Minggu, 23 Agustus 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Kemarau Ekstrem Jadi Berkah, Harga Tembakau Sampang Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

Ach. Mukrim - Sunday, 23 August 2026 | 07:00 AM

Background
Kemarau Ekstrem Jadi Berkah, Harga Tembakau Sampang Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
Petani tembakau lagi mengolah tembakau. (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Kemarau ekstrem yang terjadi saat ini menjadi berkah tersendiri bagi petani tembakau di Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Sebab, sinar matahari meningkatkan kualitas daun tembakau bahkan harganya naik dibandingkan tahun lalu.


Salah satu petani tambakau di Desa Dulang, Kecamatan Sokobanah, Lutfi mengatakan, panas ekstrem yang terjadi saat ini membuat daun tembakau tumbuh lebar, tebal dan padat. 


Warna daun juga menjadi hijau karena mendapat cahaya matahari yang cukup. Tak hanya itu, panas matahari yang semakin terik juga membuat kualitas daun tembakau lebih bagus dan memiliki nilai jual yang tinggi.




"Tentu kami sangat senang kalau kemarau seperti ini, tembakau bisa tumbuh subur," katanya, Minggu (23/8/2026). 


Pada musim panen ini, dia dan petani setempat bisa memanen daun lebih banyak. Setelah dipanen, daun itu akan dirajang dan dijemur di lahan depan rumahnya.




"Alhamdulillah, sekarang menjemur bisa lebih singkat, tiga hari sudah kering jadi kualitasnya lebih bagus," ucapnya


Kondisi panas ini, menurutnya lebih baik dibandingkan tahun lalu. Sebab, pada tahun 2025 tembakau miliknya susah kering. Bahkan tak sedikit tembakau menjadi rusak akibat hujan yang datang mendadak pada musim kemarau basah tahun lalu.


"Kalau tahun lalu, harganya anjlok. Sekilo daun rajangan kering hanya dibeli Rp 30 ribu," jelasnya. 




Dia bersyukur pada musim kemarau tahun ini harga rajangan daun tembakau kering bisa mencapai Rp70.000 per kilo. 


"Sekarang harga sekitar Rp60 ribu sampai Rp70 ribu per kilonya. Alhamdulillah, ini menjadi berkah bagi kami," tuturnya.




Dia mengaku, pada musim panen kali ini, lahan pertanian miliknya bisa memproduksi tembakau kering mencapai 200 kilogram dengan hasil sekitar Rp 14 juta. 


"Ya sekali panen memang banyak, tapi itu nanti dibagi dengan pekerja lain. Kita kan tidak kerja sendiri," pungkasnya. (Mukrim)