Saat itu, pihak penyelenggara ingin membuat konsep fashion yang berbeda dengan memanfaatkan ruang terbuka dan jalan raya.


Konsep tersebut kemudian terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval (JFC). Dari situlah lahir konsep Tambeleng Fashion Carnival yang tidak sekadar menjadi karnaval biasa, tetapi mengedepankan fashion dan budaya.


"Awalnya hanya untuk mengisi perlombaan Agustusan. Karena ada lomba fashion, kita ciptakan konsep ini. Tapi semakin ke sini antusias masyarakat luar biasa. Akhirnya kita berpikir bagaimana meningkatkan event ini sekaligus menjadi wadah untuk mengkampanyekan dan mengangkat budaya," tuturnya.




Seiring perkembangannya, TFC tidak hanya menjadi ajang pertunjukan kostum. Event tersebut juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas, khususnya di bidang fashion dan desain.


Pada penyelenggaraan sebelumnya, TFC bahkan pernah mengangkat tema "Sampang Etnik" yang bertujuan memperkenalkan serta mengangkat budaya Kabupaten Sampang. Kostum-kostum yang ditampilkan para peserta mengadopsi berbagai unsur budaya daerah tersebut.




Menurut Amirruzi, keberadaan TFC memberikan dampak kepada sejumlah sektor masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, desainer, hingga masyarakat yang memiliki keterampilan membuat kostum.


"Banyak dampak ke masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, para desainer dan masyarakat, khususnya di Tambelangan, yang memang punya keahlian di bidang fashion. Mereka merasa bakatnya terwadahi di sini," katanya.


Bahkan, kostum yang dibuat untuk TFC tidak berhenti digunakan setelah event selesai. Sejumlah kostum kemudian disewakan untuk kegiatan di kecamatan lain, termasuk hingga wilayah Bangkalan.




Kondisi tersebut membuka peluang ekonomi bagi para pembuat kostum. Amirruzi menyebut, sejumlah kostum bahkan disewa dengan harga mencapai jutaan rupiah.


"Bahkan ada kostum yang disewa kecamatan-kecamatan lain. Ada yang sampai dua juta, tiga juta rupiah. Ini menjadi cuan juga bagi desainer dan pembuat kostum," ujarnya.




Selain itu, tingginya jumlah masyarakat yang hadir dalam pelaksanaan TFC juga memberikan keuntungan bagi pelaku UMKM karena terjadi peningkatan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi kegiatan.


Menjaga Budaya Nusantara


Amirruzi menegaskan, semangat utama TFC ke depan tetap diarahkan pada pelestarian budaya Nusantara. Menurutnya, kekayaan budaya Indonesia sangat beragam dan sayang apabila semakin ditinggalkan oleh generasi muda.




Karena itu, melalui TFC, pihaknya ingin memberikan ruang kepada pemuda untuk mengenal, mencintai, sekaligus menampilkan kembali budaya Indonesia dalam bentuk yang kreatif dan kekinian.


"Intinya tetap mengangkat budaya Nusantara. Banyak pemuda sekarang sudah mulai meninggalkan budaya kita. Padahal sayang sekali, budaya kita indah dan sangat bagus kalau ditinggalkan," tegasnya.




Dia berharap, penyelenggaraan TFC dari tahun ke tahun semakin berkembang, baik dari sisi peserta, kreativitas maupun dampaknya bagi masyarakat.


Sebagai pembina sekaligus salah satu pencetus TFC, Amirruzi juga berharap generasi muda tetap menjunjung tinggi dan mencintai budaya sendiri melalui berbagai kreativitas.


"Harapan kita ke depan pagelaran TFC ini semakin hari dan semakin tahun semakin meningkat, dan pemudanya tetap menjunjung tinggi serta mencintai budaya kita sendiri," pungkasnya. (Mukrim)