Tips Menghadapi Drama Wacana Bukber Agar Jadi Kenyataan
Redaksi - Tuesday, 17 March 2026 | 04:49 AM


Bukber: Antara Ritual Silaturahmi atau Sekadar Lomba Adu Gengsi dan Wacana?
Ramadan kembali menyapa, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, fenomena yang satu ini pasti muncul ke permukaan melebihi semangat berburu takjil di pinggir jalan. Apalagi kalau bukan Buka Puasa Bersama, atau yang lebih akrab kita sebut dengan istilah Bukber. Bagi sebagian orang, bukber adalah momen suci untuk menyambung tali silaturahmi yang sempat kendor. Tapi bagi sebagian lainnya, bukber adalah medan perang mental yang penuh dengan drama, wacana, dan pamer pencapaian terselubung.
Mari kita jujur saja, agenda bukber biasanya dimulai dengan sebuah notifikasi di grup WhatsApp yang sudah mati suri selama setahun. Tiba-tiba ada satu orang yang merasa paling visioner melemparkan kalimat keramat: "Guys, bukber yuk? Mumpung masih awal puasa." Kalimat ini biasanya diikuti oleh sederet emoji tangan menjulur atau tanda setuju dari anggota grup lainnya. Namun, jangan senang dulu. Di sinilah letak jebakannya. Dari seratus orang yang bilang "ikut!", biasanya hanya lima orang yang benar-benar muncul di lokasi pada hari H.
Seni Mengelola Wacana dan Drama Grup WhatsApp
Kalau ada olimpiade untuk kategori "Wacana Terlama", mungkin panitia bukber di Indonesia akan selalu menyabet medali emas. Menentukan tanggal bukber itu lebih sulit daripada menentukan hilal. Si A bisanya tanggal genap, si B cuma bisa akhir pekan, si C bilang "ikut aja" tapi nggak pernah ngasih kepastian, dan si D adalah tipe ghosting yang baru muncul saat makanan sudah habis dipesan. Belum lagi kalau sudah bicara soal lokasi. Yang satu pengen makan cantik di mall demi konten Instagram, yang satu lagi pengen makan di warung tenda biar dompet nggak menjerit.
Fenomena wacana ini sebenarnya menarik untuk dibedah secara psikologis. Kita seringkali merasa bersalah kalau menolak ajakan bukber secara langsung, jadi kita memilih untuk bilang "boleh deh" padahal dalam hati sudah tahu kalau jadwal kita sudah penuh sampai Lebaran monyet. Akhirnya, bukber seringkali berakhir menjadi mitos urban yang hanya dibicarakan tapi jarang direalisasikan secara utuh.
Bukber Sebagai Ajang Pamer Terselubung
Setelah melewati badai perdebatan di grup, tibalah saatnya hari pelaksanaan. Bagi anak muda masa kini, bukber bukan sekadar membatalkan puasa bersama. Ini adalah panggung sandiwara kecil. Coba perhatikan, banyak orang yang menyiapkan outfit bukber lebih niat daripada persiapan tarawih. Kenapa? Karena bukber adalah momen reunian terselubung. Di sana kita akan bertemu kawan lama yang mungkin sudah sukses, sudah menikah, atau setidaknya sudah punya kulit lebih glowing daripada kita.
Obrolan di meja makan pun perlahan bergeser. Kalau dulu jaman sekolah kita bahas PR atau gosip guru, sekarang bahasannya sudah naik level: "Sekarang kerja di mana?", "Kapan nikah?", atau "Eh, mobil baru ya?". Kadang-kadang, esensi silaturahmi terkubur di bawah tumpukan pertanyaan basa-basi yang sebenarnya malas kita jawab. Alih-alih merasa kenyang dan bahagia, pulang bukber malah merasa insecure karena merasa hidup jalan di tempat sementara teman-teman yang lain sudah lari maraton.
Ironi di Balik Meja Makan
