Mengenal To'-Oto', Tradisi Masyarakat Madura yang Memuat Nilai Persaudaraan
Ach. Mukrim - Sunday, 21 June 2026 | 05:40 AM


salsabilafm.com - Di tengah perkembangan zaman yang terus mengubah pola kehidupan masyarakat, sejumlah tradisi lokal di Madura masih bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satunya adalah To'-Oto' atau yang dikenal dengan nama asli Tokkoto. Tradisi ini tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga mengandung nilai persaudaraan, gotong royong, dan persatuan yang kuat.
Budayawan Sampang, R. Tumenggung Bustomi Irwan Kurniadi Jati Budoyo, menjelaskan, istilah Tokkoto berasal dari tradisi komunikasi personal yang dilakukan secara pelan atau "bisik-bisik".
Menurutnya, istilah ini mencerminkan adanya hubungan internal yang sangat akrab, intens, dan dekat antaranggota masyarakat, mengingat aktivitas berbisik hanya mungkin dilakukan dalam jarak yang dekat.
"Makna Tokkoto tidak sekadar merujuk pada cara berkomunikasi, melainkan menggambarkan kedekatan emosional yang terjalin kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Madura," katanya, Minggu (21/6/2026).
Bustomi mengungkapkan, seiring berjalannya waktu, makna "bisik-bisik" tersebut kemudian diwujudkan dalam simbol kuliner yang menjadi bagian dari tradisi To'-Oto'. Salah satunya melalui hidangan khas bernama seronding, yang berbahan dasar biji kacang panjang atau dalam bahasa Madura disebut otok.
Hidangan tersebut terdiri dari biji kacang panjang putih yang digoreng dan dipadukan dengan berbagai bumbu, mulai dari rasa pedas merica dan cabai, manis gula merah, hingga sentuhan rasa asam.
Menurut Bustomi, seronding memiliki filosofi mendalam tentang kebersamaan. Biji-bijian yang awalnya tercerai-berai dipersatukan dalam satu wadah untuk kemudian dinikmati bersama.
"Maknanya adalah kedekatan dan persatuan. Sesuatu yang terpisah kemudian dipersatukan untuk dinikmati bersama," ujarnya.
Dalam tradisi To'-Oto' masa lalu, masyarakat juga menyajikan jajanan tradisional berupa tetel berwarna putih dan wajik berwarna merah. Kombinasi warna merah dan putih tersebut menjadi simbol persatuan yang diyakini telah diwariskan sejak masa kerajaan-kerajaan besar Nusantara, seperti Singasari, Kediri, dan Majapahit.
"Melalui berbagai simbol kuliner itu, masyarakat Madura tidak hanya melestarikan tradisi makan bersama, tetapi juga menjaga nilai-nilai persatuan yang telah hidup selama berabad-abad," ungkapnya.
Dia memaparkan, selain memiliki makna filosofis, To'-Oto' juga berkembang menjadi sebuah perkumpulan sosial yang dikenal luas di kalangan masyarakat Madura. Tradisi ini biasanya digelar ketika seseorang memiliki hajatan, seperti pernikahan atau acara keluarga lainnya.
Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari remaja, tokoh masyarakat, kepala desa, pejabat, sesepuh, hingga masyarakat umum. Bahkan, sebagian peserta berasal dari luar daerah yang tetap menjaga hubungan sosial dengan komunitasnya di Madura.
Salah satu ciri khas To'-Oto' adalah tradisi memberikan sejumlah uang kepada tuan rumah. Nominalnya tidak ditentukan dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota.
Pemberian tersebut dicatat sebagai bentuk dukungan kepada penyelenggara acara. Ketika pemberi bantuan menggelar hajatan serupa di kemudian hari, bantuan itu akan dikembalikan dengan jumlah yang sama atau bahkan lebih besar.
"Sistem tersebut telah lama menjadi bentuk gotong royong ekonomi yang membantu masyarakat dalam menyelenggarakan berbagai kebutuhan sosial dan keluarga," terang Bustomi.
Dia mengatakan, To'-Oto' telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Madura. Menurut dia, suasana keakraban selalu menjadi ciri utama dalam setiap pelaksanaan To'-Oto'.
"Setiap ngumpul di To'-otok, mereka saling bercengkrama sambil makan kacang, pisang, minum kopi, dan jajanan lainnya. Itu sudah menjadi ciri khasnya," katanya.
Berbagai topik menjadi bahan perbincangan para peserta, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga persoalan sosial kemasyarakatan. Meski demikian, pertemuan tersebut tetap berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Tak hanya menjadi ruang interaksi sosial, To'-Oto' juga kerap dimeriahkan oleh pertunjukan seni tradisional Sandur. Kesenian rakyat itu menghadirkan musik dan tarian yang semakin memperkuat nuansa kebersamaan dalam setiap pertemuan.
"Selain menambah relasi, To'Otok juga semakin semarak dengan kesenian Sandur. Ada yang berbincang, ada pula yang menari diiringi musik tradisional," ujarnya.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Madura berharap tradisi To'-Oto' tetap dipahami sebagai ruang mempererat persaudaraan, bukan semata-mata ajang saling membalas pemberian uang.
"Sesama orang Madura harus saling mendukung. Apa pun situasi dan kondisinya, tetap bersaudara. Bahasanya sama dan hidup di pulau yang sama," tuturnya.
"Tradisi To'-Oto' menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya hadir dalam bentuk ritual atau simbol semata, tetapi juga hidup melalui nilai gotong royong, solidaritas, dan persaudaraan yang terus dijaga dari generasi ke generasi," pungkas Bustomi. (Mukrim)
Next News

Ponpes Assirojiyyah Kajuk Sampang Kembali Latih Santri Tangguh Bencana
a day ago

Ribuan Warga Pulau Pagerungan Kecil Sumenep Segera Nikmati Listrik
a day ago

Nelayan Pamekasan Dilaporkan Hilang, Tim Gabungan Lakukan Pencarian
a day ago

Ari Adriansyah Sampang Lolos Top 42 D'Academy 8, Dapat 3 SO dari Juri
a day ago

Ormas Gaib Desak PLN Benahi Tiang Miring dan Tegangan Turun
a day ago

MUI Sampang Minta DPRD Dukung RUU Pidana LGBT Masuk Prolegnas
a day ago

Marak Kasus Dugaan Kekerasan Seksual, MUI Sampang: Fenomena Gunung Es
a day ago

Pengawasan Program MBG di Sampang Diperketat, Wabup: Penindakan Kewenangan BGN Pusat
a day ago

PCNU Sampang Salurkan Air Bersih ke 4 Desa Terdampak Kekeringan di Karang Penang
a day ago

PCNU Sampang Gelar Silaturahim dan Istighotsah Sambut Muktamar NU ke-35
a day ago




