Jumat, 6 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Belanja Online: Dari Diskon Menjadi Kecanduan 30 Menit

Redaksi - Thursday, 05 February 2026 | 09:05 AM

Background
Belanja Online: Dari Diskon Menjadi Kecanduan 30 Menit
Belanja Online: Dari Diskon Menjadi Kecanduan 30 Menit ( Istimewa/)

Kecanduan Belanja Online: Lebih Dari Sekadar Klik

Siapa sih yang belum pernah tergoda dengan tampilan produk yang menawan, diskon gede, atau "flash sale" yang muncul hanya selama 30 menit? Di era digital, berbelanja lewat aplikasi sudah jadi bagian dari rutinitas harian, apalagi kalau kamu suka nongkrong di medsos sambil scroll. Tapi, pernahkah kamu bertanya, kapan suka belanja online berubah jadi kecanduan? Yuk, kita telusuri bersama.

Gimana Bisa Jadi Kecanduan?

Bayangkan kalo kamu punya sebuah "tabung" kecil di laptop atau smartphone. Di dalamnya berisi: foto produk, harga, rating, dan satu tombol "Beli". Setiap kali kamu mengklik tombol itu, otakmu memproduksi dopamine, zat kimia yang bikin kamu merasa senang. Sekali kamu merasakannya, kamu langsung ngerasa "nggak tahan" kalau tidak lagi klik.

Proses ini mirip sama adiksi ke alkohol atau rokok. Kamu mulai dengan sekadar klik demi klik, lalu "just hit the button" berkat rasa penasaran. Setelah itu, tiap detik kosong di jam kerja atau di sore hari, layar kamu menjadi satu-satunya outlet untuk rasa senang itu. Gak heran kalau banyak orang yang merasa "kejar kecepatan" ketika iklan flash sale, seakan-akan mereka berkompetisi untuk tidak ketinggalan.

Dengungnya Dampak Kecanduan Belanja Online

  • Ekonomi Pribadi: Akumulasi tagihan tidak pernah berakhir. Setiap bulan, kartu kredit menunggu di depan kamar, menunggu nomor rekening yang sudah lama dihapus.
  • Hubungan Sosial: Kalo kamu lebih banyak "chat" di aplikasi belanja, mungkin teman-temanmu mulai merasa dijauhkan. Ada kalanya kamu tidak mau keluar rumah, malah lebih suka tetap di sofa sambil scrolling.
  • Kesehatan: Postur yang buruk, mata kering, dan bahkan insomnia karena tetap berada di depan layar. "Bukan karena telat tidur, tapi karena kamu masih menunggu notifikasi masuk."
  • Emosional: Setelah setiap transaksi, rasa puas bersifat sementara. Kemudian muncul kekecewaan karena barang tidak sesuai, atau bahkan rasa bersalah karena uang yang terbakar.

Ciri-Ciri Kecanduan Belanja Online

Berikut beberapa tanda yang sering diabaikan, padahal itu sudah pertanda kecanduan:

  • Mengejar penawaran "yesterday's sale" yang sebenarnya sudah habis.
  • Berusaha "tunda" pembayaran lewat sistem "pay later" sampai semua kartu kredit terjual habis.
  • Berhenti menolak pengiriman barang yang tidak pernah dikatakan diperlukan.
  • Rasa panik bila tidak ada waktu atau akses internet.
  • Mengurangi aktivitas fisik demi menghabiskan waktu lebih lama di aplikasi.

Contoh Cerita Nyata

Ketika aku bertemu Dian di kafe, dia mengisahkan tentang "The Great Sale" yang membuatnya membeli 12 barang sekaligus. "Dah, udah dapet semua diskon, kan?" kata Dian sambil menunjukkan list belanja di handphone. "Nih, ternyata barangnya 3x lebih mahal dari harga normal." Aku terkejut, karena Dian baru saja menghabiskan setengah dari tabungan sebulan. Ia menyesal karena tidak pernah memikirkan berapa lama waktunya di depan layar.

Dia mengaku, "Satu kali beli, gini, saya nunggu notifikasi. Kalau gak ada, saya malah nunggu terus." Sejak itu, Dian berusaha membuat jadwal belanja yang terkontrol, setidaknya satu kali dalam seminggu.

Strategi Mengatasi Kecanduan Belanja Online

Berikut beberapa cara yang bisa kamu coba:

  • Waktu Batas: Tetapkan batas waktu harian (misal 30 menit) untuk browsing belanja.
  • Daftar Prioritas: Buat daftar kebutuhan yang sesungguhnya, lalu cek sebelum memutuskan membeli.
  • Nonaktifkan Notifikasi: Matikan "push notification" yang berulang. Dengan begitu, kamu tidak akan terangsang lagi.
  • Temukan Hobi Lain: Alihkan energi ke olahraga atau hobi yang tidak memerlukan gadget.
  • Kelola Keuangan: Gunakan aplikasi budgeting. Lihat berapa banyak uang yang sudah keluar setiap kali belanja online.

Peran Media Sosial dan Iklan

Siapa yang tidak pernah terpengaruh oleh influencer yang memamerkan gadget terbaru? Iklan yang memakai teknik "limited edition" atau "one-day flash" memberi kesan "kamu harus beli sekarang, atau nanti ketinggalan." Ini seperti game yang memicu adrenalin. Maka, penting bagi konsumen untuk menjadi kritis, tidak semata-mata mengikuti tren.

Kesimpulan

Belanja online memang praktis. Tapi, tanpa kendali, ia bisa berubah menjadi monster yang memaksa kamu terus berbelanja. Jika kamu merasa tidak bisa menahan diri, coba deh terapinya. Jangan sampai "click" menjadi "crash" bagi kehidupanmu. Ingat, hidup itu tidak hanya tentang koleksi barang, tapi juga tentang pengalaman, kenangan, dan hubungan manusia. Jadi, kapan kamu pertama kali sadar bahwa kamu sudah berbelanja di luar batas? Bagikan cerita kamu, siapa tahu orang lain bisa belajar dari pengalamanmu.