Ada satu pemandangan yang selalu menggelitik setiap kali saya ikut bukber di kafe atau restoran hits. Begitu azan magrib berkumandang, ritual pertama yang dilakukan bukan minum air putih atau makan kurma, melainkan memotret makanan dari berbagai sudut. Kamera HP harus menangkap estetika piring sebelum disentuh sendok. Setelah itu, semua orang sibuk mengunggah story dengan caption "Quality time" atau "Silaturahmi tetap terjaga".
Lucunya, setelah foto diunggah, meja makan yang tadinya ramai tiba-tiba jadi sunyi. Semua orang asyik dengan dunia masing-masing di dalam layar smartphone. Mereka sibuk membalas komentar atau sekadar scroll timeline untuk melihat siapa lagi yang sedang bukber di tempat yang lebih mewah. Kita seringkali melupakan orang yang ada di depan mata hanya untuk menyenangkan orang-orang yang ada di dunia maya. Inilah paradox bukber modern: dekat di media sosial, namun terasa asing saat duduk berhadapan.
Sisi Positif yang Tetap Layak Diperjuangkan
Meskipun penuh dengan keribetan dan drama, saya tidak bermaksud bilang kalau bukber itu buruk. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial yang butuh interaksi nyata. Di tengah rutinitas kerja yang bikin burnout, bertemu teman lama dan menertawakan kekonyolan masa lalu adalah obat yang cukup manjur. Ada rasa hangat yang tidak bisa digantikan oleh chat singkat ketika kita bisa tertawa lepas bersama orang-orang yang pernah menjadi bagian dari sejarah hidup kita.
Bukber juga menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kita melihat teman kita yang dulu pendiam sekarang jadi bos besar, atau teman yang dulu paling bandel sekarang jadi ayah yang telaten. Ada pelajaran hidup yang bisa kita petik dari setiap pertemuan tersebut, asalkan kita mau meletakkan HP sejenak dan benar-benar mendengarkan cerita mereka.
Tips Biar Bukber Nggak Sekadar Wacana dan Pamer
Agar bukber tahun ini lebih berkualitas dan nggak bikin kantong jebol, ada beberapa hal yang bisa dicoba. Pertama, jangan terlalu ambisius mengumpulkan semua orang dalam satu waktu. Kelompok kecil biasanya lebih efektif dan obrolannya lebih dalam. Kedua, pilihlah tempat yang manusiawi. Nggak perlu restoran mewah kalau ujung-ujungnya cuma bikin kita stres mikirin parkir dan antrean yang panjangnya kayak antrean bansos.
Ketiga, dan yang paling penting: kurangi penggunaan HP saat makanan sudah tersaji. Nikmati setiap suapan, nikmati setiap candaan, dan hargai kehadiran orang lain di meja tersebut. Karena pada akhirnya, yang kita kenang bukan rasa makanannya atau berapa banyak like di postingan kita, melainkan rasa kebersamaan yang tulus.
Jadi, gimana? Sudah berapa undangan bukber yang masuk ke WhatsApp kamu minggu ini? Ingat, bukber itu buat nyambung silaturahmi, bukan buat nambah cicilan atau sekadar pamer filter Instagram. Selamat menikmati riuhnya meja makan, dan semoga bukbermu tahun ini bukan sekadar wacana abadi.
Next News

Rahasia Menghadapi Tanggung Jawab di Usia Dewasa
in 2 hours

Tips Tetap Tenang Meski Hari Terasa Berat dan Menyebalkan
in 2 hours

Perasaan Sedih Datang Tanpa Alasan? Simak Penjelasannya
in 2 hours

Mengapa Taubat Adalah Refresh Terbaik bagi Kesehatan Mental
in 2 hours

Mengapa Kita Spontan Menggerakkan Tubuh Saat Mendengar Irama
in 2 hours

Pagi Berantakan? Ini Panduan Biar Tetap Produktif dan Fokus
in 2 hours

Stigma Game Berubah Dari Buang Waktu Jadi Healing
in 2 hours

Mengapa Kita Merasa Sepi Saat Sedang Nongkrong Bareng Teman?
in 2 hours

Kenapa Lari Mendadak Jadi Olahraga Paling Keren Saat Ini?
in 2 hours

Nostalgia Masa Kecil Saat Beban Terberat Hanyalah PR Sekolah
in 2 hours





