Sabtu, 21 Maret 2026
Salsabila FM
Life Style

Kenapa Orang Suka Pamer di Sosial Media

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 09:25 AM

Background
Kenapa Orang Suka Pamer di Sosial Media
Kenapa Orang Suka Pamer di Sosial Media ( Istimewa/)

"Pamer" di Media Sosial: Apakah Itu Sebenarnya? 

Siapa yang belum pernah "scroll" feed Instagram atau TikTok sampai lampu sorot jatuh pada postingan seseorang yang seolah‑olah hidupnya sudah sempurna? Foto liburan di Bali, selfie di kafe dengan filter berwarna cerah, atau video dance yang menampilkan pakaian terbaru dari brand ternama. Semua itu seringkali diikuti komentar berkilau "Waw, cantik banget!" atau "Pasti mahal dong!" Sejak lama, budaya pamer di media sosial sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari cara orang berinteraksi online. Tetapi, apa sebenarnya yang berada di balik kilau "likes" dan komentar tersebut? Mari kita telusuri lebih dalam.

Motif di Balik Pamer: Pengakuan dan Validasi

Bayangkan sejenak ketika kamu membuka akun media sosialmu dan menemukan jumlah "likes" turun drastis. Apakah itu membuatmu merasa "kekurangan"? Untuk sebagian orang, jawaban sederhananya "ya" adalah cukup. Pamer menjadi cara untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dalam psikologi, kebutuhan ini disebut sebagai kebutuhan akan validasi eksternal. Seseorang yang memiliki self‑esteem (harga diri) rendah cenderung mengandalkan "likes" dan komentar sebagai patokan apakah dirinya dihargai atau tidak.

Self‑Esteem Rendah dan Kebocoran Keyakinan Diri

Ketika rasa percaya diri terbatas pada angka statistik di layar, orang mulai memanipulasi konten yang diposting. Mereka mencari foto yang menonjolkan "kualitas" mereka—bukan kualitas intrinsik seperti kebaikan hati atau bakat, tapi kualitas yang mudah diukur: harganya, berapa orang yang mengikutinya, atau seberapa banyak "followers". Ini menjadi siklus adiktif: semakin banyak "likes", semakin mereka merasa baik, dan semakin mereka berusaha menambah jumlah tersebut.

Perbandingan Sosial dan Standar Tidak Realistis

Perbandingan sosial—membandingkan diri dengan orang lain—adalah komponen utama perilaku pamer. Dengan melihat profil teman atau influencer, kita sering menilai diri kita sendiri berdasarkan standar yang tidak realistis. Seringkali, "kehidupan ideal" yang ditampilkan hanyalah potongan-potongan terpilih. Kita lupa bahwa di balik setiap postingan ada cerita yang lebih kompleks, dan setiap orang memiliki tantangan yang tidak terlihat.

Karakteristik Psikologis yang Menjadi "Signature" Pamer

  • Narsisme: Kebiasaan memandang diri sendiri sebagai pusat perhatian.
  • Kebutuhan akan Perhatian: Selalu mencari respon atau komentar.
  • Ekstraversi Tinggi: Kesukaan untuk berbagi dan berbicara, baik secara online maupun offline.

Ketiganya berperan penting dalam membentuk pola pamer. Tidak semua orang yang bersifat ekstravert menjadi "pameran" di media sosial, namun ketika dipadukan dengan narsisme, kebutuhan perhatian bisa menjadi sangat kuat.



Pengaruh Teman Sebaya dan Budaya "Fleek"

Di dunia digital, "fleek" adalah istilah yang menandakan sesuatu yang terlihat sempurna. Budaya ini mendorong individu untuk menyesuaikan diri agar tidak tertinggal. Teman sebaya dapat menjadi penguat bagi perilaku pamer: jika teman sering memamerkan status mereka, mereka juga merasa terpaksa mengikuti jejak tersebut. Hasilnya, kita masuk ke dalam "social media treadmill" yang tak pernah berhenti.

Dampak Negatif yang Tidak Boleh Diabaikan

Berikut ini beberapa dampak negatif yang sering muncul akibat perilaku pamer berlebihan:

  • Kecemasan dan Depresi: Ketergantungan pada "likes" dapat meningkatkan stres ketika angka tidak sesuai harapan.
  • Ketergantungan Sosial Online: Kehidupan offline bisa terganggu karena fokus pada dunia maya.
  • Hubungan Reasai Menurun: Interaksi tatap muka bisa terasa tidak cukup penting dibandingkan interaksi digital.

Jika dampak ini sudah mulai terasa, penting bagi individu untuk menilai kembali cara mereka menggunakan media sosial.

Strategi Mengurangi Pamer dan Meningkatkan Kesehatan Mental

Ada beberapa cara sederhana yang dapat membantu meminimalisir perilaku pamer tanpa harus sepenuhnya menonaktifkan media sosial:

  • Refleksi Diri: Tanyakan pada dirimu sendiri, "Apakah saya posting ini karena benar-benar ingin berbagi, atau karena saya mencari validasi?"
  • Batasi Waktu Penggunaan: Gunakan fitur "Screen Time" di smartphone untuk mengontrol berapa lama kamu berada di aplikasi.
  • Fokus pada Nilai Intrinsik: Fokus pada kebahagiaan pribadi, hubungan nyata, dan pencapaian tujuan yang realistis.
  • Praktik Gratitude: Selalu catat hal-hal yang kamu syukuri setiap hari. Ini membantu mengalihkan perhatian dari keinginan material.
  • Setting Goals Realistis: Buat rencana yang dapat dicapai tanpa memerlukan "likes".

Ketika Pamer Menjadi Penyebab Stres

Jika kamu merasa stres atau cemas karena tekanan media sosial, mungkin sudah saatnya mencari dukungan profesional. Psikolog atau konselor dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan memberikan strategi coping yang lebih efektif. Tidak ada salahnya mencari bantuan—karena kesehatan mental itu penting, apalagi di era digital ini.



Kesimpulan

Pamer di media sosial seringkali tampak lucu atau bahkan menghibur, tapi di balik kilau "likes" tersembunyi kebutuhan akan pengakuan dan rasa tidak aman. Perilaku ini berpotensi menimbulkan kecemasan, depresi, dan mengurangi kualitas hubungan nyata. Dengan melakukan refleksi diri, meminimalisir ketergantungan pada validasi eksternal, serta menekankan nilai intrinsik, kita bisa lebih fokus pada kebahagiaan pribadi daripada status "online". Ingat, hidup tidak perlu dipantau di feed. Yang terpenting adalah bagaimana kita meresapi setiap detik dalam kehidupan nyata.